Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 02 Mei 2017

Isra Mi’raj Sebuah Perjalanan Mistik

Ketika memasuki tahun ke-10 setelah diangkat menjadi Nabi dan Rasul, Muhammad saw kehilangan istri tercinta beliau Khadijah ra. Dalam masa-masa berkabung itulah kemudian Allah swt mengutus malaikat Jibril untuk membimbing Rasulullah saw melakukan sebuah perjalanan jauh, yang kemudian dikenal dengan perjalanan Isra dan Mi’raj.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا
حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 17:1)

Maka dengan kendaraan yang sangat cepat, Rasulullah saw melesat dari masjidil Haram di tanah Mekkah menuju masjidil Aqsha di Palestina dalam sekejap. Sesuatu yang tidak mungkin dilakukan pada zaman itu, dimana teknologi manusia hanya mengandalkan hewan untuk melakukan transportasi, jarak yang ribuan kilometer dapat dilakukan Nabi Muhammad saw hanya dalam waktu sekejap saja.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa sesampainya di masjidil Aqsha, telah menunggu para Nabi dan Para Rasul Allah terdahulu. Jibril membimbing Muhammad saw memasuki masjidil Aqsha dan memperkenalkan para Nabi dan Rasul Allah tersebut. Kemudian setelah itu Jibril membimbing Muhammad saw untuk menuju ke sebuah batu besar, dan dari sanalah kemudian Nabi Muhammad saw melakukan perjalanan Mi’raj, yaitu naik ke alam surga tempat tinggal para malaikat, dan kemudian dari sana melanjutkan perjalanannya seorang diri menuju ke singgasana Allah, Sidratul Muntaha.

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى
عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى
عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى
إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى
مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى
لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS 53:13-18)

Di tempat bernama Sidratul Muntaha itulah kemudian Nabi Muhammad saw menerima perintah ibadah Sholat dari Allah swt secara langsung.

Dimanakan Sidratul Muntaha itu berada? Banyak sekali ulama dan kaum muslimin saat ini mempercayai bahwa Sidratul Muntaha berada di balik langit ke tujuh, jadi setelah menempuh jarak milyaran tahun cahaya, melintasi milyaran galaksi di alam semesta ini, maka kemudian Nabi Muhammad saw akan melampaui langit pertama, kemudian langit kedua, kemudian begitu seterusnya, sampai dengan langit ke tujuh. Sehingga dengan demikian maka menurut persepsi dari pemahaman yang seperti ini, Allah letaknya sangat jauh sekali dari kita yang ada di bumi ini.

Itu adalah sebuah pemahaman yang keliru dan tidak berdasar. Sebuah pemahaman yang mengasumsikan bahwa perjalanan Mi’raj tersebut merupakan perjalanan fisik, perjalanan materi dari tubuh Nabi Muhammad saw. Inilah sebuah pemahaman yang lahir dari pemikiran materialisme, yaitu memandang bahwa segala sesuatu kejadian itu haruslah dipahami sebagai kejadian fisik/materi semata. Sebuah paham yang tidak mau memahami dan menerima, bahwa alam semesta ini terdiri dari alam nyata dan alam ghaib yang berlapis-lapis tingkatannya.

Banyak dari kaum muslimin saat ini yang mereka itu mengimani hal-hal yang ghaib, tetapi tidak bisa menerima kejadian-kejadian tertentu adalah merupakan kejadian di alam ghaib.

Akibat dari jalur pemikiran yang salah tersebut, kemudian memunculkan kesan bahwa Allah swt itu letaknya sangat jauh dari bumi. Apabila anda melihat khotib atau penceramah yang sedang bekhotbah, maka telunjuknya akan menunjuk ke atas ke arah langit untuk menunjukan tempat tinggal Allah swt.

Jelas pemikiran dan pemahaman seperti ini tidak benar, dan bertentangan dengan firman Allah swt dalam al-Quran itu sendiri.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِي إِذَا دَعَانِي فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS 2:186)

Dalam ayat lainnya seperti di surat al-Waqiah ayat 85, atau dalam surat Qaaf ayat 16 dinyatakan bahwa Allah swt lebih dekat dibandingkan manusia lainnya, atau bahkan lebih dekat lagi dibandingkan dengan urat lehernya.

Dengan demikian maka seharusnya perjalanan Mi’raj Nabi Muhammad saw ke Sidratul Muntaha haruslah merupakan sebuah perjalanan non-fisik, sebuah perjalanan mistik. Menembus langit semesta alam materi kemudian menuju alam ghaib, kemudian alam yang lebih ghaib lagi, dan begitu seterusnya sampai kepada alam yang paling ghaib.

