Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 31 Desember 2016

Kisah Mundurnya Suatu Peradaban

Pada malam pengajian saat itu, guru kita membahas tentang kisah Ibnu Sina, seorang filsuf dan ahli kedokteran dari zaman keemasan peradaban Islam. Ibnu Sina (980-1037M) dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang Iran). Ia juga seorang penulis yang produktif di mana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan imu pengobatan. Bagi banyak orang, dia adalah "Bapak Pengobatan Modern" dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib (The Canon of Medicine) yang merupakan Referensi di bidang kedokteran selama berabad-abad.

Semenjak Nabi Muhammad saw menyebarkan ajaran Islam di tanah Arab pada awal abad ke-6, maka kemudian peradaban Islam mengalami kemajuan yang pesat. Grafik pertumbuhan peradaban Islam mencapai puncak gemilang masa keemasannya pada kurun waktu 800 – 1100M. Itulah zaman selama 300 tahun yang merupakan era puncak keemasan peradaban Islam yang berpusat di Bagdad.

Pada zaman tersebut setiap sarjana muslim diberi kebebasan untuk mengembangkan ilmu pengetahuannya. Setiap orang bebas berpendapat demi untuk memperoleh kebenaran yang sesungguhnya. Setiap orang dari setiap suku, ras, agama dan bangsa manapun bebas untuk memasuki kota Bagdad, untuk menimba ilmu atau untuk bertukar pikiran. Orang-orang didorong untuk berlomba-lomba menemukan realita kebenaran yang sesungguhnya.

Dari zaman itulah peradaban manusia mencapai masa pertumbuhan yang sangat signifikan, hingga hasilnya masih bisa kita rasakan sampai dengan hari ini. Tidak saja di bidang kedokteran, tetapi juga di bidang lainnya seperti matematika kita mengenal aljabar, algoritma, geometri, logika atau aritmatika yang kesemuanya itu adalah produk hasil kemajuan ilmu pengetahuan peradaban Islam saat itu.

Dalam bidang astronomi kita mengenal ilmuwan Islam seperti nama-nama Al-Battani, Al-Sufi, Ibnu Yunus, Al-Farghani atau Al-Zarqali yang oleh para Saintis Barat mengenalnya dengan panggilan Arzachel. Wajah Al-Zarqali diabadikan pada setem di Spanyol, sebagai bentuk penghargaan atas sumbangannya terhadap penciptaan astrolabe yang lebih baik. Al-Zarqali menemukan fakta bahawa orbit planet itu adalah edaran eliptik bukan edaran sirkular, Al-Zarqali juga mampu mengoreksi data geografis yang dibuat Ptolemeus. Secara khusus, dia mengoreksi panjang Laut Mediterania. Al-Zarqali juga mampu menemukan sejumlah fakta penting terkait rahasia langit, seperti planet, bintang, bulan dan matahari. Beliau telah menciptakan jadwal Toledan dan juga merupakan seorang ahli yang menciptakan astrolabe yang lebih kompleks bernama Safiha. Astrolabe itu tak bergantung pada garis lintang pengamatnya dan bisa digunakan di manapun di seluruh dunia. Pada hari ini kita mendapatkan fakta bahwa dari ribuan konstelasi bintang-bintang yang ada di langit, dua per tiganya ditemukan oleh ilmuwan Islam dan dinamakan menggunakan nama-nama arab.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الأَلْبَابِ
“Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS 39:9)

Kemudian, sebagaimana hukum Allah swt terhadap setiap siklus, maka setelah mencapai puncaknya selama 300 tahun lamanya dari 800-1100M, maka kemudian peradaban Islam mengalami kemunduran. Memasuki abad ke-12 tiba-tiba saja dunia kehilangan kemilau gemerlapnya perkembangan pengetahuan manusia. Sampai dengan hari ini tidak pernah ada lagi ditemukan kurun waktu dimana peradaban manusia mencapai kemajuan yang sedemikian pesatnya.

Memasuki abad ke-12 tiba-tiba saja Allah swt sepertinya telah mencabut Anugerah dan Karunia-Nya dari muka bumi ini. Tidak ditemukan lagi ilmuwan dan sarja muslim yang luar biasa.

Mengapa? Apa yang terjadi pada peradaban kaum muslimin kala memasuki abad ke-12? Apa yang terjadi saat itu adalah sebuah penyakit baru telah muncul. Sebuah pemahaman keliru yang hingga saat ini masih menghinggapi sebagian besar kaum muslimin. Yaitu suatu pemahaman untuk tidak peduli terhadap kebenaran yang sesungguhnya, pemahaman yang tidak memperdulikan fakta dan realitas sesungguhnya.

Apa yang terjadi juga hingga saat ini adalah suatu pemahaman taklid buta, sikap ekstrim dan intoleran, serta menutup mata terhadap kebenaran yang sesungguhnya. Ribuan hadits palsu diterima dan dianggap sebagai ucapan asli Rasulullah saw tanpa pernah memeriksa kebenaran yang sesungguhnya.

Hingga saat ini pun umat Islam merupakan sekelompok elemen masyarakat yang masih mudah untuk diadu domba. Kita masih sangat mudah menerima berita bohong, hoax sebagai sebuah kebenaran tanpa pernah memeriksanya. Inilah sikap yang telah diturunkan dari pendahulu kita semenjak abad ke-12, zaman dimulainya masa kemunduran peradaban Islam.

Pada hari ini ada sekitar 1,4 milyar umat Islam di seluruh dunia. Tapi ada berapa kah yang telah menerima hadiah penghargaan Nobel? Mungkin hanya beberapa gelintir saja.

Pada hari ini ada sekitar 14 juta orang-orang Yahudi yang tersebar di seluruh dunia. Tapi coba lihat ada berapa kah diantara mereka yang menerima hadiah penghargaan Nobel? Hampir seluruh hadiah penghargaan Nobel diraih oleh orang-orang keturunan Yahudi. Bagaimana mungkin 1% orang Yahudi dibandingkan dengan umat Islam bisa menguasai peradaban modern saat ini? (AK)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 13.27