Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Rabu, 19 Oktober 2016

Ajaran Toleransi dan Kerukunan Antar Umat Beragama Dalam Islam

Dalam sosiologi masyarakat Islam saat ini, terdapat perbedaan pandangan terhadap masalah toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Hal ini disebabkan karena perbedaan sejarah, kondisi sosial di negara tempat kaum muslimin tinggal, aturan dan kesepakatan berbangsa dan aturan pemerintahannya.

Diantara maraknya pertikaian dan sengketa yang banyak terjadi di negeri ini pada dasawarsa terakhir ini, seperti penyerangan terhadap pengikut aliran dan mazhab tertentu, pembakaran gereja, atau penyerangan tempat ibadah umat lainnya. Kemudian timbul pertanyaan: Apakah Islam mengajarkan toleransi dan kerukunan antar umat beragama?

Dalam pandangan beberapa gelintir masyarakat Islam dewasa ini, terutamanya pada orang-orang yang memiliki pandangan Islam garis keras, menurut mereka Islam tidak mengajarkan toleransi atau menganjurkan kerukunan antar umat beragama. Sikap mereka cenderung intoleran, keras dan eksklusif, bagi mereka selama kita mengikuti dengan keras apa saja yang diajarkan dan diperintahkan dalam ajaran Islam menurut pemahaman mereka, maka itulah batas toleransi beragama menurut mereka.

Kalangan seperti mereka tersebut melarang orang Islam untuk bersahabat dengan orang-orang non-Islam berdasarkan pemahaman mereka atas ayat al-Quran berikut ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لاَ يَأْلُونَكُمْ خَبَالاً وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ
بَدَتْ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمْ الآياتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS 3:118)

Bagi mereka yang memiliki pandangan Islam garis keras tersebut, maka dalam perspektif pandangan mereka itu seluruh orang-orang non-muslim terutama orang-orang Yahudi dan Nasrani adalah musuh, karena mereka tidak senang dengan agama Islam, sebagaimana pemahaman mereka tentang ayat al-Quran berikut ini:
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى
وَلَئِنْ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنْ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنْ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS 2:120)

Bahkan mereka itu melarang kaum muslimin untuk memilih pemimpin seperti walikota, gubernur atau presiden dari kalangan non-muslim sebagaimana pemahaman mereka tentang ayat al-Quran dalam surat al-Maidah ayat 51.

Sehingga dengan fenomena pandangan seperti itu, kemudian muncullah pertanyaan tadi: Apakah Islam mengajarkan toleransi dan kerukunan antar umat beragama?

Sebenarnya pertanyaan yang sama tadi pernah dibahas dalam suatu pengajian, dan guru kita kemudian memberikan penjelasan yang kurang lebihnya adalah sebagai berikut ini.

Masyrakat Islam di Indonesia memiliki sejarah historis yang berbeda dengan masyarakat Islam di negara-negara lainnya, bahkan seperti di negara Arab. Dalam menyampaikan ajaran Islam saat itu, ada sekitar 27 kali peperangan yang harus dilalui oleh Rasullullah saw demi untuk mempertahankan keyakinan dan agama Islam yang dibawanya. Hal ini sangat berbeda dengan di Indonesia. Di sini tidak ada satu pun peperangan yang terjadi untuk mempertahankan agama Islam. Di Indonesia ajaran agama islam diterima dengan damai tanpa ada peperangan, sebagaimana bangsa ini telah meneriman ajaran agama Hindu dan Budha sebelumnya dengan cara-cara yang damai dan tidak ada peperangan agama.

Sehingga dengan berbekal kepada sejarah historis masyarakat Indonesia tersebut itulah, dan juga dengan melihat kondisi sosial dan pandangan hampir seluruh masyarakat di Indonesia, maka kemudian bangsa ini membuat suatu kesepakatan bersama yang kemudian tertuang dalam dasar negara kita yaitu Pancasila.

