Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 1 Mei 2017

Allah Pemimpin Orang-Orang Beriman

Pada hari ini, tanpa disadari oleh kebanyakan umat Islam, sebenarnya banyak diantara para pemimpin ormas, pemimpin pengajian atau pemimpin agama yang memanfaatkan massa pendukung atau pengikutnya untuk dijadikan sebagai tameng demi untuk membela dan mempertahankan dirinya. Dengan dalih bahwa sesuatu yang didukung oleh massa yang banyak adalah sesuatu yang pasti benar. Maka demikian juga menurut alur pemikiran tersebut, pemimpin agama yang didukung oleh banyak sekali jamaahnya, maka pastilah dia itu seorang pemimpin yang benar. Pengikut dan jamaah telah dijadikan sebagai dasar sebuah pembenaran.

Dalam alam demokrasi sekarang ini, syaithan telah menanamkan sebuah pemikiran yang keliru, yaitu dia menanamkan pemikiran bahwa setiap sesuatu yang didukung oleh banyak orang adalah sesuatu yang pasti benar. ‘Vox Populi Vox Dei’ suara rakyat adalah suara Tuhan.

Ini adalah sesuatu yang salah dan ditentang oleh al-Quran. Dahulu kala pengikut para Rasul adalah terdiri dari orang-orang yang lemah dan tidak terpandang, dan jumlah mereka itu adalah sedikit sekali. Pengikut Nabi Nuh as jumlahnya sedikit sekali, pengikut Nabi Luth as juga sedikit sekali, begitu juga dengan pengikut Nabi Ibrahim as, pengikut Nabi isa as, semua itu pengikutnya sedikit sekali. Jadi belum tentu sesuatu yang didukung banyak orang adalah sesuatu yang benar.

Apabila saat ini ada beberapa gelintir orang yang memanfaatkan jamaah pendukungnya untuk menjadi benteng pelindung, dengan menunjukan betapa besar jumlah massa pendukungnya, maka sadarilah bahwa hal itu tidak berarti bahwa apa yang didukungnya itu merupakan suatu kebenaran. Hukum Allah sejak zaman para Rasul terdahulu ternyata menunjukan fakta yang sebaliknya.

Guru kita dalam hal ini mengajarkan kepada murid-muridnya sesuatu kekeliruan yang banyak didapati pada hari ini, yaitu bahwa kita tidak seharusnya tunduk patuh sepenuhnya pada guru atau pemimpin, namun kepada Rasulullah dan Allah swt. Itulah pemimpin yang sejati yang mutlak harus ditaati. Jadi ketaatan itu bukan ditujukan kepada guru atau pemimpin, tetapi kepada Allah dan RasulNya, begitulah isi dari ajaran Islam.

مَنْ يُطِعْ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS 4:80)

Dalam ayat di atas juga disebutkan bahwa tugas dari orang-orang yang beriman hanyalah untuk menyampaikan saja, bukan untuk memaksa. Apabila apa yang telah disampaikan itu tidak diindahkan, maka semuanya itu kita harus kembalikan kepada Allah swt. Begitulah juga kiranya ajaran yang diberikan oleh guru kita.

Dan apabila orang-orang munafik itu mangkir dari janjinya, dan malahan berubah arah dengan membuat rencana lainnya diluar janji yang telah dibuatnya di malam itu, maka serahkan lah sepenuhnya kepada Allah swt. Karena Allah swt saja yang berhak untuk menghukum dan mengadili apa yang dipungkirinya, cukuplah Allah yang menjadi pelindung kita.

وَيَقُولُونَ طَاعَةٌ فَإِذَا بَرَزُوا مِنْ عِنْدِكَ بَيَّتَ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ غَيْرَ الَّذِي تَقُولُ وَاللَّهُ
يَكْتُبُ مَا يُبَيِّتُونَ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلاً

“Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan: "(Kewajiban kami hanyalah) taat". Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung.” (QS 4:81)

Kiranya ayat di atas sangat relevan dengan apa yang terjadi saat ini. Karena ternyata kalau kita mengkaji lebih dalam lagi, ternyata tidak ada yang baru di dunia ini. Setiap peristiwa sebenarnya telah terjadi sebelumnya, hanya mereka itu mengambil bentuk yang baru saja. Esensi dari kejadian itu sebenarnya sudah pernah terjadi. Esensi itu lah yang kemudian ditulis dalam al-Quran.

Jadi, apabila saat ini anda berjalan dalam jalan yang benar, mengikuti jalan yang ditunjukan Allah swt langsung (bukan dari hasil pemikiran manusia, atau hasil dari menakwil atau mereka-reka isi dari kitab sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli kitab terdahulu), maka meskipun jumlah anda sedikit sekali, meskipun terdiri dari orang-orang lemah dan tidak berpangkat, maka sadarilah bahwa pada hakekatnya anda sedang berjalan sebagaimana para pengikut Rasul-Rasul Allah terdahulu. Mereka sama saja dengan anda saat ini, jadi berbahagialah oleh keadaan itu dengan sebanyak-banyaknya kebahagiaan. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 13.12