Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Rabu, 05 April 2017

Mendidik Istri Menjadi Wanita Sholihah

Definisi dari wanita Sholihah yang dapat kita temukan dalam al-Quran adalah wanita yang taat kepada Allah swt dan mereka itu pandai memelihara diri ketika suaminya tidak ada, disebabkan karena memang Allah telah memelihara diri mereka. Jadi wanita sholihah adalah memang wanita yang sedari semula telah dipelihara ketaatan dan kehormatannya oleh Allah swt.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ
أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)....” (QS 4:34)

Saat ini jumlah dari wanita sholihah ini sangat sedikit sekali, dan semakin hari jumlahnya semakin sedikit saja. Sehingga hampir mustahil saat ini kita bisa mendapatkan wanita sholihah sebagaimana yang telah digambarkan dalam al-Quran tadi.

Bukti dan referensi sejarah tentang wanita sholihah yang hidup di zaman Rasulullah saw, misalnya seperti siti Khadijah ra, menjadi tipe atau model ideal dari gambaran seorang wanita sholihah. Di saat-saat suaminya membutuhkan dukungan untuk menegakan agama Tauhid, maka istrinya lah yang menjadi orang pertama yang mendukung dan membelanya. Wanita yang senantiasa cenderung dan mengajak kepada ketaatan kepada Allah swt.

Siti Hawa juga merupakan salah seorang figur dari wanita sholihah. Dia diciptakan Allah swt untuk menemani Adam, dia dididik langsung oleh Allah swt sehingga bisa menjadi figur seorang istri yang sholihah.

Akan tetapi ternyata karakter dari wanita sholihah itu bukan berarti kebal terhadap godaan syaithan. Pada saat syaithan menggoda Adam dan Hawa untuk mendekati pohon kayu yang terlarang, maka siti Hawa justru menjadi orang yang pertama kali tergoda untuk mendekati pohon terlarang dan memakan buahnya. Iblis mendapati bahwa ternyata wanita lebih mudah untuk dihasut pikirannya, dibandingkan dengan laki-laki.

Jadi dengan demikian, kondisi yang kita hadapi saat ini adalah, bukan saja sangat sulit untuk bisa mendapatkan wanita sholihah, namun ternyata wanita sholihah sekalipun tidak kebal terhadap hasutan dan tipu daya iblis. Gabungan kondisi seperti ini merupakan suatu tantangan yang berat bagi kita, apakah kita bisa melalui tantangan ini atau tidak. Suatu keadaan dan kondisi yang merupakan cobaan dari Allah swt dalam kehidupan di dunia saat ini.

Nah, demikian juga halnya dengan keadaan sebagian besar rumah tangga kita saat ini. Boleh jadi bahwa istri kita akan menghalang-halangi kita dari ketaatan kepada Allah swt. Karena memang seorang istri, apalagi yang jauh dari nilai ideal istri yang sholihah, mereka itu rentan sekali terhadap hasutan dan tipu daya syaithan. Sering kali justru terjadi bahwa seorang istri menghalangi suaminya untuk pergi ke jalan yang lurus dan selamat, seperti misalnya menghadiri pengajian Tauhid.

Dalam kondisi yang seperti ini, guru kita mengingatkan kepada murid-muridnya agar bersabar. Kita harus menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh seorang istri adalah hasil dari hasutan dan tipu daya syaithan ke dalam pikirannya, bukan murni karena niat dan keinginan dari istri itu sendiri. Jadi kita tidak boleh membenci dan memusuhi istri. Sebagaimana dahulu Nabi Adam as pun tidak pernah membenci dan memusuhi siti Hawa. Mereka tidak pernah saling menyalahkan.

Guru kita juga mengajarkan kepada murid-muridnya, bahwa keluarga yang sedang kita bangun ini, bagaimana pun kondisinya, adalah lahan untuk tempat belajar sabar dan mempasrahkan segalanya kepada Allah swt.

Istri-istri kita barangkali jauh dari kategori ideal wanita sholihah. Masih sering termakan dan hanyut oleh bujuk rayu atau tipu daya syaithan. Tapi kita tidak boleh menyerah, mintalah kepada Allah swt untuk memelihara istri-istri kita. Karena hanya atas dasar pemeliharaan dari Allah swt saja, maka seorang istri bisa menjadi istri yang sholihah. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.45