Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Jumat, 05 Mei 2017

Dakwah Masa Kini dan Dahulu

Seruan dakwah yang dilakukan oleh kebanyakan kelompok muslim pada hari ini ternyata berbeda jauh dengan model dan tujuan dakwah yang dilakukan oleh para Rasul-Rasul Allah swt terdahulu.

Tujuan utama dari setiap dakwah yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul terdahulu adalah untuk mengajak manusia agar menyadari bahwa manusia itu harus memper-Tuhan-kan Allah swt dan mempercayai bimbingan serta anjuran yang disampaikan melalui Rasul-RasulNya. Inilah prinsip dari Tauhid, yaitu mengajak manusia untuk ber-Tuhan-kan Allah swt, bukan mengajak manusia untuk menyusun sebuah pemerintahan berdasarkan hukum Syariat.

Hasil akhir dari dakwah para Rasul-Rasul Allah yang seperti ini adalah bahwa manusia akan menjadi dekat hubungannya dengan Allah swt dan RasulNya.

Sebaliknya pada hari ini, banyak sekali dakwah yang dilakukan oleh beberapa kelompok muslim adalah justru dalam rangka untuk mengkondisikan umat Islam, memobilisasi umat Islam dan mengajak umat Islam untuk menerapkan aturan hukum Syariat Islam. Umat dicekoki dengan sederet nama penceramah dan ustadz yang ternama, hebat dalam hal penafsiran dan hafalan dari kitab, tanpa pernah diajari untuk mengenal Allah itu sendiri. Sehingga sebenarnya kebanyakan umat Islam saat ini tidak tahu siapakah Allah, dimanakah Allah dan bagaimana berhubungan dengan Allah swt. Umat didoktrin untuk mempercayai dan meyakini ajaran yang disampaikan oleh para penceramah, tanpa pernah diajari untuk bisa menangkap petunjuk langsung dari Allah swt.

Dahulu para Rasul mengajak manusia untuk menuju kepada Allah swt, sedangkan saat ini para penceramah justru banyak yang menggiring umat Islam menuju kepada ulama dan ustadz.

Dulu, Model dakwah yang dilakukan oleh para Nabi dan para Rasul Allah swt terdahulu akan mengakomodir dan menyesuaikan dengan keadaan dan kondisi dari masyarakat yang ada di suatu negeri di suatu zaman, atas petunjuk Allah swt. Sedangkan model dakwah yang dilakukan oleh banyak kaum muslimin saat ini cenderung untuk memberlakukan aturan agama secara kaku, keras dan tidak pandang bulu terhadap kondisi masyarakatnya. Semua itu diterapkan menurut hasil pemikiran dan penafsiran dari masing-masing ulama dan ustadznya. Tidak ada yang memberikan pengajaran terhadap sesuatu melalui hikmah, yaitu bimbingan yang didasarkan atas petunjuk dari Allah swt.

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ
رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS 16:125)

Perkembangan dakwah saat ini mengalami pendangkalan yang signifikan. Para ulama dan ustadz kebanyakan mereka hanya memiliki pengetahuan tentang kitab yang tertulis saja, tidak menegerti bahwasanya ada kitab Allah yang tidak ditulis dengan tinta. Sehingga akibatnya sebagian besar dari umat Islam saat ini, kebanyakan mereka memahami dan mempersepsi ajaran agama sebagai sesuatu bentuk keadaan dan aktivitas fisik serta pemikiran-pemikiran riil yang bersifat dangkal.

Saat ini, hampir tidak ada suatu terobosan atau pemikiran baru pada umat Islam yang berkembang melampaui garis pemikiran dan pemahaman yang telah diberikan oleh masing-masing ulama dan ustadznya. Hal ini disebabkan karena pola pengajaran yang dipraktekan oleh masing-masing ulama dan ustadz adalah tidak pernah mengajarkan pola bahwa seseorang itu harus bisa berhubungan dengan Allah swt, memperoleh petunjuk dari Allah swt, sehingga akan muncul suatu ide baru, inspirasi baru dan petunjuk baru yang jauh lebih bermutu dari pada pemikiran dan pemahaman sebelumnya. Justru yang terjadi saat ini adalah pola yang sebaliknya.

