Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 16 Januari 2017

Bersandar Hanya Kepada al-Quran dan Hadits

Berikut ini adalah bagian dari khutbah sholat Jumat yang disampaikan oleh seorang ustadz yang beraliran faham Wahabi.

Di awal khutbah sang ustadz membuka khutbahnya dengan mengutip beberapa ayat al-Quran dan menerangkan isi serta maknanya. Beliau yang fasih berbahasa Arab tentu saja tidak memiliki kesulitan untuk menterjemahkan isi dan makna dari ayat-ayat al-Quran tersebut. Terutamanya adalah dari segi bahasa dan istilah bahasa Arab untuk mengungkap isi dan kandungan al-Quran.

Kemudian dilanjutkan kepada inti dari khutbah beliau yang menggaris bawahi bahwa selama-lamanya manusia itu akan tersesat apabila tidak bersandar kepada al-Quran dan Hadits. Kemudian dia memberi contoh-contoh bagaimana Allah swt meng-azab suatu kaum apabila mereka menolak untuk menyandarkan dirinya pada al-Quran dan Hadits.

Isi dari khutbah dan ceramah berupa kewajiban untuk bersandar hanya kepada Al-Quran dan Hadits adalah sesuatu yang sudah sering kalli kita mendengarnya. Bahkan bukan untuk khutbah yang satu ini saja, anda juga pasti telah sering mendengarnya dalam khutbah-khtbah atau ceramah-ceramah lainnya. Terutamanya adalah apabila penceramah tersebut memiliki faham Wahabi.

Saudara-saudaraku, paham yang seperti ini menurut guru kita adalah merupakan paham yang sesat. Karena al-Quran dan Hadits itu hanya Allah swt dan RasulNya yang diberi wahyu saja yang dapat memahami kandungan arti yang sebenarnya.

Sehingga apabila demikian halnya, maka logikanya apabila ada seorang ustadz atau kyai atau habib yang memiliki suatu agenda tertentu dan kemudian membungkusnya dengan dalil al-Quran dan hadits, maka efeknya akan berbahaya. Umat diwajibkan dengan serta merta untuk mentaatinya dengan dalih demi untuk menyandarkan dirinya kepada al-Quran dan Hadits. Sebagaimana yang dahulu pernah dilakukan oleh Haji Abdul Ghaffar, alias Snouck Hurgronje, kepada masyarakat Aceh di zaman kolonialisme.

Nah, kalau demikian halnya, maka yang sesungguhnya terjadi dalam realitas sebenarnya bukanlah suatu umat yang bersandar kepada al-Quran dan Hadits, melainkan suatu umat yang bersandar pada pendapat dan penafsiran para ustadz atau habibnya. Sebagaimana dahulu umat Yahudi dan Nasrani juga melakukan hal yang sama seperti itu kepada para rahib dan ulama mereka. Itulah yang dinamakan sebagai mempertuhankan para ahli kitab.

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا
أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS 9:31)

Padahal dalam al-Quran dikatakan bahwa yang harus kita taati adalah Allah dan RasulNya, bukan kepada para ustadz atau habib, yang penafsiran mereka terhadap al-Quran dan Hadits belum tentu benar mutlak.

وَمَنْ يُطِعْ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ النَّبِيِّينَ
وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُوْلَئِكَ رَفِيقًا

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS 4:69)

Menurut guru kita, yang benar itu seharusnya bukan hanya melandaskan kebenaran itu kepada al-Quran dan Hadits semata, tetapi juga harus memohon arahan dan petunjuk langsung dari Allah swt. Sehinngga dengan demikian maka manusia tidak akan tersesat selama-lamanya.

Jadi kitab al-Quran dan Hadits itu adalah pedoman, tuntunan dan buku petunjuk yang menerangkan. Akan tetapi apabila ada seorang ustadz, habib atau pun penceramah hendak menggerakan anda dengan mengutip ayat-ayat al-Quran dan Hadits, maka tahan dulu. Tunggu dulu. Karena bukan berarti bahwa dengan mengutip suatu ayat al-Quran atau Hadits maka anda harus taat kepadanya. Coba lihat dan perhatikan baik-baik ayat tersebut di atas tadi, bahwa ketaatan itu hanyalah kepada Allah dan RasulNya.

Nah, sebelum anda mengambil suatu kesimpulan ataupun tindakan terhadap ajakan ceramah sang ustadz, mohonlah petunjuk kepada Allah swt sampai datang petunjuk tersebut. Sehingga dengan demikian maka anda akan terhindar dari suatu kesesatan. Begitulah seharusnya yang harus anda perbuat, dan begitulah makna dari wasiat Rasulullah saw.

Jadi berhati-hatilah, apabila ada penceramah yang dengan berapi-api menegaskan: kita harus bersandar hanya kepada al-Quran dan Hadits. Tidak, bukan itu saja, seharusnya ada Petunjuk Allah swt dan Tuntunan Rasulullah saw.

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ
أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang MENDAPAT PETUNJUK.” (QS 16:125)

Apabila tidak mengerti cara untuk mendapatkan petunjuk Allah atau tuntunan Rasulullah saw, maka belajarlah. Datanglah ke pengajian dan Insyaa Allah guru akan membimbing dan mengajarkan kita bagaimana caranya memohon petunjuk kepada Allah swt.

Jadi bukan hanya al-Quran dan Hadits saja, sehingga kemudian umat akan mudah dipengaruhi sekehendak hati orang-orang yang mengutip dan menterjemahkan dalilnya. Tetapi agar supaya tidak tersesat kita juga harus mendapat petunjuk Allah dan Tuntunan RasulNya. Jangan mengulangi kesalahan sejarah yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani terhadap Rahib dan alim ulama mereka. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 10.15