Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Kamis, 27 April 2017

Orang Munafik Tidak Pernah Menepati Janjinya

Ya, memang seperti itulah adanya para munafik-munafik. Tidak ada yang bisa dipegang janjinya melainkan hanya janji Allah yang sempurna, hanya janji-janji para Nabi yang menepati janjinya, dan hanya orang-orang beriman yang janjinya dapat dipegang. Tidak ada mereka itu semuanya yang janjinya dapat benar-benar ditepati. Tetapi banyak dari pada orang-orang di luar orang-orang yang beriman, mereka mengumbar janji demi janji kepada siapapun orangnya, yang penting dapat memberi keuntungan, mereka mengobral janji.

Pegang erat kalimat ini, jangan kau lepaskan, karena sangat sedikit orang yang memiliki kalimat ini. Tidak ada di dunia ini, aku katakan tidak ada, tidak ada, tidak ada seorang pun di luar dari majelis ini yang memegang kalimat ini. Semuanya orang yang beriman ini dikepung oleh orang-orang munafik, oleh orang-orang fasiq, oleh orang-orang kafir, oleh orang-orang musyrik dan oleh orang-orang yang zolim. Itulah musuh, musuh orang-orang yang beriman. Maka dari itu perkuat doa, perkuat doa, tidak ada yang lebih hebat dari pada doa kita semua. Itulah kekuatan kita, tidak ada lagi kekuatan yang lain. Karena kita mengimani Allah secara gaib, tidak secara nyata. Maka dari itu perkuat doa kita.

Ini merupakan sesuatu dari pembuktian, dari pembuktian-pembuktian yang kecil, ini hanya kecil, belum apa-apa. Semuanya harus bertafakur memikirkan.

Yang selama ini kita baca, yang selama ini kita amalkan, yang selama ini kita yakini, apakah sudah menjadi darah daging kita sehingga kita tahan terhadap pujian? Sehingga kita tahan terhadap caci maki orang? Apakah kita bisa bersabar dikala air sedang surut? Dan apakah kita masih tetap memegang kalimat kebenaran dikala air sedang pasang? Apakah kita masih bisa mengucap puji Allah ketika kita sedang susah? Ketika kita sedang diuji, apakah masih kita mengatakan kita ini beriman? Ataukah ketika kita diliputi oleh mahligai dunia masihkah kita memuji Allah ataukah malah kita memuji apa yang ada di sekitar kita? Memuji dan memuja apa yang kita miliki di dunia? Itu bukan segalanya.

Semua sudah dibuktikan, semua sudah dinyatakan. Biarlah orang-orang yang munafik Allah yang akan menghukum mereka. Tidak ada hukuman yang terbaik melainkan hukuman dari Allah swt. Itulah sebaik-baik daripada hukuman, karena Dia yang lebih berhak. Allah yang menciptakan makhluk, yang menciptakan langit, yang menciptakan bumi beserta isinya, hanya Dia yang berhak membalas daripada kezoliman-kezoliman manusia. Tidak ada yang berhak, sedikitpun untuk berniat membalas kejahatan orang, melainkan hanya Allah.

Sudah tidak asing, jika orang-orang beriman di dalam hidupnya selalu dianggap remeh, selalu dipandang enteng, selalu dihina. Sejak zaman-zaman Nabi terdahulu sampai kepada Nabi yang terakhir, begitulah hidup mereka. Mereka diuji, ditempa, agar mereka mempunyai mental yang kuat, sekuat baja yang ada di gunung. Tidak melempem seperti orang-orang munafik, seperti orang-orang kafir. Mereka ketika menghadapi musuh lari ke belakang, sedangkan orang-orang beriman mereka memasang leher mereka hanya untuk jalan Allah. Mereka berjuang membela agama Allah sampai titik darah penghabisan. Tidak ada kata menyerah, tidak ada kata mundur.

Apakah kita ingin seperti orang-orang munafik? Yang ketika mereka berkumpul berbicara mereka lantang, akan tetapi ketika di medan perang mereka mundur ke belakang. Inilah orang-orang yang dilaknat Allah. Di dunia dilaknat, bahkan di akhirat nanti mereka ditempatkan di tempat seburuk-buruknya tempat. Nauzubillah. Apakah kita mau seperti itu? Apakah kita mau mengakhiri hayat kita ditempatkan di tempat yang paling buruk yang ada di alam semesta ini? Ataukah kita bersusah-susah, berpayah-payah? Pada hari ini, di dunia ini kita berpayah-payah, bersusah-susah, bersedih-sedih. Akan tetapi janji Allah itu pasti pada orang-orang yang komitmen terhadap imannya, komitmen terhadap janjinya, komitmen ingin menemani daripada pesuruh Allah, daripada Rasul Allah, dari awal sampai akhir darah penghabisan. Itu, perjuangan itu tak akan pernah pudar. Bahkan dituliskan di dalam al-Quran, dengan tinta emas yang ada di lauhul Mahfudz. Tidak akan terhapus, sampai zaman ini kiamat mereka diabadikan di dalam kitab yang disucikan oleh Allah swt.

