Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 04 April 2017

Koreksi Pelaksanaan Ibadah Qurban

Dalam suatu pengajian di malam itu, guru kita mengajarkan kepada murid-muridnya perihal masalah ibadah qurban. Tulisan berikut ini adalah kira-kira isi kandungan dari pengajaran guru kita itu.

Ibadah Qurban yang biasa dilaksanakan oleh umat Islam setiap tahunnya, sebenarnya merupakan salah satu ibadah yang sudah ada sejak zaman Nabi Adam as dahulu. Ketika itu Nabi Adam as memerintahkan anak-anaknya, Qabil dan Habil, untuk melaksanakan qurban, sambil untuk menguji qurban siapakah yang akan diterima oleh Allah swt.

Ternyata kemudian Allah swt menerima qurban dari salah seorang anak Nabi Adam as, yaitu Habil, yang mempersembahkan hewan qurban yang terbaik, dengan hati yang tulus ikhlas dan penuh dengan ketakwaan kepada Allah swt.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنْ
الآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنْ الْمُتَّقِينَ

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa." (QS 5:27)

Hikmah dari kisah ini ialah, bahwasanya ada praktek pelaksanaan ibadah qurban yang diterima oleh Allah swt, dan ada yang tidak. Dan ternyata hal ini masih relevan hingga saat ini.

Pelaksanaan ibadah qurban yang dilaksanakan setiap tahunnya oleh umat Islam, ternyata masih jauh dari nilai-nilai hakiki yang seharusnya dicapai bagi mereka yang melaksanakannya. Dengan berbagai macam argumentasi dan dalil dari kitab-kitab hadits, maka ada beberapa kekeliruan dalam hal praktek pelaksanaan ibadah qurban tersebut.

Kekeliruan pertama adalah saat pelaksanaan penyembelihan hewan qurban yang teryata, setelah diperhatikan, tidak sesuai dengan contoh yang diberikan oleh Rasullullah saw dahulu. Pada saat ini biasanya hewan disembelih hanya dengan cara membaca Basmallah dan Takbir, dan kemudian disembelih dengan menggunakan pisau yang tajam agar supaya hewan tersebut cepat mati. Itu saja. Tidak pernah diperhatikan bagaimana cara hewan tersebut melepaskan nyawanya, kemana darah tempat sukma hewan tersebut harus terkumpul, bagaimana cara mengantarkan nyawa dari hewan tersebut kembali kepada Allah swt, dsb. Kesemuanya itu tidak pernah diperhatikan.

Sehingga yang terjadi saat ini adalah hewan qurban beraroma hewan, itu tandanya bahwa proses lepasnya nyawa dari hewan tidak sempurna. Sehingga daging yang ditinggalkan oleh hewan tersebut juga tidak sempurna. Beraroma hewan.

Kekeliruan berikutnya adalah dalam tata cara pembagian dan pendistribusian daging hewan qurban. Pada zaman Rasulullah saw dahulu, penduduk Madinah kebanyakan adalah terdiri dari orang-orang miskin. Abu Hurairah ra, misalnya, dia tinggal hanya dengan menumpang di emperan masjid Nabawi. Hanya segelintir saja dari penduduk kota Madinah yang berkecukupan, sedangkan sebagian besar lainnya adalah penduduk miskin. Oleh sebab itu maka Rasulullah saw memerintahkan agar daging hewan qurban tersebut dibagi-bagikan kepada para tetangga dan penduduk di sekitar Madinah, yang nota bene kebanyakan dari mereka itu adalah keluarga miskin.

Dengan pendistribusian daging hewan qurban kepada orang-orang miskin, maka pembagian yang seperti ini akan mempunyai dampak sosial yang sangat signifikan, yaitu orang-orang yang berkecukupan yang menyerahkan daging hewan qurban kepada penduduk miskin, maka dalam hal penyerahan daging hewan qurban tersebut akan terjadi proses saling menyayangi dan mengasihi. Orang-orang yang berkecukupan dengan ikhlas akan memperhatikan dan mengasihi para penduduk miskin, demikian juga sebaliknya para penduduk miskin tersebut akan merasa bahagia menerima hadiah daging hewan qurban sehingga mereka pun akan merasa senang dan sayang terhadap orang-orang yang lebih berkecukupan.

Dengan demikian maka kenyataan kehidupan yang diciptakan Allah swt, ada orang kaya dan ada orang miskin, akan menjadi sumber kebajikan untuk saling mengasihi dan saling menyayangi di antara mereka. Inilah jalan Cahaya, praktek kehidupan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw dahulu.

Adapun praktek pembagian distribusi daging hewan qurban saat ini kebanyakan tidak seperti itu. Daging hewan qurban dibagikan pertama-tama kepada petugas penyembelih, kemudian kepada pemberi hewan qurban dan selanjutnya daging didistribusikan kepada tetangga sekitar lingkungan. Seringkali yang terjadi adalah bahwa tetangga di sekitar lingkungan terdiri dari orang-orang yang sudah berkecukupan, dan sebenarnya tidak terlalu mengharapkan pemberian daging hewan qurban.

Nun agak jauh dari lingkungan tempat tinggal tadi, ternyata banyak sekali orang-orang miskin, para gelandangan dan orang-orang melarat yang tidak kebagian kupon pembagian daging hewan qurban. Mereka jauh lebih mengharapkan pemberian daging hewan qurban tersebut, dan mereka jauh lebih berhak untuk mendapatkan, tetapi sayang ternyata mereka tidak kebagian.

Hal seperti ini adalah praktek pendistribusian daging hewan qurban yang diinginkan oleh musuh manusia yaitu syaithan. Tujuannya adalah agar supaya, Allah menciptakan kenyataan adanya orang kaya dan orang miskin, agar mereka itu saling menghujat, saling membenci dan menjadikan jurang pemisah antara keduanya semakin dalam dan semakin lebar. Sehingga orang kaya dan orang miskin satu sama lainnya saling tidak peduli.

Demikian lah Allah swt, sejak awal mula pertama kali menurunkan manusia ke muka bumi ini telah memberikan suatu pelajaran yang baik tentang qurban. Bahwa ternyata ada praktek qurban yang diterima oleh Allah swt, dan ada pula yang tidak. Cobalah kita saat ini mengoreksi kembali diri kita masing-masing, apakah kita akan mengikuti jejak langkah Qabil atau kah Habil?

Seseorang yang cerdas bukanlah orang yang hafal ayat-ayat al-Quran dan Hadits, orang yang cerdas adalah orang yang tidak terpedaya oleh tipu daya syaithan. Itulah mereka orang-orang yang mau mempergunakan akalnya. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.28