Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 25 Juli 2015

Nilai-nilai Luhur Islam adalah Lebih Utama

Sekitar tahun 1883, Muhamad Abduh ulama besar Mesir pernah berdebat dengan soerang filsuf berkebangsaan Perancis Ernest Renan. Abduh menjelaskan secara panjang lebar bagaimana kehebatan nilai-nilai Islam dan risalah yang dibawa oleh Rasullullah Muhammad saw. Kemudian dengan entengnya Renan menantang Abduh untuk menunjukan satu saja contoh komunitas muslim yang benar-benar mempraktekan nilai-nilai luhur Islam tersebut. Dan Muhamad Abduh pun terdiam, tidak bisa menjawab.

Sekitar satu abad kemudian, George Washington University membuat sebuah survey terhadap lebih dari 200 negara di dunia yang mengamalkan nilai-nilai luhur Islam seperti: jujur, amanah, disiplin, tepat waktu, bersih, toleransi, dll. Kedalam sekitar 100 parameter yang mereka sebut sebagai Islamicity Index.

Ternyata hasilnya sungguh mengejutkan: negara dengan nilai Islamicity Index tertinggi adalah Selandia Baru, disusul dengan Luxemburg, Irlandia, Eslandia, dan Finlandia, sedangkan Indonesia harus puas berada di urutan ke-140. Beberapa negara lainnya dengan mayoritas masyarakatnya adalah muslim berada di urutan antara 100 sampai dengan 200.

Apa yang dapat disimpulkan?

Negri-negri dengan mayoritas penduduknya beragama Islam telah meninggalkan nilai-nilai luhur Islam dan lebih mengutamakan hal lainnya.

Hasil survey ini sepertinya cocok dengan pandangan Allah: bahwa sebagian besar umat Islam telah meninggalkan akhlak yang mulia. Inti dari agama Islam adalah meninggikan akhlak umatnya.

Apa yang salah?

Jelas pasti telah terjadi kesalahan. Yaitu kesalahan dalam memaknai ajaran dari para ulama dan pemuka agama Islam. Berikut ini antara lain daftar kesalahan terbesar umat Islam:
1. Menganggap bahwa khilafah Islamiyah adalah jauh lebih utama dari pada mengamalkan nilai-nilai luhur Islam
2. Meyakini bahwa syariat Islam adalah jauh lebih utama dibandingkan dengan hakekat dan hikmah dari nilai luhur Islam
3. Menganggap bahwa apa saja yang berasal dari tanah arab adalah Islami, sedangkan nilai-nilai luhur ajaran Islam dari zaman era Wali Sanga di tanah Jawa dianggap sebagai ajaran usang
4. Menganggap bahwa ajaran Islam kontemporer dari tanah arab jauh lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan ilmu tarekat dan makrifat. Sehingga kebanyakan dari umat Islam saat ini lebih mengenal ulama dan ustadnya dibandingkan dengan mengenal Allah.

Kesalahan itu makin diperburuk lagi dengan munculnya ajaran radikalisme dalam umat Islam. Teror menjadi jalan yang dianggap suci sebagaimana jalan jihad para syahidin jaman dahulu. Padahal para pahlawan kita dari jaman penjajahan dahulu tidak pernah mengajarkan cara perjuangan yang sangat pengecut seperti terorisme tersebut.

Bagaimana Solusinya?

Di dalam pandangan Allah: Menegakan nilai-nilai luhur Islam seperti Sabar, Jujur, Ikhlas adalah jauh lebih utama dibandingkan dengan memperjuangkan dan menegakan syariat Islam dan Khilafah kekuasaan Islam. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 22.30