Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 02 Januari 2017

Renungan Di Awal Tahun

Merenungkan apa yang sudah terjadi di tahun lalu, maka kita harus merasa prihatin bahwa ternyata bangsa ini tidak melakukan sesuatu perubahan yang berarti untuk memperbaiki nasib dan arah tujuannya. Bencana alam masih saja terjadi selama satu tahun lalu yang jumlahnya adalah lebih dari 2171 bencana.

Guru kita merasa sangat prihatin dan mencemaskan arah nasib bangsa ini, meski tak henti-hentinya beliau mengingatkan kita melalui wejangan dan ikhtiarnya demi untuk keselamatan seluruh bangsa ini. Sementara itu potensi benih-benih perpecahan perlahan-lahan muncul ke permukaan, dengan terang-terangan beberapa ormas dan organisasi mendeklarasikan niat dan aspirasi mereka untuk mengganti dasar negara tauhid ini dengan syariat Islam.

Berikut ini adalah rangkuman dari kesalahan-kesalahan kebanyakan dari kita di tahun lalu yang kami intisarikan dalam tulisan ini. Dengan maksud agar supaya kita serta seluruh umat Islam di Indonesia dapat menyadari kesalahannya dan terhindar dari kesesatan.

1. Dimulai dari kesalahan yang paling sederhana adalah ajakan imam tatkala sebelum sholat berjamaah: yaitu untuk meluruskan barisan dan merapatkan barisan. Ini adalah sesuatu yang salah dan keliru, karena yang seharusnya diluruskan itu adalah hati dan fikiran agar lurus dalam menghadap Allah swt. Ini yang tidak pernah diingatkan.

Kemudian biasanya imam sholat akan mengatakan bahwa syarat kesempurnaan sholat adalah lurusnya barisan dan rapatnya barisan, padahal seharusnya syarat kesempurnaan sholat adalah Khusyu. Jadi yang selama ini diingatkan oleh para imam sholat itu bertentangan dengan Perintah Allah beriktu ini:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu.” (QS 2:238)
Merapatkan barisan hanya akan membuat kita terasa berdesak-desakan dan mengganggu kekhusyukan.

2. Kemudian pada saat mengangkat kedua tangan ke atas sambil mengucapkan takbir, seharusnya hati kita tidak kosong. Guru mengajarkan agar hati kita pada saat itu mengucapkan:
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَاي وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS 6:162-163)

3. Dan setelah sholat, biasanya kita berzikir dengan membaca Subhanallah, wal hamdulillah, wala ilaaha illallah, wallahu akbar. Ini juga suatu kekeliruan karena zikir tersebut adalah zikirnya Malaikat yang tidak mempunyai dosa. Bagi manusia seperti kita seharusnya membaca zikir Syahadat, Istighfar dan Sholawat, karena kita manusia memiliki dosa maka perlu untuk beristighfar, kita perlu untuk kembali menyatakan ikrar Syahadat kita dan kita memerlukan safaat dari Rasulullah saw.

4. Saat ini kebanyakan dari para ustadz dan habib dan kebanyakan dari umat Islam memiliki pandangan bahwa umat dalam menjalani hidup ini sudah cukup hanya dengan berpedoman pada dasar dalil al-Quran dan hadits serta dari fatwa ulama. Tidak perlu lagi berhubungan atau berikhtiar untuk mendapat petunjuk langsung dari Allah swt. Semuanya sudah jelas dan sempurna jadi kita tidak perlu lagi berhubungan langsung dengan Allah swt.

Ini adalah pemahaman yang saat ini banyak diajarkan dan terutamanya adalah paham Wahabi yang gencar sekali menyebarkan pemahamannya sejak akhir tahun 1980-an di Indonesia. Pemahaman seperti ini adalah sesat karena bertentangan dengan Firman Allah swt:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS 64:11)

5. Saat ini ulama kita senang sekali mengeluarkan fatwa, bahkan untuk hal-hal yang tidak pernah dilarang Allah dan Rasul-Nya saat ini dilarang oleh fatwa ulama, misalnya seperti merokok dan beberapa hal lainnya. Hal ini sangat bertentangan dengan Firman Allah swt:
إِنْ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ
“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.” (QS 6:57)

Bahkan Rasulullah saw sendiripun tidak pernah mengeluarkan fatwa berdasarkan olah pikir atau berdasarkan penafsiran pribadinya sendiri. Apabila beliau ditanya oleh umatnya tentang sesuatu perkara, maka beliau akan diam, tidak mengeluarkan fatwa, sampai akhirnya Allah swt memberi petunjuk langsung kepada beliau.