Dalam kesepakatan berbangsa itulah maka diatur hubungan dan toleransi antar umat beragama di Indonesia, sehingga masyarakat yang hidup di dalam negara tersebut bisa hidup rukun dan damai tanpa harus ada peperangan atau pergesekan. Setiap orang bebas dan dilindungi kehidupan beragamanya asalkan dia ber-Tuhankan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Apakah aturan toleransi dan kerukunan seperti ini sejalan dengan ajaran Islam?

Jawabannya: Ya. Karena memang Islam yang diajarkan oleh Rasullullah saw adalah agama yang mencintai kerukunan dan kedamaian hidup, bukan pertikaian dan peperangan. Memang Islam mengajarkan umatnya untuk menyampaikan dan mengajak kebenaran, namun demikian setelah itu Islam juga mengajarkan umatnya untuk menghormati keyakinan umat agama lain. Tidak ada paksaan dalam beragama, sesuai dengan firman Allah swt berikut ini.

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنْ الغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ
بِاللَّهِ فَقَدْ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 2:256)

Semasa hidupnya Rasullullah saw bergaul dan bertetangga dengan orang-orang non-muslim, dan beliau tidak pernah menunjukan sikap permusuhan atau menjaga jarak dan tidak toleran. Bahkan ketika Rasullah saw menerima delegasi orang-orang Nasrani dari Najran, beliau mempersilahkan mereka untuk melakukan ibadah misa di masjid Nabawi, karena memang saat itu belum ada gereja di Madinah. Ini adalah bukti bagaimana Rasullullah saw mengajarkan toleransi dan kerukunan umat beragama, tanpa ada paksaan dan tanpa ada pertikaian.

Mengapa Rasullullah saw bertindak dan bersikap seperti itu? Karena dalam keadaan yang damai dan penuh dengan suasana kerukunan seperti itu, Allah swt memerintahkan sikap seperti firman-Nya dalam al-Quran berikut ini.

لاَ يَنْهَاكُمْ اللَّهُ عَنْ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ
أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS 60:8)

Nah, kalau demikian halnya maka pemahaman kita terhadap ayat-ayat al-Quran seperti QS 3:118, atau QS 2:120 atau QS 5:51 di atas tadi adalah dalam konteks pertikaian dan perselisihan, bukan merupakan ayat yang berlaku dimana saja dan kapan saja. Dalam suasana damai Allah swt memerintahkan kita untuk berlaku adil terhadap orang-orang non-muslim, dan Rasullullah saw mencontohkan sikap yang ramah dan bersahabat terhadap umat dari agama lainnya.

Misalnya saja, apakah kalau seseorang menghasut Anda dengan mempergunakan dalil berikut ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنْ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (QS 9:123)

Maka kemudian dengan serta merta Anda akan memerangi orang-orang non-muslim di sekitar lingkungan Anda? Tidak begitu bukan? Karena Anda menyadari bahwa konteks ayat tersebut adalah berlaku dalam masa peperangan dan pertikaian yang terjadi di zaman Rasullullah saw dahulu, bukan dalam masa damai dan penuh kerukunan.

Di Amerika Serikat saat ini ada sekitar 3,3 juta umat Islam hidup dan tinggal di sana dan di Eropa ada sekitar 53 juta jiwa. Mereka bergaul dengan masyarakat yang mayoritasnya adalah non-muslim, mereka memiliki pemimpin negara yang non-muslim, memiliki pemimpin daerah yang non-muslim dan mereka juga memiliki pimpinan perusahaan tempat mereka bekerja yang non-muslim. Tidak ada masalah dengan pemimpin tersebut terhadap kehidupan beragama mereka.

Bahkan walikota London saat ini, Sadiq Khan adalah seorang muslim yang diangkat menjadi walikota dari suatu masyarakat yang mayoritasnya non-muslim. Tidak ada masalah dengan itu, bukan?

Dalam hal toleransi dan kerukunan antar umat beragama, Allah swt menyatakan dalam al-Quran sebagai berikut ini.
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللَّهَ وَلاَ نُشْرِكَ
بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS 3:64)

Nah, kalimat “tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun “ oleh para sesepuh dan pendiri negara kita terdahulu, kalimat dalam ayat di atas diterjemahkan menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Inilah kalimat(ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara umat Islam dan non-Islam di negeri ini. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 07.31