Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 25 Februari 2017

Agama Bukanlah Tujuan

Ada suatu tempat, dimana batas antara kebenaran dan kekeliruan sangat tipis. Ada suatu tempat dimana batas antara jalan yang lurus dan jalan yang sesat sangat tipis bedanya. Dan untuk membedakan jalan tersebut, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar mengerti makna Tauhid yang sebenarnya.

Sekian lamanya mengikuti alur pemahaman yang selama ini disampaikan oleh guru kita, maka inti utama dari beriman kepada Allah adalah men-Tauhidkan Allah swt, dimana saja kita berada dan kapan saja. Manusia, bagaimanapun keadaan dan kehebatannya harus takluk menjadi hamba Allah, dan mengakui bahwa dimana saja manusia berada, ke arah manapun manusia menghadap dan menerawang, maka nun jauh di sana di setiap ujung-ujungnya hanyalah Allah Yang Ada.

Agama yang diturunkan Allah melalui para Rasul-RasulNya, mulai dari yang pertama sampai dengan Rasul terakhir, semuanya membawa pesan yang sama: menyadarkan manusia untuk ber-Tauhid kepada Allah swt. Sedangkan sebenarnya, agama itu sendiri bukan lah tujuan, tapi aturan dan petunjuk agar manusia menyadari dan memahami keharusannya untuk ber-Tauhid kepada Allah swt.

Coba anda perhatikan masyarakat muslim di sekeliling kita saat ini. Para ustadz memberikan ceramah mengajak kepada seluruh muslim untuk senantiasa membaca al-Quran, juz demi juz sampai khatam beberapa kali. Seakan-akan mengajak seluruh masyarakat muslim untuk giat membaca al-Quran adalah sudah menjadi tujuan dari gerakannnya. Apakah ini benar atau keliru?

Guru kita menjawab: ini adalah keliru. Al-Quran bukan ditujukan semata-mata hanya untuk dibaca, tetapi dikaji dan dijalankan isinya. Membaca al-Quran bukanlah tujuannya, tetapi mendapatkan petunjuk Allah itulah tujuan yang seharusnya. Dan anda tidak akan memperoleh petunjuk Allah hanya dengan membaca al-Quran saja. Anda harus mengkaji dan memahami betul isi al-Quran, lalu menjalankan isinya serta kemudian melewati berbagai cobaan dan rintangan yang ada, dan jika Allah meridhoinya barulah anda akan memperoleh petunjuk Allah.

Dengan demikian maka membaca al-Quran bukanlah suatu kewajiban, mengapa para ustadz sekarang memaksakannya seakan-akan hal ini menjadi suatu kewajiban bagi seorang muslim? Sebagai syarat bahwa tanpanya maka Allah tidak akan memberikan pertolongan? Dari mana asal hukum dan pendapat yang seperti ini?

Rasulullah saw adalah seorang yang buta huruf dan tidak pandai membaca al-Quran, begitu juga guru kita bukanlah seorang qiraah pembaca al-Quran. Karena yang diperintahkan Allah swt pada saat menurunkan ayat al-Quran yang pertama (“Iqra!”) adalah: bukan membaca tulisan kitab. Melainkan membaca petunjuk Allah yang tidak tertulis.

Jadi seharusnya bukan memaksakan umat Islam untuk banyak-banyak membaca al-Quran, tetapi yang seharusnya adalah mengkaji isi al-Quran itu sendiri sehingga seorang manusia dapat mengenal Rasul dan Tuhan, kemudian mengimani Tuhan dan RasulNya beserta seluruh kalimat-kalimatNya. Meskipun buta huruf.

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِ وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk". (QS 7:158)

Itulah letak kekeliruannya, menjadikan agama sebagai tujuan bukan sebagai petunjuk untuk dijalani. Tujuan itu sendiri seharusnya adalah Allah swt.

Sholat tepat pada waktunya, menegakan syariat agama, menghukum manusia yang tidak berpuasa, memerangi kaum yang tidak membayar zakat, semua itu bukanlah tujuan. Tidak ada kebaikannya bagi manusia itu sendiri, apabila dia melaksanakan ibadah, menegakan syariat agama, tetapi tidak beriman kepada Allah.

Dari berbagai macam aturan syariat dan agama yang telah diturunkan Allah swt ke muka bumi ini, dari Nabi Adam as sampai dengan Nabi Muhammad saw, tujuannya adalah untuk menyadarkan manusia agar manusia itu ber-Tauhid kepada Allah swt. Sedangkan agama adalah jalan, alat, aturan atau petunjuk bagi manusia untuk bisa sampai kepada yang dituju, yaitu Allah swt. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.54