Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 12 Desember 2016

Sunnah Rasul

Di hari peringatan Maulud Nabi tahun ini, hampir setiap kaum muslimin memperingatinya dengan berbagai macam acara. Ada yang memperingatinya dengan upacara pembagian tumpeng besar-besaran seperti acara grebeg maulid di Jogyakarta atau Solo, ada juga yang memperingatinya dengan membuat acara sholat subuh nasional yang dilanjutkan dengan acara do’a bersama. Ada juga yang mengadakan ceramah besar-besaran, atau ada juga yang sekedar mengadakan kenduri kecil-kecilan sebagaimana yang biasa diadakan di kampung-kampung pedesaan.

Pada tulisan sebelumnya, telah kita bahas bahwa merayakan maulid Nabi saw sebenarnya adalah hasil dari kreativitas dan ide yang dicetuskan oleh umat Islam itu sendiri. Bukan berasal dari perintah Allah swt atau dari himbauan Rasulullah saw.

Lantas, apa yang seharusnya dilakukan oleh umat Islam dalam rangka mengekspresikan kecintaannya kepada Rasullullah saw?

Dalam hal merayakan maulid Nabi saw, guru seringkali berpesan kepada murid-muridnya bahwa hakekat terpenting dari merayakan maulid Nabi saw adalah mencintai Rasulullah saw dan caranya adalah dengan banyak-banyak memanjatkan sholawat kepada beliau, sebagaimana yang diperintahkan Allah swt.

Berikut ini adalah petunjuk Allah swt bagi orang-orang yang beriman bagaimana caranya untuk mengekspresikan kecintaan umat kepada Rasulullah saw:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS 33:56)

Demikianlah bagaimana guru kita mengajarkan kepada kita cara untuk memperingati maulud Nabi saw dengan setepat-tepatnya, yaitu dengan banyak-banyak bersholawat kepada Nabi saw. Tanpa menambahkan atau mengurangi petunjuk Allah swt tersebut.

Selanjutnya selain memanjatkan sholawat sebanyak-banyaknya kepada Nabi saw, maka yang juga harus kita ikuti adalah teladan dari Nabi Muhammad saw tersebut, yang kemudian kita sebut sebagai Sunah Rasul.

Sesungguhnya, pada saat ini telah terjadi pergeseran arti dari Sunnah Rasul tersebut secara mendasar. Sekarang kebanyak orang Islam akan mengartikan Sunnah Rasul sebagai perbuatan apa saja yang dilakukan dan dicontohkan oleh Rasul. Dengan demikian maka melaksanakan puasa senin dan kamis disebut sebagai Sunnah Rasul, dan orang-orang yang telah menjalankannya menganggap diri mereka sudah mengerjakan Sunnah Rasul. Contoh lainnya adalah menjalankan sholat sunnah, memeliahara jenggot, mengenakan pakaian takwa seperti baju gamis, dan banyak sekali perbuatan-perbuatan lainnya yang dilakukan oleh Rasulullah saw disebut sebagai Sunnah Rasul, dan tatkala kebanyakan dari kita telah melaksanakannya maka kita merasa sudah melaksanakan Sunnah Rasul.

Saudaraku, yang seperti ini sebenarnya adalah suatu pemahaman yang keliru. Tidak setiap perbuatan Rasulullah saw adalah Sunnah Rasul. Seperti misalnya tatkala mengimami sholat kemudian Rasulullah saw terbatuk, maka batuk itu bukan Sunnah Rasul, meskipun dicontohkan demikian. Begitu juga dengan banyak perbuatan baik lainnya yang dilakukan oleh Rasul, maka itu semua bukan berarti Sunnah Rasul, melainkan perbuatan baik yang dilakukan oleh Rasul.

Sunnah Rasul yang sebenarnya dan yang paling utama justru bukan seperti itu, bukan seperti yang selama ini kita sangka dan pahami.

Lantas, kalau demikian apakah Sunnah Rasul itu?

Yang disebut dengan Sunnah Rasul adalah sebagaimana yang dijelaskan sendiri oleh Allah swt dalam al-Quran sebagai berikut ini:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang berorientasi kepada Allah dan hari akhir dan dia banyak berzikir kepada Allah.” (QS 33:21)

Jadi menurut petunjuk Allah swt tentang Sunnah Rasul itu definisinya adalah berorientasi kepada Allah dan hari akhir, serta banyak-banyak berzikir kepada Allah. Maka yang selain dari itu pada hakekatnya bukan Sunnah Rasul, tapi hanya perbuatan baik yang dilakukan oleh Rasulullah saw.

Pada hari ini hampir seluruh umat Islam di dunia menyelenggarakan acara perayaan maulid Nabi saw dengan berbagai macam ragam acara, namun sesungguhnya sedikit sekali orang yang dalam hidupnya hanya berorientasi kepada Allah swt dan hari akhir, dan mereka banyak berzikir kepada Allah swt.

Memang banyak orang yang percaya kepada Allah swt, tapi ternyata sangat sedikit sekali orang yang hanya berorientasi kepada Allah swt dan hari akhir. Memang banyak orang yang melakukan zikir kepada Allah swt, tetapi ternyata sangat sedikit sekali orang yang BANYAK berzikir kepada Allah swt. Jadi kalau kita boleh menarik kesimpulan: saat ini masih sangat sedikit sekali orang yang melaksanakan Sunnah Rasul tersebut.

Di hari perayaan maulid Nabi saw tahun ini, marilah kita benar-benar melaksanakan Sunnah Rasul sebagaimana yang didefinisikan dan diperintahkan Allah swt dalam al-Quran. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 22.09