Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 21 Februari 2017

Belajar Menjadi Orang Yang Ikhlas

Di dalam al-Quran banyak sekali diceritakan tentang orang-orang yang bertakwa. Sebenarnya apakah arti dari takwa tersebut? Takwa, banyak orang mengartikan bahwa orang yang bertakwa adalah orang-orang yang mengerjakan apa-apa yang diperintahkan Allah, dan meninggalkan apa yang dilarang Allah. Secara sederhananya takwa itu adalah seperti kereta yang berjalan di atas rel, nah begitulah takwa. Apabila seseorang berjalan di atas rel, yaitu aturan Allah, maka orang tersebut adalah orang yang bertakwa, sebaliknya apabila orang tadi berjalan di luar relnya, maka dia bukan orang yang bertakwa.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ
أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS 49:13)

Jadi meskipun manusia itu terdiri dari berbagai macam suku, ras dan bangsa, maka yang paling mulia di sisi Allah swt adalah yang paling takwa. Jadi Allah swt tidak memandang suku, ras dan bangsa seseorang, parameter kemuliaan di sisi Allah swt adalah ketakwaan seseorang.

Nah, tingkat ketakwaan seseorang itu bermacam-macam, dan yang paling tinggi tingkatan takwanya adalah para mukhlisin, yaitu orang-orang yang ikhlas.

Orang yang ikhlas adalah orang-orang bertakwa yang motivasinya dalam mengerjakan amal shaleh dan amal kebajikan bukanlah karena pahala, bukan karena iming-iming surga atau karena ancaman api neraka. Orang-orang yang ikhlas adalah orang-orang yang mengerjakan amalan-amalan mereka karena semata-mata mengharapkan ridho Allah swt. Itu saja.

Pada suatu ketika guru kita ditanya oleh salah seorang muridnya: apakah amalan yang paling baik itu? Guru kita menjawab, yaitu apabila kalian melaksanakan amal shaleh seperti berzikir kepada Allah, meskipun sedikit tapi dilakukan dengan ikhlas. Sebagaimana Allah swt juga menyatakan bahwa tidak ada amalan yang lebih baik dibandingkan dengan amalan yang dilakukan dengan ikhlas.

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS 4:125)

Apabila seorang hamba Allah yang mukhlisin sedang melaksanakan amal shaleh dengan ikhlas, maka dia tidak pernah berhitung tentang pahala, atau ganjaran surga. Bahkan, pada saat itu dia juga tidak pernah memikirkan dirinya sendiri, yang ada dalam hati dan pikirannya hanyalah Allah semata. Bukan yang lainnya. Itulah sebabnya mengapa iblis tidak berani menggoda orang-orang yang ikhlas. Sebab iblis memahami bahwa menghadapi orang yang ikhlas, sama saja dengan berhadapan dengan Allah.

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka". (QS 15:39-40)

Iblis tidak berani menghadapi orang yang ikhlas, karena iblis mendapati di dalam pikiran dan hati orang yang ikhlas tersebut hanya ada Kepentingan dan Keinginan Allah saja, tidak ada keinginan dan ego pribadi orang tadi. Dan iblis takut kepada Allah swt.

Pada satu titik, pada saat khusyu berzikir kepada Allah, dimana seorang mukhlisin melupakan dirinya sendiri, pikirannya terfokus hanya kepada Allah swt, dan hatinya hanyut pada perasaan berhadapan dengan Allah, maka itulah saat yang oleh beberapa ahli sufi disebut sebagai saat fananya seseorang. Ego dan kepentingan pribadi seseorang sirna, hanyalah Kepentingan dan Keinginan Allah swt yang wujud.

Begitulah bagaimana guru kita, bukan saja mengajarkan murid-muridnya arti dari amal shaleh, arti dari berzikir kepada Allah swt, tetapi juga mengajarkan bagaimana belajar untuk menjadi ikhlas. Mengosongkan keinginan untuk mendapat pahala yang besar atau ganjaran surga. Hanya semata-mata berharap pada Ridho Allah, itu saja. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 22.44