Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Rabu, 08 Februari 2017

Mencari Nabi Khidir Ahli Ilmu Sebab Akibat

Setiap manusia dianugerahi Allah dengan bakat dan potensinya masing-masing. Selain itu Allah swt juga menganugerahi manusia dengan akal pikiran dan hati nurani, yang dengannya maka manusia bisa berfikir dan menimba ilmu.

Ilmu yang dimiliki manusia itu kebanyakan adalah dari hasil olah pikiran dan hasil olah pengalaman manusia itu sendiri. Seperti misalnya adalah ilmu pengetahuan alam, ilmu sejarah, ilmu astronomi, dsb. Termasuk juga adalah ilmu hukum syariat Islam, ilmu tafsir al-Quran, ilmu hadits, dsb adalah juga ilmu yang diperoleh manusia dari hasil mempelajari kitab dan olah pikir serta penafsiran seorang guru agama Islam.

Diantara dari sekian banyak manusia, maka ada seseorang yang memiliki keunikan khusus, yaitu dia menerima ilmu bukan hasil dari olah pikir atau pun dari hasil menafsirkan kitab, akan tetapi ilmu yang diperolehnya adalah dari Allah langsung. Beliau yang dimaksud itu adalah Nabi Khidir as. Di dalam al-Quran kisah tentang Nabi Khidir diceritakan dalam surat al-Kahfi, yaitu ketika Nabi Musa as melakukan perjalanan menuju tempat pertemuan dua laut bersama dengan muridnya.

فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا
“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS 18:65)

Ilmu yang diajarkan Allah swt kepada Nabi Khidir as adalah ilmu hukum Sebab Akibat. Sebagaimana kita semua mengetahui bahwa dalam kehidupan ini berlaku adanya hukum sebab akibat, dimana setiap sebab akan menghasilkan akibat, dan akibat dari sesuatu bisa menjadi sebab bagi sesuatu yang lainnya. Demikian seterusnya saling berhubungan antara akibat yang satu dengan akibat yang lainnya, sehingga terjadi saling keterkaitan antara peristiwa sebab akibat yang satu dengan sebab akibat lainnya. Alhasil adalah suatu sistem yang sangat rumit, dan manusia tidak mampu untuk memecahkan secara pasti jawaban atas setiap sebab itu apa.

Adalah Nabi Khidir as, beliau menerima ilmu tentang Sebab Akibat ini dari Allah swt, sehingga dengan ilmu tersebut maka beliau mampu mendapatkan jawaban yang pasti atas akibat yang ditimbulkan oleh sesuatu sebab tertentu. Pasti.

Adapun kemampuan menghitung manusia terhadap akibat yang akan ditimbulkan oleh sesuatu sebab adalah kira-kira, estimasi, atau bersifat kemungkinan. Berbeda dengan Nabi Khidir as, beliau dapat menentukan akibat dari sesuatu sebab secara pasti, karena ilmu yang diperolehnya adalah dari sisi Allah swt.

Dalam surat al-Kahfi tersebut diceritakan bahwa Nabi Musa as memohon ijin kepada Nabi Khidir as untuk menyertai perjalanan beliau agar dapat menimba ilmu yang benar dari pengajaran yang diberikan oleh Nabi Khidir as.

Diceritakan dalam al-Quran bahwa selama perjalanan bersama Nabi Khidir as, ternyata Nabi Musa as tidak sabar atas apa-apa yang diperbuat oleh Nabi Khidir as. Diantara perbuatan-perbuatan Nabi Khidir as yang menyebabkan hilangnya kesabaran Nabi Musa as yaitu: Melubangi perahu yang sedang sarat dengan penumpang, membunuh seorang anak kecil dan mendirikan tembok yang hampir roboh tanpa meminta upah. Semua perbuatan yang dilakukan oleh Nabi Khidir as tersebut tadi adalah perbuatan yang menyalahi hukum pidana (melubangi perahu), menyalahi hukum syariat agama (membunuh anak kecil) dan menyalahi hukum logika (membangun tembok secara cuma-cuma).

Akan tetapi kemudian di akhir cerita dalam surat al-Kahfi tersebut, Nabi Khidir as menjelaskan kepada Nabi Musa as tentang maksud dan tujuan dari semua perbuatan yang telah dilakukannya itu. Bahwa semua yang telah dilakukannya itu ternyata merupakan sebab yang akan menghasilkan akibat yang baik. Dan beliau dapat memastikan akibat tersebut secara pasti karena ilmu yang diperoleh dari sisi Allah tadi, jadi bukan dari hasil olah pikir atau keinginan beliau sendiri.

