Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 29 April 2017

Bangsa Yang Berdusta dan Tertipu

Hampir keseluruhan umat Islam di negeri ini akan menjadi umat yang tertipu akan perbuatannya sendiri di hari akhirat nanti. Sebagian besar dari umat Islam saat ini merasa dirinya sudah menjadi orang yang beriman. Asalkan saja sudah mempercayai keberadaan Allah, Malaikat-malaikatNya, Rasul-rasulNya, Kitab-kitabNya, Hari Kiamat dan kepada Takdir Allah, maka sebagian besar dari umat Islam saat ini sudah merasa bahwa diri mereka sudah menjadi orang yang beriman.

Dengan demikian maka apabila kita mendengarkan ceramah, khutbah atau membaca artikel-artikel Islami di berbagai media sosial, maka kita mendapat kesan bahwa semuanya berasumsi kalau sebagian besar umat Islam di negeri ini adalah orang-orang yang beriman.

Padahal tidak, sebagaimana yang diberitakan oleh guru kita pada saat pengajian, sesungguhnya dari sekian ratus juta umat Islam di negeri ini ternyata jumlah orang yang beriman sangat sedikit sekali. Karena ternyata iman itu bukanlah didasarkan karena percaya/tidaknya diri kita masing-masing terhadap rukun Iman, akan tetapi apakah seseorang itu beriman atau tidak didasarkan kepada keputusan Allah swt.

Jadi seseorang yang merasa dirinya sudah beriman, maka Allah swt akan mengujinya. Apabila dia lulus, maka Allah akan menetapkan dia sebagai orang yang beriman, sebagaimana dahulu bapak kita Nabi Ibahim as lulus menghadapi ujian dari Allah swt.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS 29:2-3)

Nah, sebagian besar dari umat Islam di negeri ini seringkali salah sangka. Ge-er (Gede Rasa), karena merasa diri kita sudah beriman, padahal Allah swt tidak/belum menyatakan kita ini sebagai orang-orang yang beriman. Kita ini barangkali adalah termasuk orang-orang yang dusta.

Umat Islam di negeri ini menghujat orang yang memperingati agar umat Islam jangan sampai tertipu dengan orang yang mempolitisir surat al-Maidah ayat 51, dan mendakwanya sebagai penista agama. Padahal seorang Sujewo Tedjo, yang tidak pernah sholat, menyatakan bahwa penista agama itu adalah justru orang-orang yang khawatir esok hari mereka tidak kebagian makanan, takut tidak kebagian rezeki dan takut akan jatuh miskin. Itulah penista agama yang sebenarnya. Tidak meyakini bahwa Allah swt memelihara dan menjamin rezeki manusia.

Banyak sekali dari para pejabat di negeri ini yang terlibat kasus korupsi, sedangkan kebanyakan dari para pengusaha dan pedagangnya banyak yang melakukan kecurangan. Berkolaborasi dengan para pejabat untuk melakukan kecurangan tersebut. Kemudian pada sebagian besar rakyat di negeri ini, berduyun-duyun mereka berlomba-lomba untuk berebut mencari kekayaan. Kekayaan itu perlu, karena biaya hidup di negeri ini semakin mahal, pendidikan mahal, perumahan makin mahal, biaya kesehatan mahal, semuanya menjadi semakin mahal. Sehingga setiap orang di negeri ini merasa, bahwa menjadi kaya itu adalah penting. Semua orang merasa harus berebut mencari kekayaan.

Bukankah hal seperti ini, menandakan bahwa sebenarnya keimanan sebagian besar manusia di negeri ini adalah dusta? Sungguh ini adalah hasil dari tipu daya syaithan.

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلاَ يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ
“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS 35:5)

Walaupun memeluk agama Islam, namun sebagian besar dari bangsa ini bukanlah merupakan orang-orang yang beriman. Maka, benar sekali apabila kemudian Allah swt mengazab bangsa ini dengan banyak sekali bencana dan malapetaka.

Bangsa ini telah tertipu dan salah sangka, merasa dirinya sudah yang paling suci dan paling beriman. Menunjuk-nunjuk orang lain sambil melecehkan keyakinan orang lain sebagai keyakinan yang sesat. Menghujat orang lain sebagai penista agama. “Lurus telunjuk kelingking berkait”. Coba lihat diri kita sendiri, periksa dengan teliti, “Apakah kita ini sudah menjadi orang yang beriman?” Jangan-jangan ternyata justru kita inilah yang menjadi penista dan pendusta agama itu. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 18.26