Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Jumat, 18 November 2016

Dakwah Komersial di Stasiun TV

Pada hari ini, acara-acara bernuansa dakwah Islam di stasiun-stasiun televisi di Indonesia telah disulap menjadi lahan bisnis yang menguntungkan segelintir orang dan para ulama komersial. Disebut sebagai ulama komersial karena ternyata orientasi mereka untuk berdakwah tersebut tidak semata-mata ikhlas tanpa bayaran, akan tetapi justru banyak diantara mereka yang berani memasang tarif.

Hal ini pernah ditulis sebelumnya oleh Bpk. Pracoyo Wiryoutomo (Praktisi Televisi di Trans 7) di majalah Pengusaha Muslim Edisi 31, tanggal 20-Agustus-2013. Berikut ini kira-kira tulisan beliau tentang kiprah sebenarnya para ulama juru dakwah di televisi tersebut:

Nah, dari sekian artis, eh ustad, mereka memiliki kemiripan. Mereka mencoba tampil dengan ciri khas. Baik segi penampilan ataupun materi yang disampaikan. Mereka juga didukung tim managemen lengkap. Mereka tak segan mengajukan rate, tawar-menawar harga, dan tidak ragu untuk menolak job bila tidak sesuai dengan tarif. Asal tahu saja, ada seorang ustad yang mematok Rp 22 juta untuk sekali acara pengajian off air. Ustad lain yang lebih senior sampai Rp 40 juta sekali tampil. Ini belum termasuk tiket pesawat, hotel untuk minimal tiga orang bila harus ke luar kota. Honor di TV? Tidak terlalu besar dibandingkan dengan offair. TV hanya dijadikan media untuk marketing, sedangkan “keuntungan” yang sebenarnya dipetik dari mimbar ke mimbar.

Satu lagi, semua orang yang akan tampil di TV harus lolos proses casting. Apa yang dinilai? Wajah, penampilan, gaya orasi. Baru yang terakhir ilmunya. Jadi, title ustad bisa disematkan belakangan. Bahkan ada seorang kawan yang mengaku dia menyodorkan kontrak kerja dengan seseorang sebagai “pemeran ustad” untuk mengisi program dakwah. Celakanya, acara itu sangat sukses. Akibatnya, pemeran ustad tersebut sekarang sangat terkenal. Laris manis mengisi ceramah. Padahal dia sama sekali tak memiliki kapasitas ilmu agama yang sahih. Jadi, jangan sekali-kali berharap ada TV yang berani membuat program yang mengedepankan ilmu. Acara dakwah di TV lebih mementingkan kemasan, show. Inilah jahatnya industri TV di Tanah Air.

Saat ini agama Islam telah menjadi komoditi bisnis yang sangat besar nilainya dan sangat menguntungkan. Pengamat Ekonom Syariah, Affan Rangkuti memperkirakan bahwa dari industri umrah saja berpotensi menghasilkan nilai bisnis sebesar hingga Rp 7,2 triliun per tahun, bahkan bisa dua hingga tiga kali lipatnya. Jadi masuk akal apabila saat ini banyak sekali orang berlomba-lomba untuk menguasai pangsa bisnis dalam agama Islam ini.

Apa yang terjadi hari ini sesungguhnya adalah sesuatu yang bertentangan dengan konsep penyebaran dakwah dan Sunnah Allah, dimana sebelum ini para Rasul, para Wali, para Syuhada dan orang-orang beriman yang ikhlas menempuh jalan dakwah tidak ada satupun dari mereka yang meminta upah, mencari keuntungan ataupun mencari nafkah dari bisnis Syi’ar Islam.

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ
Katakanlah (hai Muhammad): "Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas dakwahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan.” (QS 38:86)

Guru menyebutkan bahwa banyak sekali para ustad sekarang di stasiun-stasiun televisi yang pada hakekatnya mereka sama seperti ‘tukang dongeng’. Mereka berusaha untuk memuaskan para penonton dan pemirsanya, sehingga dengan demikian mereka bisa meraup keuntungan materil dari hal tersebut. Mereka sama sekali bukan penyampai.

Adapun para Rasul, para Wali dan orang-orang beriman terdahulu, mereka menyampaikan apa yang diperintahkan Allah swt untuk disampaikan, tidak peduli betapa pun pahitnya itu. Mereka berusaha untuk memperoleh ridho Allah swt, bukan kepuasan pemirsanya. Inilah pangkal kehancuran Islam di negeri ini, yaitu dimulai dari para ulamanya sendiri. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 18.51