6. Kebanyakan dari umat Islam saat ini menunaikan sunnah Rasul yaitu dengan cara memelihara jenggot dengan sangat lebat, memakai baju gamis khas orang arab atau makan dengan mempergunakan tangan. Padahal ini adalah pemahaman yang salah dan keliru. Dalam al-Quran yang dimaksud sunnah Rasul menurut Allah swt adalah:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang berorientasi kepada Allah dan hari akhir dan dia banyak berzikir kepada Allah.” (QS 33:21)

7. Saat ini ada sekitar 1,4 milyar jumlah total umat Islam di dunia, jumlah sebesar itu tidak ada artinya apa-apa di mata Allah swt, karena ternyata dari jumlah tersebut yang benar-benar beriman kepada Allah swt jumlahnya sangat sedikit sekali. Namun kebanyakan dari umat Islam saat ini menyangka bahwa jumlah orang yang beriman banyak sekali, jumlahnya hampir menyamai jumlah umat Islam. Kebanyakan orang menyangka bahwa dirinya sudah beriman. Ini adalah kekeliruan dan bertentangan dengan Pernyataan Allah swt sendiri.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS 29:2)

8. Kesalahan pada point sebelumnya adalah merupakan kesalahan yang fatal, dan akibat darinya adalah dalam hal memandang setiap bencana yang terjadi di negeri ini kita menganggapnya sebagai musibah atau cobaan dari Allah swt. Atau dengan bahasa lainnya kita menyalahkan Allah swt atas setiap bencana yang terjadi di negeri ini.

Padahal semua bencana tersebut adalah azab Allah akibat dari perilaku manusia. Hukum alam yang telah digariskan Allah swt ialah bahwa apabila penduduk suatu negeri tidak beriman atau meninggalkan keimanan, maka akan datang azab Allah swt sebagai sebuah ketetapan atau hukum-Nya yang tidak dapat diubah.

9. Karena merasa bahwa jumlah umat Islam telah banyak, maka kemudian timbul keinginan beberapa orang, beberapa ormas dan organisasi yang menginginkan berdirinya negara berdasarkan syariat Islam. Apa hebatnya dengan syariat Islam? Kalau ternyata jumlah orang-orang yang beriman sangat sedikit.

Rasulullah saw tidak pernah mengajarkan sahabat dan umatnya untuk menjadi pemberontak, menjadi tokoh untuk menggalang penggulingan kekuasaan lalu kemudian mendirikan negara berdasarkan syariat Islam. Rasulullah saw dan juga para Rasul-Rasul sebelumnya tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menjadi pengkhianat, perebut kekuasaan negara.

10. Saat ini kita banyak menerima hasutan dan ajakan untuk membenci orang kafir. Membenci orang Amerika Serikat atau membenci orang-orang China. Mereka dianggapnya adalah musuh yang nyata dan harus dibenci atau diperangi. Jelas ini adalah pemahaman dan pandangan yang keliru. Dengan menganggap orang kafir adalah musuh kita maka tanpa disadari kita sudah termakan dengan langkah-langkah syaithan yaitu untuk membenci sesama anak Adam dan saling menumpahkan darah. Jelas hal ini bertentangan dengan Pernyataan Allah swt:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS 2:208)

11. Akibat dari pemahaman tersebut yaitu untuk memusuhi setiap orang kafir, maka saat ini banyak dari umat Islam yang menebarkan bibit-bibit kebencian. Padahal Islam mengajarkan perdamaian dan sikap toleransi serta memaafkan. Ketika dahulu Rasulullah saw dicaci maki dan dihina oleh orang-orang Thaif, maka tidak ada rasa kebencian atau balas dendam atas segala penghinaan orang-orang Thaif tersebut. Beliau malahan mendoakan orang-orang Thaif dan memaafkannya.

Jadi apabila saat ini banyak dari kita bersifat reaktif dan mudah tersulut emosinya terhadap berbagai bentuk penghinaan, maka waspadalah: ajaran dan ajakan siapakah yang sebenarnya sedang kita tiru dan ikuti?

12. Dan yang terakhir banyak dari umat Islam mengira bahwa simbol bulan bintang yang saat ini banyak terpasang di atap menara masjid adalah simbol Islam. Bukan, simbol itu aslinya adalah simbol dewi artemis yang kemudian dijadikan lambang kota Konstantinopel oleh bangsa Romawi. Ketika kota Konstantinopel jatuh ke tangan kerajaan Turki Utsmani kemudian lambang tersebut diadopsi menjadi lambang kerajaan Turki. Padahal itu adalah lambang dewi Artemis, salah satu dewi orang Romawi.

Demikianlah, rangkuman dari beberapa kekeliruan di tahun lalu yang semoga di tahun baru ini dan di tahun-tahun mendatang kita bisa memperbaikinya dan terhindar dari kesesatan.

Tulisan ini ditujukan juga agar supaya kita tidak mudah untuk menghakimi orang lain, merasa diri kita sudah sempurna, padahal bagaimana apabila ternyata Allah menyatakan bahwa diri ini belum beriman?

Merasa sudah sempurna karena sudah menjadi orang Islam dan menuding orang lain sebagai kafir dan tersesat, padahal arti kafir itu adalah seperti kata ‘cover’ dalam bahasa Inggris atau sampul. Orang-orang yang dalam kehidupan di dunia ini belum pernah sekali pun melihat Allah, belum pernah sekalipun hatinya terhubung dengan Allah, adalah orang-orang yang terbungkus sampul duniawi. Masih kafir karena tidak bisa melihat Allah atau tidak bisa berhubungan dengan Allah. Jadi jangan mudah mengkafirkan orang lain. Lurus telunjuk kelingking berkait. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 15.07