Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 04 Maret 2017

Mengharap Keridhaan Allah

Dalam beberapa kesempatan di pengajian, guru kita mengulang-ulang pernyataan betapa pentingnya meluruskan niat dan harapan dari setiap amal baik yang kita lakukan, yaitu semata-mata adalah untuk mengharapkan ridha dari Allah swt. Jadi bukan demi untuk memperoleh nilai pahala yang sebesar-besarnya, ataupun surga, ataupun banyaknya rezeki.

Sebenarnya Ridha Allah itu seperti apa? Ridha Allah itu adalah sesuatu niat, harapan seseorang yang kemudian diwujudkan dalam suatu perbuatan yang sesuai dengan Petunjuk, Kehendak dan Tuntunan Allah swt.

Seseorang bisa saja dalam melakukan suatu kebajikan demi untuk mengharapkan ridha Allah, akan tetapi ternyata kemudian Allah swt tidak meridhainya, meskipun perbuatan itu mendapat izin dari Allah. Adalah berbeda, perbuatan yang dirihai Allah dan perbuatan yang diizinkan Allah. Tidak semua perbuatan yang diizinkan Allah adalah perbuatan yang diridhai Allah swt. Apakah setiap orang mendapat Petunjuk Allah? Apakah setiap orang mengetahui apa Kehendak Allah? Kalau tidak mengetahui apa Kehendak Allah, jadi bagaimana seseorang bisa mengharapkan bahwa Allah akan meridhai perbuatannya?

Setiap perbuatan yang terjadi pasti mendapat izin dari Allah swt, baik itu perbuatan baik, jahat maupun sia-sia, semuanya pasti mendapat izin dari Allah swt. Bahkan perbuatan yang mendatangkan musibah sekali pun juga atas izin Allah swt.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS 64:11)

Meskipun seseorang mengharapkan ridha Allah dalam melakukan suatu kebajikan, boleh jadi Allah swt tidak memberikan ridha-Nya. Karena perbuatan yang dilakukannya itu ternyata tidak sesuai dengan Petunjuk atau Kehendak dan Tuntunan Allah swt. Jadi dengan demikian maka penting sekali untuk mengetahui Petunjuk Allah sebelumnya, sehingga kemudian apabila kita melaksanakan Petunjuk tersebut maka perbuatan tersebut akan diridhai Allah.

Bagaimana caranya agar kita bisa mendapat Petunjuk Allah langsung? Caranya yaitu dengan menjadikan diri kita ini benar-benar beriman kepada Allah swt. Coba perhatikan ayat tadi, barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.

Bagaimana caranya agar kita bisa menjadi orang-orang yang beriman kepada Allah? caranya datanglah sering-sering ke pengajian yang di dalamnya guru kita akan memberikan banyak sekali pelajaran bagaimana kita bisa menjadikan diri ini benar-benar beriman kepada Allah swt.

Nah, setelah kita mengetahui Petunjuk Allah tersebut, dan kemudian kita melaksanakan perbuatan yang sesuai dengan Petunjuk tadi, barulah kemudian kita bisa mengharapkan ridha Allah swt.

Jadi ternyata ridha Allah itu tidak datang dengan serta merta, atau sesuai dengan harapan kita. Bahkan kadang-kadang meskipun sekiranya Rasulullah saw ridha, belum tentu Allah meridhai pula. Berikut ini adalah dasarnya di dalam al-Quran.

يَحْلِفُونَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنْ تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَرْضَى عَنْ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ
“Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu.” (QS 9:96)

Kadang-kadang keridhaan Allah itu tidak sesuai dengan aturan sosial atau syariat agama. Misalnya saja seperti yang pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim as ketika beliau meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua di di tanah yang kering dan tandus seorang diri, atau ketika beliau ingin menyembelih anaknya Ismail as. Semua yang beliau laksanakan itu adalah semata-mata menunaikan perbuatan atas dasar Petunjuk Allah swt. Begitulah keridhaan Allah, kadang-kadang tidak sesuai dengan norma sosial dan norma agama. Ya, begitula keridhaan Allah swt.

Jadi kesimpulannya beriman lah dahulu, baru mendapat Petunjuk Allah, maka setelah itu baru kita bisa mengharapkan Keridhaan Allah swt. Tidak bisa sekonyong-konyong kita bisa langsung mengharapkan ridha Allah. Sungguh hal ini adalah ajaran agama yang paling adil dan paling masuk akal. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 11.37