Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 10 April 2017

Tidak Ada Paksaan Dalam Agama

Tidak ada paksaan dalam agama, ini adalah prinsip yang sangat mendasar dalam praktek beragama yang dicontohkan oleh Rasulullah saw dahulu. Sehingga tidak ada satu pun aturan atau pun praktek beragama yang dipaksakan pelaksanaannya oleh Rasulullah saw. Bahkan untuk masalah penerapan hukum syariat sekalipun, sama sekali tidak ada hal yang dipaksakan.

Sehingga dengan demikian maka seluruh sahabat-sahabat beliau menjalankan perintah agama dan hukum syariat berdasarkan pada kesadaran yang luhur dan keikhlasan dari tiap-tiap anggota masyarakat Islam saat itu.

Demikian juga yang diterangkan oleh guru kita kepada murid-muridnya pada malam pengajian saat itu. Tidak ada paksaan dalam beragama. Biar bagaimana pun dan dalam situasi seperti apa pun, kita tidak boleh memaksakan seseorang untuk beriman. Tugas kita hanyalah menyampaikan kebenaran, menyampaikan petunjuk Allah atau menyampaikan perintah Allah. Itu saja, hanya sekedar menyampaikan. Kemudian selanjutnya adalah bagian dari Hak Allah swt untuk menetapkan apakah seseorang itu menjadi beriman ataukah tidak.

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنْ الغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ
فَقَدْ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan dalam agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 2:256)

Dalam ayat di atas, disebutkan bahwa apabila seseorang mengingkari thoghut, yaitu syaithan kehidupan, dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali pegangan yang kuat. Tali pegangan yang kuat tersebut ialah petunjuk Allah. Karena tanpa petunjuk Allah, meskipun di tangan kita ada kitab Allah, maka hal itu tidak menjamin bahwa kita tidak akan tersesat. Contohnya adalah kaum Yahudi dan Nasrani.

Demikianlah guru kita menyadarkan murid-muridnya untuk menjadi orang-orang yang beriman kepada Allah, orang yang sebenar-benarnya mengakui dan menyakini Allah swt. Menjadi orang-orang yang hanya bergantung kepada tali petunjuk Allah, bukan menjadi seorang ahli kitab.

Maka hanya orang-orang beriman yang mendapat naungan dan bimbingan Allah saja yang kelak akan selamat dalam mengarungi kehidupan di dunia ini, selebihnya adalah orang-orang yang akan tersesat dalam menyusuri jalan kehidupan ini. Meskipun mereka ahli dalam Kitab Allah, tidak menjamin bahwa seorang ahli kitab tidak akan tersesat kalau tanpa petunjuk dari Allah.

وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ
ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS 18:17)

Saat ini banyak sekali orang-orang Islam yang gemar sekali memaksakan keyakinannya kepada orang lain. Memaksakan penerapan syariah kepada orang lain agar supaya hukum dan aturan syariah di negeri ini bisa tegak. Tanpa memikirkan dan mengindahkan keinginan orang lain.

Beramai-ramai sekelompok pemuda Islam melakukan razia di warung-warung makan pada saat bulan Ramadhan. Masyarakat dipaksa untuk mematuhi aturan syariat Islam.

Beberapa kelompok lainnya menginginkan diberlakukannya hukum syariat Islam di negeri ini. Maksudnya agar setiap wanita bisa dipaksa untuk mengenakan jilbab. Setiap orang bisa dipaksa untuk melaksanakan syariat Islam. Bagi yang tidak melakukan sholat, padahal sudah aqil baligh. akan dihukum. Bagi yang tidak melakukan puasa di bulan Ramadhan akan dihukum.

Semua orang dipaksa untuk melaksanakan aturan syariat Islam, suka atau tidak suka, harus.

Apakah Allah menyukai hal yang seperti itu? Adakah Rasulullah saw dahulu mencontohkan hal yang seperti itu?

Allah swt tidak menghendaki pemaksaan dalam hal praktek beragama. Semuanya itu dilandasi oleh kesadaran, oleh keikhlasan. Bukan oleh pemaksaan dan keterpaksaan, justru perlakuan dan pelaksanaan syariat Islam yang dilandasi oleh keterpaksaan tidak ada artinya apa-apa di hadapan Allah swt. Sesuatu yang dilakukan tanpa keikhlasan tidak memiliki nilai apa-apa di hadapan Allah swt. Amalan yang seperti itu akan sirna bagaikan debu yang diterbangkan angin.

Bahkan seorang Nabi dan Rasul sekali pun tidak berhak untuk memaksakan keimanan dan keyakinan agamanya kepada keluarganya sendiri. Nabi Adam as tidak bisa memaksakan agama kepada anaknya Qabil, demikian juga Nabi Nuh as tidak bisa memaksakan agamanya kepada anaknya Kan’an, Nabi Luth as tidak bisa memaksakan agamanya kepada istrinya Wa’ilah, dan Nabi Ibrahim tidak bisa memaksakan agamanya kepada ayahnya Azar. Demikianlah seterusnya sebagaimana Nabi Isa as pun tidak bisa memaksakan agamanya kepada sanak familinya, dan begitu juga Rasulullah saw tidak bisa memaksakan agamanya kepada seluruh paman dan sanak familinya.

Jadi sebenarnya siapakah yang gemar sekali memaksa manusia? Dialah iblis yang menjadi dalangnya. Iblis gemar sekali memaksa manusia untuk menuruti aturan dan kehendaknya. Misalnya seperti Fir’aun, kaki tangan iblis, dia telah memaksa manusia dengan cara memperbudak Bani Israil. Bangsa Amerika memperbudak kulit hitam dari Afrika. Atau misalnya seperti Penjajah, mereka gemar sekali memaksa rakyat Indonesia untuk mematuhi aturan seperti tanam paksa atau kerja paksa. Dalam sejarah tercatat, bahwa dari semua jenis pemaksaan tersebut tidak ada satu pun yang memiliki nilai terpuji.

Sejarah mencatat, tidak ada satu pun bentuk pemaksaan kepada manusia yang memiliki nilai terpuji. Semua orang dari generasi ke generasi berikutnya menghina dan mengkutuk setiap bentuk pemaksaan. Inilah bentuk lain dari penjajahan modern.

Dalam Islam tidak demikian, tidak ada paksaan dalam beragama. Allah swt menjamin kebebasan dalam beragama bagi setiap manusia. Hanya orang-orang yang menginginkan aturan iblis saja yang gemar melakukan pemaksaan. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.25