Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 07 Maret 2017

Menemukan Ujung Perjalanan Antara Wirid dan Zikir

Guru kita menjelaskan bahwa perbedaan antara Wirid dengan Zikir adalah pada niat dan tujuannya. Apabila kita melaksanakan sesuatu karena memiliki keinginan, atau permintaan tertentu kepada Allah swt, maka itulah yang disebut dengan Wirid. Akan tetapi apabila kita melakukannya tanpa ada permintaan apa-apa, semata-mata ingin mengingat Allah, menjalin hubungan vertikal kepada Allah dan hanya ingin mengikhlaskan diri kepada Kehendak Allah, maka itulah yang disebut dengan Zikir.

Jadi antara Wirid dengan Zikir adalah perwujudan amal yang didasari atas keinginan manusia ataukah Keinginan Allah swt. Antara mengangkat keinginan manusia Naik ke atas langit, dan menyelaraskan diri dengan Kehendak Allah yang Turun dari atas langit. Jadi antara Wirid dengan Zikir adalah identik dengan antara yang Naik ke atas langit dengan Yang Turun dari atas langit.

Dua-duanya ada dan merupakan kenyataan yang harus disadari keberadaannya. Wirid dan Zikir, keinginan manusia dan Kehendak Allah, Naik dan Turun, yang membentuk siklus kehidupan di dunia ini.

Sebagaimana juga siklus nafas, antara menghembuskan dan menghirup udara, demikian juga antara yang Naik dan yang Turun, keduanya saling sambung menyambung membentuk siklus yang berulang-ulang. Sehingga akhirnya kita akan menyadari bahwa apa pun yang ada di dunia dan di langit, dimana saja kita melihat dan mengarahkan pandangan, yang kita lihat adalah siklus. Siklus nafas, siklus peredaran darah, siklus siang dan malam, siklus elektron-elektron mengelilingi inti atom. Semuanya adalah siklus, itulah lingkaran kehidupan, itulah Wajah Allah apabila anda menyadarinya.

اشهد ان لا إله إلا الله
ASYHADU ALLA ILAA HA ILLALLAH

Kita mengangkat segala urusan dan persoalan hidup dan kehidupan NAIK ke atas ke Arasy Allah swt. Lalu kemudian diikuti oleh:

وأشهد ان محمد رسول الله
WA ASYHADU ANNA MUHAMMAD ROSULULLAH

Kita menerima Ketetapan dan Kehendak yang TURUN dari Allah swt yang menetapkan Muhammad sebagai utusan-Nya.

Cobalah anda mulai menyadarinya, bahwa semua yang ada ini adalah siklus NAIK dan TURUN, sebagaimana halnya siklus nafas antara Menghirup dan Menghembuskan. Maka kelak mudah-mudahan apabila Allah swt meridhai, maka anda akan memiliki suatu kesadaran baru. Kesadaran bahwa diri kita ini bukan hanya badan fisik semata, tetapi kita juga memiliki Ruh, yang ghaib. Jadi sebenarnya kita juga merupakan mahluk ghaib, apakah anda menyadari itu?

Cobalah anda mulai merasakan ruh anda sendiri, bukankah ruh juga bernafas? Cobalah anda mulai memperhatikan lagi, pada saat ruh bernafas dalam satu siklus, dari manakah asal muasal ruh menghirup nafas, dan dimana ujungnya saat ruh menghembuskan nafas. Apabila anda sudah berhasil menemukan ujung-ujung nafas ruh anda, maka anda sudah berhasil menemukan ilmu Allah sehingga melaluinya Nabi Isa as melalui Ruhul Qudus dapat menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal.

Demikian juga halnya dengan Wirid dan Zikir, dalam satu siklus antara Wirid dan Zikir, apabila anda sudah bisa menyelaraskan antara keinginan anda yang NAIK kepada Allah dengan Kehendak Allah yang TURUN kepada hati anda, maka anda adalah seorang dari Wali Allah.

Apabila antara ASYHADU ALLA ILAA HA ILLALLAH dan WA ASYHADU ANNA MUHAMMAD ROSULULLAH, anda sudah berhasil menselaraskannya dengan Menghirup dan Menghembuskan nafas, maka anda adalah salah satu diantara para Syahidiin, orang-orang yang Bersaksi, dalam hidup di dunia maupuan setelah mati.

Demikianlah tulisan ini dibuat, mudah-mudahan bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua, bahwa Allah Yang Maha Tinggi Ilmunya itu sebenarnya ada di sebelah kita, tidak jauh. Dia Melihat dan Memahami persoalan kita, bahkan lebih dulu sebelum kita sendiri mengetahui persoalan kita. Dia dekat, tidak jauh, maka mendekatlah jangan menjauhiNya. Jadikan Wirid dan Zikir sebagai upaya untuk mendekatiNya, terus menerus semakin mendekat dan lebih dekat lagi, sehingga apabila sudah sangat dekat maka Allah swt akan membuka tirai-Nya, maka terbukalah hijab antara kawula dan Gusti. Byaaar! Maka semua menjadi terang dan jelas, tidak ada lagi satu pun yang tersembunyi. Anda akan mengetahui segalanya tanpa belajar, karena memang anda sudah berjumpa dengan Pengetahuan itu sendiri.

سَلاَمٌ قَوْلاً مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ
“’Salam’, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (QS 36:58)

Ucapan Selamat itu bukan keluar dari mulut seorang Nabi atau Rasul atau Malaikat, tetapi ucapan itu adalah keluar dari Tuhan Yang Maha Penyayang sendiri. Selamat.... Selamat...... Selamat, anda sudah sampai di ujung perjalanan. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.58