Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 07 November 2016

Syarat Amalan Sampai ke Hadapan Allah swt

Agar supaya informasi amalan yang kita lakukan di dunia ini sampai ke hadirat Allah swt, maka diperlukan suatu kendaraan. Sebagaimana juga malaikat jibril dahulu kala memperjalankan Rasullullah saw dari masjidil Haram ke masjidil Aqsa dan kemudian ke sidratul muntaha, maka ada kendaraan yang dipergunakan untuk bisa mencapai perjalanan yang teramat jauh tersebut.

Setiap mesin kendaraan senantiasa memerlukan 3 komponen utama: bahan bakar, oksigen dan mesinnya itu sendiri. Tanpa ketiga komponen utama tersebut maka anda tidak akan bisa mencapai suatu perjalanan yang sangat jauh. Nah, begitu juga agar supaya amalan yang kita lakukan di dunia ini bisa sampai ke hadapan Allah swt maka kita perlu memuat informasi amalan tadi ke dalam sebuah kendaraan.

Kendaraan apakah itu?

Inilah rahasianya: kendaraan yang dipergunakan untuk naik menghadap Allah Yang Maha Tinggi adalah kendaraan yang sama yang sebelumya pernah dipergunakan untuk menurunkan manusia ke muka bumi ini sebagai khalifah-Nya. Kendaraan tersebut juga memiliki 3 komponen utama yaitu: Syahadat, Istighfar dan Sholawat.

Pada saat ketika Allah swt berkehendak untuk menurunkan manusia ke muka bumi, maka prosesnya dimulai dari Syahadat.

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ
أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

‘Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (QS 7:172)

Kemudian sebagaimana Nabi Adam as bertobat setelah memakan buah quldi dahulu, anak keturunan Adam pun senantiasa beristighfar dengan caranya sendiri di dalam kandungan sehingga sempurnalah proses penciptaan fisiknya.

Kemudian setelah sempurna fisiknya, janin mengakhiri proses penciptaannya dengan ber-Sholawat kepada Nabi Muhammad saw dengan caranya sendiri, sebagaimana apabila anda memperhatikan bentuk posisi bayi menjelang kelahirannya, membentuk huruf Muhammad saw.

Inilah yang kemudian diajarkan oleh guru kita, suatu rahasia kendaraan yang bisa menghantarkan informasi amalan kita di dunia saat ini sampai kepada Allah swt, yaitu dengan memuat segala amalan tersebut ke sebuah kendaraan yang memuat 3 komponen utama: Syahadat, Istighfar dan Sholawat.

Apabila jiwa anda benar-benar menciptakan ketiga komponen tersebut tadi untuk membungkus setiap amalan yang anda lakukan, maka hasilnya adalah sebuah wahana non-fisik yang benar-benar hidup dan mampu melesat dengan sendirinya, menuju asal muasalnya: Allah Tuhan Pencipta.

Tanpa dibungkus oleh kendaraan tadi, maka segala jenis amal yang kita lakukan tidak akan sampai ke hadapan Allah swt, meskipun Allah Yang Maha Mengetahui melihat dan mengawasi segala amalan apa saja yang kita lakukan. Mudah-mudahan anda bisa memahami suatu perbedaan yang terkesan sangat tipis disini, akan tetapi sebenarnya sangat penting: bahwa ada amalan yang langsung sampai ke hadapan Allah swt, di lain pihak ada amalan yang tidak sampai meskipun Allah swt tetap mengetahuinya.

Segala jenis amalan yang tidak sampai ke hadapan Allah swt akan diputuskan oleh Allah swt di kemudian hari, atau bahkan bisa saja terjadi bahwa amalan tersebut baru diputuskan nanti di akhirat pada saat Hari Perhitungan.

Amalan yang sampai ke hadapan Allah swt akan direspon saat itu juga, sebagaimana Rasullullah saw dahulu kala menerima perintah Sholat wajib pertama kali, langsung saat itu juga.

Jadi demikianlah guru kita mengajarkan bagaimana Syahadat, Istighfar dan Sholawat telah menjadi kendaraan manusia dalam prosesnya turun ke muka bumi ini, dan sesungguhnya kendaraan yang sama itu pula yang dapat dipergunakan oleh kita untuk naik kembali ke atas langit, untuk menhadap Allah swt. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 13.43