Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 11 Maret 2017

Merencanakan Hari Esok

Pada suatu malam pengajian, guru kita mengajarkan dan mencontohkan bagaimana seharusnya sikap dan pendirian seorang yang beriman kepada Allah swt dan hari akhir dalam merencanakan hari esok. Bahwa seorang yang beriman itu, tidak diharuskan untuk mengkhawatirkan hari esoknya setelah yang bersangkutan menyerahkan segala urusan dan persoalan kehidupannya baik di dunia maupun di akhirat nanti kepada Allah swt.

Derajat kecerdasan seseorang itu dinilai dari bagaimana yang bersangkutan merencanakan hari esoknya. Seseorang dengan tingkat kecerdasan yang rendah bahkan tidak mempunyai rencana apa-apa terhadap hari esoknya. Kemudian seseorang dengan tingkat kecerdasan yang lebih tinggi, dia akan melakukan sesuatu pada hari ini demi untuk mempersiapkan apa yang harus disongsong di hari berikutnya. Akan tetapi seseorang yang memiliki kecerdasan lebih lagi, maka dia akan mempersiapkan sesuatunya untuk hari esok yang lebih jauh lagi. Demikian lah seterusnya, kecerdasan seseorang itu dinilai dari seberapa jauh hari esok yang akan disongsongnya dan dipersiapkan kedatangannya semenjak hari ini. Semakin jauh dia mampu melihat hari esok, maka semakin cerdas lah dia.

Orang-orang kafir, orang-orang yang tidak beriman terhadap kehidupan akhirat dan orang-orang yang terlena dengan kehidupan duniawi serta lupa terhadap akhirat, maka dia akan mempersiapkan kehidupannya hanya untuk sebatas hari esok selama hidup di dunia ini saja. Tidak atau lupa terhadap hari akhirat, hari esok yang sesungguhnya.

Sedemikian gilanya manusia terhadap kehidupan dunia, sehingga mereka mengkhawatirkan dirinya dari kesusahan dan ketidakbahagiaan dalam kehidupan di dunia ini. Mereka menabung demi untuk persiapan masa tua nanti, membeli polis dan membayar premi asuransi demi untuk mempersiapkan dirinya apabila nanti harus masuk rumah sakit. Menumpuk kekayaan banyak-banyak demi untuk investasi masa depan. Mereka takut, mereka khawatir bahwa nantinya dalam kehidupan di dunia ini mereka akan kesusahan dan menderita.

Itulah gambaran sikap dari orang-orang yang tidak atau belum beriman kepada Allah swt. Meskipun diantara mereka yang digambarkan di atas adalah orang-orang yang mengaku beragama Islam. Khawatir akan hari esok, dimana hari esoknya adalah kehidupan di dunia ini saja.

Padahal, tanpa berdoa atau meminta kepada Tuhan, maka Allah swt sendiri sudah menjamin ketersediaan rezeki bagi setiap mahluk selama hidup di dunia ini. Jangankan manusia, bahkan binatang melata pun sudah dijamin Allah swt.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS 11:6)

Adapun terhadap kehidupan di dunia ini, guru kita mencontohkan hidup yang sederhana dan bersahaja. Tidak perlu terlampau merisaukan atau mengkhawatirkannya, karena kehidupan dunia ini ternyata hanya sebentar saja. Tidak perlu khawatir apabila tidak memiliki tabungan atau asuransi kesehatan, karena kehidupan di dunia ini ternyata sepenuhnya diatur oleh Allah swt. Dia mengetahui siapa orangnya yang memiliki atau tidak memiliki kekayaan atau pun tabungan di hari tuanya. Dan Dia adalah Pemimpin Yang Maha Bijaksana.

Adapun rata-rata umur orang Indonesia adalah sekitar 70 tahun saja, itu artinya anda mungkin hanya akan merasakan 70 kali musim hujan dan 70 kali musim kemarau. Apabila sekarang usia anda sudah mencapai 40 tahun, maka sisa waktu hidup anda mungkin hanya sekitar 30 kali musim hujan atau 30 kali musim kemarau saja. Tidak lebih dari itu. Sungguh singkat bukan?

Seseorang yang cerdas, maka dia melihat masa depannya, hari esoknya bukanlah kehidupan di dunia saat ini, akan tetapi di akhirat nanti. Suatu saat kelak, setelah kematian maka setiap manusia akan dibangkitkan kembali, memulai suatu babak kehidupan yang baru lagi. Itulah hari esok yang sesungguhnya. Itulah orang yang cerdas, apabila dari sekarang dia telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk kehidupan di hari esok yang sesungguhnya itu.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 59:18)

Jika anda tinggal di kaki gunung yang sebentar lagi akan meletus, dan anda melihat kebanyakan orang-orang tidak mempersiapkan apa-apa untuk menyongsong letusannya. Mereka kebanyakan malahan sibuk berebut makanan, sibuk menimbun padi di lumbung-lumbung desa dan sibuk berebut lahan untuk persawahan. Maka tatkala hari esok itu tiba, gunung meletus, maka sungguh sia-sia saja apa yang kebanyakan orang-orang tadi usahakan, bukan?

أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS 11:16)

Saudaraku, hanya beberapa musim lagi akan terlewatkan begitu saja, tanpa kita sadari bahwa waktu akan berlalu begitu cepat. Tidak lama lagi. Sungguh tidak lama lagi. Waktu kita hanyalah tinggal sedikit saja. Waktu yang ada hanyalah sisa.... hanyalah sisa. Mari kita mempersiapkan segala sesuatunya untuk hari esok. Mumpung masih ada sisa waktu. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.53