Hikmah yang bisa kita ambil dari kisah Nabi Khidir as dalam surat al-Kahfi tersebut ialah bahwa Allah swt, jika menginginkan sesuatu perbuatan dilakukan oleh Nabi Khidir as, maka perbuatan tersebut tidak bisa dibatasi oleh hukum manusia, hukum syariat agama ataupun hukum logika. Bisa jadi sesuatu perbuatan diperintahkan Allah swt untuk dilakukan, dan perbuatan tersebut menyalahi hukum manusia, hukum syariat agama dan hukum logika.

Nah, ketika pada kasus yang saat ini tengah terjadi di negeri kita ini. Misalnya saja ada seorang tokoh agama yang semasa hidupnya justru banyak berbuat kesalahan. Banyak menyebarkan hasutan dan fitnah, memecah belah umat dan meresahkan penduduk negeri kita. Kemudian tiba-tiba di akhir hayatnya tokoh tadi hendak bertobat, bagaimanakah Nabi Khidir as menyikapinya? Dan bandingkan dengan opini kebanyakan dari kita semua.

Barangkali sudah bisa ditebak, bahwa kebanyakan dari kita akan merasa bahagia apabila seorang tokoh yang semasa hidupnya banyak dihabiskan dengan perbuatan-perbuatan yang meresahkan kemudian pada akhirnya tokoh tersebut bertobat. Ajaran ilmu agama, ilmu hukum sosial yang berlaku di masyarakat kita serta hukum akal yang kita punya, akan memberikan kesimpulan kepada kita untuk menerima tobatnya tokoh tadi dengan perasaan bahagia dan suka cita.

Akan tetapi bagaimana halnya apabila kita bertanya kepada Nabi Khidir as tentang kejadian tersebut? Beliau, Nabi Khidir as tidak akan mempergunakan ilmu hukum sosial, hukum syariat agama atau hukum logika. Beliau akan mempergunakan pengetahuan dan petunjuk yang diterima dari Allah swt. Apabila Allah swt tidak berkenan menerima tobat tokoh tadi, maka beliau, Nabi Khidir as akan menyikapi rencana tobat tokoh tadi dengan cara dan perbuatan yang berbeda dengan kebanyakan dari kita.

Sebagaimana kisah antara Firaun yang mengejar rombongan Nabi Musa as, maka cerita kehidupan akan menulis sejarahnya sesuai dengan Keinginan Allah swt. Apa yang kemudian terjadi dalam kehidupan ini adalah sesuai dengan Keinginan Allah swt. Bukan sesuai menurut hukum manusia, bukan sesuai menurut hukum syariat agama atau hukum logika, tapi menurut Keinginan Allah swt Yang Mutlak dan tidak terbatas.

Demikianlah Allah swt berkehendak untuk menolak tobat yang dilakukan oleh Firaun yang diucapkan Fiarun pada saat menjelang ajalnya. Dan kemudian Allah swt mengawetkan jasad Firaun sehingga masih utuh bisa dilihat sampai sekarang, dengan maksud agar supaya menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahnya.

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنْ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ
“Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS 10:92)

Demikianlah apabila Allah swt berkehendak, maka kehendaknya itu bisa jadi tidak sesuai dengan hukum manusia, hukum syariat agama ataupun hukum logika.

Bagi anda yang tidak sabar terhadap Nabi Khidir as sebagaimana juga Nabi Musa as dahulu, maka berpisahlah. Tidak perlu untuk saling menyalahkan karena tidak memiliki ilmu dan pengetahuan yang sesungguhnya. Karena boleh jadi apa-apa yang dipersalahkan oleh hukum manusia, hukum syariat agama maupun hukum logika adalah merupakan wujud dari Keinginan Allah swt.

Sebagaimana perbuatan Nabi Khidir as dahulu ketika bersama Nabi Musa as. Sebagaimana Allah swt dahulu juga menolak tobatnya Firaun. Maka boleh jadi pada hari ini Allah berkehendak untuk menolak tobat seorang tokoh yang sepanjang hidupnya telah banyak melakukan perbuatan yang meresahkan penduduk negeri ini. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.41