Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Rabu, 15 Februari 2017

Perintah Berhijrah di Jalan Allah

Berhijrah artinya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya demi untuk mendapatkan lingkungan yang lebih baik. Perintah berhijrah ini dahulu datang dari Allah swt yang memberi petunjuk kepada Rasulullah saw untuk melakukan hijrah dari Mekkah demi untuk mendapatkan kondisi lingkungan yang lebih baik bagi perkembangan syiar agama Islam.

Hijrah yang pertama dilakukan oleh umat Islam adalah hijrah ke Abbessinia atau Habsyi (sekarang Negara Ethiopia) pada tahun 615M. Hal tersebut terjadi karena para pengikut Rasulullah saw saat itu mendapat tekanan dan pertentangan yang sangat kuat dari penduduk Mekkah. Kemudian hijrah yang kedua terjadi pada tahun 622M yang dilakukan oleh umat Islam dan Rasulullah saw sendiri dari Mekkah ke Madinah. Di Madinah itulah kemudian kaum Muhajirin dipersaudarakan dengan kaum Anshar oleh Rasulullah saw, dan di kota Madinah itu jugalah syiar Islam diterima dengan suka cita oleh penduduk kota Madinah.

Sebenarnya peristiwa hijrah ini bukan hanya terjadi pada umat Islam waktu itu saja, karena sejak ribuan tahun sebelumnya hewan-hewan pun sudah melakukan hijrah, yang kita namakan sebagai bermigrasi. Misalnya burung laut Tern di Belanda melakukan migrasi sepanjang 48,700km dari Eropa ke benua Antartika selama musim dingin di Eropa. Ikun hiu putih juga melakukan migrasi sejauh 11,100km dari Afrika Selatan ke pantai barat Australia. Dan di Afrika Timur, ada sejenis kerbau yang dinamakan Wildebeest biru melakukan migrasi sejauh 3000km setiap tahunnya.

Demikianlah hijrah di jalan Allah dilakukan oleh umat Islam dan juga hewan-hewan tadi dalam rangka mengikuti petunjuk Allah swt. Di tempat tujuan hijrah tersebut itulah maka kita akan mendapati kondisi yang lebih lapang dan rezeki Allah yang lebih banyak.

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ
مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 4:100)

Menyelami makna dari ayat tersebut di atas, maka tidaklah mengherankan, apabila kita mendapati fakta dari realitas kehidupan di sekitar kita, bahwa perantau selalu lebih sukses dibandingkan dengan penduduk pribumi.

Kita dapati hal tersebut terjadi pada kasus perantau orang-orang suku Han dari negeri China ke Indonesia dan Malaysia yang terjadi sejak zaman kolonial Belanda dahulu, mereka kaum perantau itu umumnya lebih sukses dalam hal perolehan rezeki dibandingkan dengan penduduk pribumi atau penduduk China daratan yang tidak merantau. Demikian juga yang terjadi pada perantau Yahudi di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, atau para perantau dari Turki di negara-negara Eropa. Atau demikian juga halnya pada para perantau India ke Asia Tenggara, Eropa, Amerika Serikat atau Kanada, lihatlah bagaimana nasib mereka yang merantau itu dibandingkan dengan rata-rata penduduk India yang tidak merantau.

Pada suatu malam pengajian, guru kita menjelaskan kepada murid-muridnya perihal hijrah ini. Guru menganjurkan bahkan bukan hanya berhijrah secara lahiriah saja, tetapi juga kita diajarkan untuk berhijrah secara maknawiyah. Berubah dari karakter yang buruk menjadi lebih baik lagi, dari yang tidak mengerti atau kurang mengerti berubah menjadi orang yang mengerti. Dari keadaan yang masih sering melakukan dosa menjadi orang yang meninggalkan dosa dan bertaubat akan dosa-dosanya itu.

Dan perjalanan hijrah yang paling berat adalah perjalanan hijrah menuju Allah swt, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as. Yaitu perjalanan hijrah untuk melepaskan diri dari keterikatan pada hiasan dunia, kebutuhan dunia dan tipu daya dunia.

فَآمَنَ لَهُ لُوطٌ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَى رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Maka Luth membenarkan (kenabian)nya. Dan berkatalah Ibrahim: 'Sesungguhnya aku senantiasa berhijrah kepada Tuhanku; sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS 29:26)

Demikianlah Rasullullah saw dahulu juga berhijrah dari Mekkah ke Madinah, dengan maksud untuk mendapatkan tempat yang lebih baik bagi perkembangan syiar agama Islam. Dan setelah peristiwa Futhul Mekkah, kota Mekkah akhirnya berhasil ditaklukan dan dikuasai oleh umat Islam, kemudian Rasulullah saw tidak lantas memutuskan untuk pindah kembali ke Mekkah, akan tetapi beliau tetap memutuskan untuk tinggal di Madinah sampai akhir hayatnya. Begitu juga dengan sahabat-sahabat beliau kaum Muhajirin, mereka tetap bersama Rasulullah saw tinggal di Madinah.

Hijrah adalah tonggak yang paling utama dalam perkembangan syiar Islam, sebuah tonggak pertama sebagai penanda sebuah peristiwa sejarah bahwa setelah hijrah itulah keadaan menjadi terbalik. Islam bangkit dan berkembang dengan pesat, sebaliknya kekufuran dan kejahiliyahan suku-suku Arab semakin terdesak. Sedemikian pentingnya hijrah tersebut, sehingga kemudian peristiwa hijrah dijadikan sebagai awal perhitungan tahun kalender Islam. Hijrah adalah tonggak paling bersejarah bagi umat Islam.

Dengan demikian maka hijrah adalah sesuatu yang sangat penting. Apabila anda ingin menorehkan sejarah bagi kehidupan anda, maka berhijrahlah. Baik hijrah secara fisik maupun hijrah secara maknawiyah.

Demikian juga tempat kita berkumpul, pengajian Akhlaqul Karimah Darul Iman telah berpindah-pindah beberapa kali. Mudah-mudahan di tempatnya yang baru kini kita akan mendapatkan kondisi dan hasil yang lebih baik lagi. Ini juga hijrah mengikuti arah Petunjuk Allah. Kita tidak boleh berkecil hati dan takut untuk berhijrah. Segala yang ada di alam ini semuanya berpindah, awan berpindah dan bahkan gunung dan benua pun juga berpindah. Kita pun harus berhijrah, jangan takut untuk berpindah. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 21.50