Ketika Muhammad saw menerima perintah sholat itu langsung dari Allah swt, maka ego dan pribadi Muhammad saw hilang. Beliau kehilangan identitasnya tatkala peristiwa bertemunya mahluk dengan Khalik terjadi. Begitulah adanya, sehingga apabila ada mahluk yang berhasil mencapai derajat pertemuan dengan Khalik, maka dia menjadi bodoh. Tidak mengerti apa-apa, tidak memahami apa-apa, bahkan tidak mengenal dirinya sendiri.

Demikianlah jugalah keadaan Nabi Muhammad saw saat itu, diperintah Allah untuk melakukan apapun akan diterima dan dilaksanakannya. Tidak peduli berapa rakaat pun perintah sholat itu, pasti akan dilaksanakannya. Sehingga ketika turun dari Sidratul Muntaha itu, Nabi Musa as mengingatkannya bahwa tidak mungkin umat beliau sanggup melaksanakan sholat dalam jumlah rakaat sebanyak itu.

Demikianlah sekilas perjalanan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad saw tersebut dilakukan atas se-izin Allah swt, demi untuk menunjukan ayat-ayatNya.

Nah, pengalaman dan rahasia di balik perjalanan Isra dan Mi’raj tersebut menjadi misteri sampai dengan hari ini. Pengalaman yang utuh dan rahasia dari perjalanan tersebut tidak diceritakan ke banyak orang. Oleh Nabi Muhammad saw rahasia ilmu untuk menempuh perjalanan tersebut hanya disampaikan kepada beberapa orang muridnya yang benar-benar dapat menjaga rahasia ilmu Allah swt tersebut.

Tidak banyak guru dan ulama yang mengerti tentang rahasia ilmu perjalanan ini. Sehingga hingga saat ini kita dapati banyak sekali dari kaum muslimin yang tersesat dalam mencari Allah swt. Jari telunjuk mereka menunjuk-nunjuk ke atas galaksi sana untuk menunjukan lokasi Allah swt. Padahal Allah itu dekat, bahkan lebih dekat dari pada urat lehernya.

Ada suatu ungkapan di kalangan kaum sufi dan pengembara yang berjalan mencari Allah: Barang siapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya. Barang siapa yang sudah mengenal Tuhannya, maka dirinya menjadi bodoh.

Jadi seharusnya perjalanan Mi’raj itu adalah perjalanan untuk menyelami diri kita sendiri, menyadari diri kita sendiri. Ternyata di dalam diri kita, terdapat semesta lain yang sangat luas dan sangat dalam. Kalau kita terus menyelami diri kita sendiri, ternyata tidak ada dasarnya. Semakin dalam kita menyelam, semakin senyap dan sunyi. Sadarlah kita bahwa di dalam diri kita ada alam semesta yang luasnya jauh lebih luas dibandingkan dengan milyaran galaksi di alam semesta.

Sampai suatu saat, anda akan bertemu dengan alam dimana para Nabi dan Rasul berkumpul, tempat dimana para malikat Allah beribadah memujiNya. Lalu dengan dibimbing oleh Muhammad saw maka setiap pribadi suci yang beruntung akan diantar menuju ke Sidratul Muntaha, tempat singgasana Allah swt. Pada saat pertemuan itu terjadi, segala ilmu pengetahuan yang pernah dipahaminya akan hilang, segala ayat-ayat yang pernah dihafalnya akan lupa, linglumg dan bingung tidak mengerti apa-apa, bahkan dirinya sendiri pun dia lupa dan tidak mengenalnya. Begitulah keadaan tiap-tiap mahluk apabila bertemu dengan Khaliknya.

Ilmu seperti ini sudah jarang sekali ditemukan, kecuali masih disimpan rapat oleh beberapa orang guru yang masih menggenggam rahasia ilmu Allah tersebut. Dahulu kala ketika Sunan Bonang ingin mengajarkan ilmu ini kepada Sunan Kalijaga, maka dilakukannya di tengah telaga, agar tidak ada orang lain yang mendengarnya.

Sungguh suatu keberuntungan, apabila di tengah masyarakat muslimin saat ini, dimana sebagian besar orang masih mencari-cari Allah, masih mereka-reka kebenaran, maka apabila anda bertemu dengan seorang guru yang sudah mendapati kebenaran sejati itu, yang sudah bertemu dengan Allah, maka itu adalah suatu keberuntungan yang besar. Ikuti dan pegang erat-erat ajarannya, karena itu yang akan menuntun anda melalui perjalanan di dunia ini dengan selamat (Islam). (AK)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 17.48