Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Rabu, 28 Desember 2016

Adakah Yang salah?

Ini adalah gambar lembaran uang seribu rupiah yang baru yang menampilkan wajah pahlawan Cut Meutia dari Aceh di gambar mukanya. Beberapa orang kemudian mengomentari penampakan gambar pahlawan tersebut dan mengajukan kritik mengapa seorang pahlawan beragama Islam tidak mengenakan jilbab.

Oleh pihak keluarga besar dari pahlawan Cut Meutia kemudian memberikan klarifikasi tentang masalah ini dan sekaligus membenarkan bahwa pahlawan Cut Meutia sebagaimana yang fotonya telah banyak beredar memang tidak mengenakan jilbab.

Dalam hal ini, apakah kita bisa kembali ke masa silam untuk mengingatkan pahlawan Cut Meutia agar bersedia mengenakan jilbab? Apakah dalam masa itu, di kalangan masyarakat muslim di Aceh pemahaman tentang mengenakan jilbab adalah termasuk hal utama dibandingkan dengan perjuangan melawan Belanda?

Contoh Kasus-1:

Gambar foto di samping ini adalah Cut Nyak Dien, seorang pahlawan wanita dari Aceh. Ketika pada tahun 1875 Keraton Sultan Aceh direbut Belanda, Cut Nyak Dien dan bayinya lalu mengungsi bersama ibu-ibu dan rombongan lainnya pada tanggal 24 Desember 1875 untuk melakukan perjuangan secara bergerilya.

Pada tanggal 29 Juni, suaminya Ibrahim Lamnga gugur saat pertempuran di Gle Tarum. Kemudian Cut Nyak Dien menikah lagi dengan Teuku Umar di tahun 1880 dan meneruskan perjuangannya melawan Belanda.

Teuku Umar pun juga gugur tertembak peluru pada tanggal 11 Februari 1899 dan Cut Nyak Dien kembali kehilangan suami. Namun hal ini tidak kemudian menghentikan perjuangan wanita ini, dia terus meneruskan perjuangan melawan Belanda secara berpindah-pindah dari satu hutan ke hutan lainnya.

Dengan kondisi yang sangat memprihatinkan Cut Nyak Dien terus memimpin pasukan Aceh menyerang tentara Belanda yang membakar masjid Baiturrahman. Pada tahun 1904 kapten Belanda Campioni tewas oleh serbuan 300 pasukan Aceh di daerah Aceh Barat.

Kondisi kehidupan perjuangan di hutan yang memprihatinkan membuat kesehatannya semakin menurun. Di hutan sehari-hari Cut Nyak Dien jarang sekali mendapat kesempatan makan nasi, dia hidup hanya memakan pisang bakar. Penglihatannya memudar dan menjadi buta, Pang Laot Ali tidak tega melihat kondisi kesehatan wanita berhati baja ini, sehingga kemudian dia membelot dan memberi tahu Belanda lokasi persembunyian pasukannya. Pada tanggal 4 November 1905 Letnan Van Vuuren berhasil menyergapnya.

Begitu teguhnya pendirian Cut Nyak Dien sehingga ketika sudah terkepung dan hendak ditangkap pun dia masih sempat mencabut rencong dan berusaha melawan pasukan Belanda. Pasukan Belanda yang begitu banyak akhirnya berhasil menangkap tangan wanita tua renta yang sudah dalam keadaan buta itu.

Ketika tertangkap wanita yang sudah tak berdaya dan rabun ini, mengangkat kedua belah tangannya dengan sikap menentang. Dari mulutnya terucap kalimat, “Ya Allah ya Tuhan inikah nasib perjuanganku? Di dalam bulan puasa aku diserahkan kepada kafir”.

Akhirnya Cut Nyak Dien dibuang ke Sumedang, Jawa Barat dan meninggal di sana pada tanggal 6 November 1908. Dimakamkan secara hormat di Gunung Puyuh, sebuah komplek pemakaman para bangsawan pangeran Sumedang, tak jauh dari pusat kota Sumedang.

Begitulah sekelumit cerita salah seorang pahlawan wanita dari Aceh yang sangat mengagumkan ini. Barangkali suatu saat kawan-kawan di YAKDI bisa memastikan apakah dia benar-benar salah seorang syuhada dari tanah air ini.

Coba anda perhatikan sekali lagi gambar foto di atas tadi, adakah sesuatu yang salah dengan gambar itu?

Contoh Kasus-2:

Kemudian, berikut ini adalah foto dari seorang wanita bernama ibu Rita Agustina dari Bekasi, Jawa Barat.

Bersama dengan suaminya wanita ini didakwa telah melakukan tindak pidana pemalsuan vaksin untuk balita yang dilakukannya sejak tahun 2003 silam. Motif dari pemalsuan vaksin tersebut adalah demi untuk memperoleh keuntungan yang berlipat ganda, tanpa memperdulikan bahwa perbuatannya itu telah merugikan orang lain.

Korbannya adalah ribuan balita di negeri ini yang telah mengkonsumsi vaksin palsu buatan wanita ini. Data yang diperoleh oleh Kementrian Kesehatan RI bahwa dari vaksin palsu buatan tahun 2014 sampai tahun 2016 saja korban yang terdata mencapai 1500 balita.

Akibat perbuatannya itu kemudian Rita Agustina dan suaminya dijerat pasal berlapis dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. Keduanya didakwa telah melanggar Pasal 196, 197, dan 198 Undang-Undang Kesehatan dan UU Perlindungan Konsumen.

Menurut Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Bekasi, pasangan itu dikenai pasal berlapis sesuai dengan peran mereka, yaitu membuat dan menjual vaksin palsu.

Saat ini Rita Agustina mendekam di sel tahanan selama menjalani masa persidangan kasus pemalsuan vaksinnya. Kepada penyidik Rita mengaku tak memikirkan dampak dari perbuatannya. Dia hanya memikirkan keuntungannya yang berlipat ganda. Rita kerap sekali menangis di tahanan karena teringat akan anak-anaknya yang masih kecil, katanya.

Sekali lagi, coba anda perhatikan sekali lagi gambar foto di atas tadi, adakah sesuatu yang salah dengan gambar itu?

Kesimpulan

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ‘Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian.” (HR Muslim).

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“......Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS 49:13)

Kita mengetahui bahwa dari 4 orang wanita yang dijamin Allah swt sebagai penghuni surga, yaitu Asiyah istri dari Firaun, Maryam binti Imran ibu dari Nabi Isa as, kemudian istri dan anak perempuan Rasulullah saw, maka tidak semua dari mereka itu mengenakan jilbab. Jadi ada keadaan di suatu masa, atau kondisi di suatu tempat yang bisa menempatkan kewajiban mengenakan jilbab menjadi bukan hal yang paling utama.

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat. (AK)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.59