Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 29 Oktober 2016

Doa Adalah Kekuatan Utama Seorang Mukmin

Doa adalah sumber kekuatan dan senjata yang paling utama dari seorang mukmin, karena dengan meyakini bahwa ada kekuatan diri pribadi berupa perbuatan apa saja yang mampu dilakukan oleh tangannya, maka itu merupakan sebagian kecil dari bentuk syirik. Atau meyakini bahwa perkataan memiliki kekuatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan doa kepada Allah swt, itu juga merupakan sebagian kecil dari bentuk syirik.

Orang yang memandang apa yang dapat diperbuat oleh kedua belah tangannya adalah lebih kuat dari doa, atau memandang apa yang dapat diperbuat oleh perkataannya adalah lebih kuat dari doa, adalah bentuk lain dari selemah-lemahnya iman.

Ketika Rasullullah saw dahulu hijrah ke Thaif, dan kemudian penduduknya menolak serta mengusir beliau hingga beliau jatuh tersungkur dan berdarah-darah karena dilempari batu oleh para penduduk Thaif, maka apa yang dilakukannya? Beliau tidak kemudian serta merta mempergunakan tangannya untuk melawan, atau mempergunakan perkataannya untuk membalas teriakan dan cemoohan para penduduk Thaif waktu itu, akan tetapi apa yang dilakukan oleh seorang Rasul waktu itu ialah berdoa.

Ya berdoa, dan ini merupakan suatu peristiwa yang sangat menakjubkan dalam sejarah manusia. Seorang rasul yang dihina, dihardik, dicemooh dan dilempari batu oleh penduduk suatu negeri kemudian malahan dia mendoakan bagi penduduk negeri tersebut.

Kemudian di bawah pohon anggur milik Uthbah dan Syaibah, beliau berdoa kepada Allah swt dengan suatu doa yang sangat mengharukan.

“Wahai Allah Tuhanku, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan diriku, kekurangan daya upayaku dan kehinaanku di hadapan sesama manusia. Wahai Allah Yang Maha Kasih dari segala kasih, Engkau adalah pelindung orang-orang yang lemah dan teraniaya. Engkau adalah pelindungku. Tuhanku, kepada siapa Engkau serahkan diriku? Apakah kepada orang jauh yang membenciku atau kepada musuh yang menguasai diriku. Tetapi asal Kau tidak murka padaku, aku tidak perduli semua itu. Kesehatan dan karunia-Mu lebih luas bagiku, aku berlindung dengan cahaya-Mu yang menerangi segala kegelapan, yang karenanya membawa kebahagiaan bagi dunia dan akhirat, daripada murka-Mu yang akan Kau timpakan kepadaku. Engkaulah yang berhak menegurku sehingga Engkau meridhaiku. Tiada daya dan upaya kecuali dari-Mu”

Ketika tiba di Qornul Manazil, Malaikat Jibril datang meminta kepada beliau agar diizinkan menghancurkan penduduk Thaif. Malaikat Jibril mengutus para Malaikat penjaga gunung Abu Qubais dan Qoiqon yang terletak di antara Mekkah dan Thaif untuk menghancurkan penduduk Thaif, jika mereka diizinkan.

Akan tetapi Rasulullah saw. menolaknya, sebab telah memaafkan mereka. Beliau berharap semoga Allah memberikan kepada mereka keturunan yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Setelah itu beliau berdoa lagi kepada Allah swt. yang berbunyi: "Ya Allah berikanlah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui."

Demikianlah akibat dari doa tersebut, maka di kemudian hari penduduk Thaif datang berbondong-bondong menemui Rasullullah saw dan menyatakan ikrar Syahadat. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 17.15