Seorang ulama dan ustadz mengajarkan agar supaya setiap muslim mematuhi dan mempraktekan ajaran serta pemikiran dan pemahaman para sahabat, para tabiin dan para ulama salaf terdahulu, dengan taklid dan penuh kepatuhan. Jadi setiap muslim dianjurkan untuk mempertahankan dan mengarahkan sikap, pemikiran dan pemahaman orang-orang terdahulu. Alih-alih bergerak ke masa depan, justru banyak dari ulama dan ustadz saat ini yang mengajarkan agar umat Islam bergerak mundur ke belakang, ke zaman para sahabat Rasulullah saw terdahulu.

Sehingga akibatnya, seiring waktu berjalan akan terjadi suatu disparitas, pemisahan yang semakin lebar antara ajaran ulama dan ustadz dengan kondisi zaman yang terus bergerak maju. Yang satu bergerak ke depan, memikirkan hal-hal seperti bagaimana memajukan peradaban manusia, cara menyelematkan bumi dari kerusakan, cara mendistribusikan rezeki Allah secara adil, cara mencapai planet Mars atau menembus tata surya. Sedangkan yang satu lagi justru bergerak ke belakang, bagaimana menyadarkan umat Islam agar para wanitanya mengenakan cadar, agar menerima poligami atau agar bersedia makan dengan hanya menggunakan tangan serta mau memelihara jenggot.

Kondisi yang seperti ini, jika dibiarkan, maka hasil akhirnya akan sama dengan apa yang dahulu pernah terjadi pada umat Yahudi dan juga umat Nasrani. Meskipun setiap saat para rahib dan pendeta mereka berdiskusi dan membicarakan hal-hal tentang Tuhan, akan tetapi hasil akhirnya ternyata mereka justru mempertuhankan para rahib dan pendeta-pendetanya, tanpa mereka sadari.

Dahulu pada zaman Rasulullah saw hidup, pandangan dan arah ajaran Islam yang diajarkan kepada para sahabat-sahabat beliau adalah sebuah pandangan yang lurus ke depan. Pandangan yang membebaskan manusia dari belenggu ikatan budaya dan kebiasaan di zamannya yang terbelakang. Berpandangan maju ke masa depan. Menghapus perbudakan, memperkenalkan pendidikan, menjunjung tinggi kemajuan ilmu pengetahuan dan yang terpenting adalah menyadarkan manusia untuk ber-Tuhan-kan Allah swt.

Jadi kalau demikian halnya, mengapa saat ini justru yang terjadi adalah sebaliknya? Menerapkan perbudakan atas wanita dan istri, membatasi kebebasan untuk maju dengan berbagai aturan yang mengekang, menempatkan bentuk, kondisi dan aktifitas fisik lebih penting dibandingkan dengan esensi dari ajaran agama. Menggiring umat Islam untuk kembali kepada al-Quran adalah sebuah gerakan yang salah, seharusnya adalah menjadikan al-Quran sebagai modal menggiring manusia untuk lebih maju lagi di masa depan.

Gerakan kembali ke masa lalu, sebagaimana zaman para sahabat Rasulullah saw terdahulu, para tabi dan tibiin serta para salafi, adalah sebuah gerakan kemunduran. Apabila hari ini sama saja dengan hari kemarin, maka itu adalah suatu kemunduran. Hari esok haruslah jauh lebih baik dan bermutu daripada hari kemarin.

Pada hari ini, agama Islam dijadikan sebagai obyek tujuan, bukan dijadikan sebagai modal dasar untuk mencapai kemajuan. Al-Quran, peta kehidupan, dijadikan telah dijadikan sebagai tujuan bukan petunjuk untuk perjalanan menempuh masa depan yang lebih cemerlang. Membuat peta-peta petunjuk secara megah, bahkan didorong agar supaya setiap muslim dapat menghafal isi dari peta tersebut, tetapi tidak pernah diperhatikan bahwa peta dibuat agar supaya ada orang yang pergi menempuh perjalanan.

Kita ini, para muslimin seharusnya merupakan orang-orang yang berjalan, bergerak maju ke depan, menjadi pionir dan pelopor. Bukan para calo penumpang atau agen perjalanan. Berteriak-teriak memanggil dan menyuruh orang, tapi tidak pernah bergerak dan beranjak melakukan perjalanan. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 13.18