Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 15 November 2016

Suatu Desakan Kepada MUI

Antara Bulan Januari sampai dengan November 2016, menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tercatat ada sekitar 1,985 kasus bencana alam, mulai dari gunung meletetus, banjir, gempa bumi, tanah longsor sampai kapal penumpang yang tenggelam. Hal ini berarti dalam satu hari rata-rata tercatat lebih dari 6 bencana alam terjadi di Indonesia.

Selama musim hujan seperti saat ini, bukan hanya banjir akan tetapi tanah longsor juga merupakan ancaman serius bagi masyarakat Indonesia. Di Jawa Barat sendiri menurut data BMKG, sekitar 48% dari total luas tanahnya merupakan tanah yang mudah bergerak dan rawan longsor. Di area lainnya di pulau Jawa, sekitar 21% dari total luas tanahnya merupakan tanah yang mudah bergerak dan rawan longsor.

Bencana alam seperti ini ternyata bukan saja terjadi hanya di Indonesia, melainkan juga hampir di seluruh dunia. Jerman dan Perancis dilanda banjir terburuk semenjak 65 tahun terakhir, termasuk kota Paris. Jepang dan Selandia Baru dihantam gempa bumi yang bertubi-tubi.

Di timur tengah, selain bencana peperangan dan pertikaian di sebagian besar wilayah Syria, Libya, Mesir dan Yaman, bahkan di kota Mekkah sekalipun tidak luput dari bencana. Mulai dari bencana angin topan yang merobohkan crane sehingga menewaskan 87 orang jamaah haji, badai pasar hingga bencana banjir.

Menurut guru kita, keseluruhan bencana yang terus menerus ini bukan lagi merupakan sebuah musibah, sebagaimana yang dikatakan oleh kebanyakan ulama kita, melainkan ini sudah merupakan azab Allah swt.

وَإِنْ مِنْ قَرْيَةٍ إِلاَّ نَحْنُ مُهْلِكُوهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَوْ مُعَذِّبُوهَا عَذَابًا شَدِيدًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا
“Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS 17 : 58)

Allah swt mengazab suatu negeri lantaran penduduk dari negeri itu telah durhaka dan tidak beriman lagi kepada Allah swt. Masih menurut guru kita, jumlah orang beriman di Indonesia saat ini jumlahnya sedikit sekali, meskipun mayoritas penduduknya mengaku beragama Islam. Angka dari data statistik bencana di atas tadi adalah bukti bahwa Allah swt sedang meng-azab negeri ini. Ternyata Allah swt sama sekali tidak terkesan dengan jumlah mayoritas penduduk negeri ini yang mengaku beragama Islam tersebut, juga Allah swt sama sekali tidak terkesan dengan begitu banyaknya jemaah haji yang berangkat ke tanah suci setiap tahunnya.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنْ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ
وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS 7:96)

Dengan fakta-fakta ini kemudian YAKDI mendesak kepada MUI untuk mengeluarkan fatwa yang jauh lebih penting bagi umat Islam di negeri ini, yaitu segera menyerukan agar seluruh umat Islam di Indonesia melakukan taubat nasional dengan taubat yang sebenar-benarnya. Kemudian menyatakan kembali keimanan penduduk negeri ini kepada Allah swt dengan tauhid yang sebenar-benarnya. Dan yang terkahir adalah memohon syafa’at dan pertolongan do’a dari Rasullullah Muhammad saw agar menyelamatkan bangsa ini dari azab.

Demikianlah isi desakan dari YAKDI kepada MUI dalam rangka untuk mengangkat azab yang menimpa negeri ini. Inilah agenda utama dan misi utama yayasan ini, yaitu untuk menyadarkan umat Islam di Indonesia bahwa mereka belum beriman, atau iman mereka belum diterima Allah swt. Kemudian melaksanakan ketiga usulan di atas yaitu mengajak umat untuk bertaubat, kembali mengikrarkan keimanan kepada Allah swt dan berwasilah serta meminta pertolongan syafa’at dari Rasulullah saw.

Apabila usulan ini dilaksanakan, sehingga jumlah orang yang beriman di negeri ini meningkat, maka sudah pasti Allah swt akan memberikan keberkahan kepada negeri ini dari langit dan dari bumi sebagaimana firman Allah swt tadi. Akan tetapi apabila kemudian MUI memandang bahwa ada agenda lainnya yang lebih penting, sehingga usulan ini diabaikan, maka tiadalah kewajiban bagi yayasan kami selain dari pada sekedar menyampaikan amanat ini.

Semoga Allah Yang Maha Pengampun berkenan untuk mengampuni penduduk bangsa ini dan kembali melindungi dan menganugerahkan karunia-Nya kepada negeri yang berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa ini, satu-satunya Negeri Tauhid di atas muka bumi. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 00.29