Semuanya itu sangat indah jika kita memandang kepada Allah, tetapi jika kita selalu melihat keadaan kita di dunia ini, kita selalu merasa hina. Tetapi tidak, karena sesugguhnaya kemuliaan itu hanya milik Allah, karena sesungguhnya manusia itu tidak mempunyai daya upaya sedikit pun. Ingat itu wahai manusia, jangan kau lupakan itu. Karena engkau dilahirkan tanpa busana satu helai pun, tanpa emas satu helai pun, tanpa ada harta bendamu satu helai pun. Engkau keluar dalam keadaan lemah dan menangis. Tetapi ketika engkau beranjak dewasa engkau berani menantang Allah, engkau yang hina itu berani bersombong di hadapan Allah. Berani mengatakan bahwa engkau mempunyai kekuatan, berani mengatakan bahwa engkau bisa membantu orang lain tanpa kehendak Allah. Engkau yang terlahir lemah, menangis bahkan digendong karena engkau tidak berdaya. Tetapi ketika engkau dewasa engkau berani kepada Allah. Apakah itu balasan atas nikmat yang sangat banyak kepadamu? Sehingga engkau itu lupa bahwa Allah lah tempat kembali kita, bahwa Allah lah tempat kita memohon segala sesuatu yang ada di bumi ini. Tidak ada tempat, tidak ada tempat, hanya kepada Allah kita meminta, memohon, memohon perlindunganNya. Kita ini tidak mempunya daya dan upaya. Kita serahkan semuanya kepada Allah karena Dia lah hakim yang Maha Adil. Karena Dia lah hakim yang Maha Adil, yang keadilannya tidak ada yang mampu menyerupaiNya.

Berlindunglah, berlindunglah kita semua daripada azab Allah, karena itu sangat menyiksa, sangat menyiksa, tidak akan pernah manusia itu menjumpai dirinya dalam keadaan bersyukur, sebelum dia bertafakur.

Maka dari itu, pada malam hari ini kita bertafakur, apa saja yang kita sudah laksanakan, yang sudah kita laksanakan daripada petunjuk-petunjuk untuk memenangkan orang yang diajukan itu. Sudah Allah buktikan. Sudah Allah jawab, karena Allah swt tidak pernah menyiakan - nyiakan doa orang yang beriman itu, tidak akan pernah menyia-nyiakan doa orang –orang yang beriman itu. Sedikitpun tidak akan pernah menyia-nyiakan orang-orang yang beriman, karena mereka bagaikan emas diantara benda-benda yang biasa-biasa saja. Tetapi orang yang beriman bahkan dianggap seperti mutiara diantara batu-batu biasa. Itulah spesialnya orang yang beriman di hadapan Allah. Jangan disia-siakan hidayah ini, jangan disia-siakan keimanan ini. Kita pakai untuk menegakan kalimat Allah.

Semuanya tinggal pada diri kita sendiri. Apakah kita ingin menjadi lebih baik lagi, atukah kita ingin seperti ini selamanya? Terlunta-lunta? Karena Allah tidak akan pernah, kukatakan tidak akan pernah merubah suatu kaum, sebelum kaum itu berusaha bersusah-susah, berpayah-payah, berngantuk-ngantuk untuk merubah kepada yang lebih baik lagi. Tidak akan pernah terjadi secara bim salabim sebelum kita ingin merubahnya sendiri. Tidak akan pernah perubahan itu secara bim salabim, akan tetapi kitalah yang akan merubahnya sendiri dengan tekad kita, dengan keinginan yang besar, yang sungguh-sungguh, bukan yang bermain-main. Karena para Nabi pun, para Rasul pun, para Wali Allah pun tidak ada yang bermain-bermain dalam agama Allah. Semuanya tenaga, harta , jiwanya, keluarganya dia korbankan hanya untuk ‘li ila kalimatillah’, untuk menegakan kalimat Allah yang mulia ini. Itulah, kita jangan pernah bermain-main dalam mengamalkan kalimat ini. Tidak akan pernah, tidak akan pernah engkau sampai seperti para Nabi-Nabi dan para Rasul, dan para Wali-wali Allah, jika engkau masih bermain-main dalam berjuang.

Hanya itu yang dapat kami sampaikan sebagai para pendahulu. Mudah-mudahan ini menjadi penggugah, ini menjadi penggerak atas izin Allah swt. Karena kami juga dulu hidup tidak pernah berleha-leha, bermain-main dalam menegakan agama Allah. Siang dan malam kami korbankan hanya untuk Allah. Tidak ada yang menggapai kemenangan itu dengan cara berleha-leha, tidak ada, tidak ada. Karena musuhmu tidak pernah tidur, karena musuhmu itu tidak pernah tidur dan tidak pernah dia itu lengah, sedangkan manusia semua dalam keadaan lengah. Jika kita tidak ingin ditembak oleh musuh, karena musuh kita tidak pernah lengah, dan tidak pernah tidur, dan tidak pernah lelah, maka kita selalu memohon kepada Allah agar kita diberikan kekuatan secara lahir dan bathin. Agar Allah memberikan kita ini kekuatan yang mampu menggerakan setiap jiwa, yang mampu menggetarkan setiap negeri, agar kalimat Allah ini menjadi kalimat yang berdiri, yang tinggi seperti mercusuar. Itulah cita-cita kita bersama, cita-cita para Nabi, cita-cita para Rasul, cita-cita para Wali dan cita-cita para orang-orang shaleh. Maka dari itu kita harus perjuangkan, kita harus perjuangkan, kita harus perjuangkan.

Hanya itu saja, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. (AK/PDHL)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.51