Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Jumat, 05 Mei 2017

Negeri Yang Penuh Ampunan dan Rahmat Allah

Sudah menjadi takdir Allah swt, bahwa nasib dan perjalanan tiap-tiap bangsa di dunia ini bermacam-macam. Tidak ada yang sama antara yang satu dengan yang lainnya. Demikian juga ketentuan dan kehendak Allah swt bagi setiap bangsa-bangsa yang ada di dunia, juga berbeda-beda. Sehingga dengan demikian saat ini kita menemukan keadaan bangsa-bangsa di dunia yang berlainan satu dengan yang lainnya.

Bangsa-bangsa tersebut, bukan hanya berbeda ras, warna kulit, bahasa atau budaya saja. Mereka juga memiliki berbagai macam keyakinan dan agama yang berbeda. Mereka memiliki perbedaan nilai, perbedaan moral dan perbedaan hukum serta nilai-nilai yang berlaku di masyarakatnya.

Siapakah yang menghendaki agar manusia yang aslinya berasal dari satu keturunan Adam dan hawa kemudian menjadi berbeda-beda dan berbangsa-bangsa? Allah swt. Jadi memang Allah lah yang menghendaki adanya perbedaan-perbedaan tersebut agar supaya kita saling mengenal dan saling menghormati.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ
أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS 49:13)

Tidak ada satu bangsa pun yang lebih mulia dibandingkan dengan bangsa lainnya, tidak bangsa Yahudi dan juga tidak bangsa Arab. Semua orang bisa menjadi orang yang paling mulia asalkan orang tersebut bertakwa, yaitu berjalan di garis lurus sebagaimana yang ditunjuki Allah swt.

Khusus bagi penduduk di wilayah-wilayah negara di negeri ini, Allah swt memberikan petunjukNya dalam al-Quran bagaimana cara rahasianya agar negeri ini memperoleh ampunan dan rahmat Allah swt.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنْ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ
وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk wilayah-wilayah negara beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS 7:96)

Jadi, agar supaya penduduk di negeri ini mendapatkan berkah dari Allah, maka syaratnya adalah beriman dan bertakwa. Hanya itu: beriman dan bertakwa.

Beriman artinya mulai dari pemimpin sampai dengan rakyatnya harus merupakan orang-orang yang beriman. Cara untuk menjadi orang yang beriman adalah:
1. Menyatakan komitmen iman dalam bentuk Syahadat
2. Lulus dalam menghadapi ujian Allah dalam kehidupan di dunia ini
3. Senantiasa berzikir mengingat Allah dimanapun dan kapanpun

Seorang pemimpin di negeri ini harus menyatakan komitmen imannya pada saat dilantik dengan mengucapkan sumpah dua kalimat Syahadat. Demikian juga kemudian diikuti oleh segenap rakyatnya agar meneguhkan komitmen iman mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa menurut agamanya masing-masing. Khusus bagi orang-orang Islam, maka mereka diperintahkan untuk menyatakan komitmen iman mereka dalam bentuk dua kalimat Syahadat, dan senantiasa mengulang-ulang komitmen tersebut seraya berzikir mengingat Allah di waktu pagi dan petang.

Dengan pemimpin yang beriman, dan penduduk yang beriman pula, maka kemudian Allah swt menjamin tidak akan ada musibah lagi di negeri ini, dan Dia akan menganugerahkan petunjukNya melalui qalbu orang-orang yang beriman tadi.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS 64:11)

Setelah mendapat petunjuk Allah melalui hati orang-orang yang beriman, maka apabila kemudian petunjuk Allah swt tadi ditaati, maka itulah yang disebut dengan bertakwa.

Begitulah alur dari cerita bagaimana nasib bangsa ini akan berubah menjadi bangsa yang diliputi berkah dari langit dan bumi, sebagaimana janji Allah dalam surat al-a’raf ayat 96 di atas. Sesuatu yang sederhana dan sangat mudah untuk dipahami. Itulah arah yang harus dituju dan dicapai, itulah metode yang harus dijalankan dan itulah pokok keyakinan bagi orang-orang yang beriman.

Akan tetapi rupanya syaithan tidak tinggal diam untuk menyembunyikan dan menjauhkan penduduk negeri ini dari tujuan yang seharusnya tadi. Paling tidak ada 2 cara syaithan yang berbeda demi untuk menyesatkan penduduk negeri ini:
1. Mempercayai bahwa berkah dan kemakmuran negeri ini hanya bisa dicapai dengan penerapan kebijakan ekonomi yang tepat, investasi modal yang besar dan penyediaan kebijaksanaan yang mendukung pertumbuhan bisnis dan industri
2. Mempercayai bahwa berkah dan kemakmuran negeri ini hanya bisa dicapai dengan pemberlakukan hukum Syariat Islam, pendirian negara berdasarkan Syariat Islam dan menghapus segala macam aturan atau model pembangunan ala Barat
Kedua ide di atas adalah sesuatu yang keliru dan salah. Dengan menerapkan salah satu dari kedua hal di atas tidak akan membawa negeri ini menjadi negeri yang penuh berkah dan kemakmuran.

Cara pertama dari langkah di atas akan membawa kemajuan ekonomi hanya untuk kalangan tertentu saja. Karena kapabilitas dan kemampuan tiap-tiap orang di negeri ini tidak sama, maka hanya segelintir orang saja yang mereka itu jenius dan piawai dalam melakukan bisnis yang akan menikmati kemakmuran. Selebihnya sebagian besar masyarakat negeri ini akan tetap berada pada garis kemiskinan. Sehingga distribusi kemakmuran menjadi masalah utama karena ternyata distribusinya tidak merata, dan sebelum ini tidak ada satu pun mekanisme distribusi kemakmuran yang pernah berhasil diterapkan di dunia ini mempergunakan model pembangunan ekonomi yang ada saat ini.

Sedangkan cara lainnya, cara yang kedua adalah cara yang ekstrim. Yaitu memaksakan pemberlakukan syariat Islam di negeri ini. Konsep dan metode pembangunan ekonomi menurut Syariat Islam memang sangat ideal dan dipercaya bisa mendatangkan kemakmuran yang lebih merata. Akan tetapi ternyata hal ini tidak sesuai dengan kondisi bangsa ini yang majemuk, terdiri dari berbagai macam suku, agama dan keyakinan.

Pemaksaan pemberlakuan Syariat Islam akan berpotensi mendatangkan perpecahan, karena penganut agama lainnya mungkin tidak akan mendukung dan menyetujui pemberlakukan hukum Syariat Islam bagi seluruh negeri. Permusuhan dan kebencian sangat mungkin timbul, dan pergesekan antara masyarakat pemeluk agama yang satu dengan pemeluk agama lainnya akan mudah tersulut. Hasilnya adalah penduduk negeri ini akan sibuk untuk mengurusi dan menangani perpecahan atau pertikaian dibandingkan dengan membangun bangsanya.

Negeri ini bisa jadi akan seperti Suriah, akan seperti Irak, akan seperti Mesir atau Sudan. Sebagian besar waktu dan sumber daya manusia dihabiskan untuk menyelesaikan konflik dan perpecahan.

Itulah 2 cara syaithan dalam menjebak penduduk negeri ini agar supaya jauh dari jalan lurus yang ditunjuki Allah swt. Sehingga sampai dengan saat ini, negeri ini masih berkubang pada angka kemiskinan yang tinggi, kasus korupsi yang tinggi dan potensi perpecahan yang besar.

Kita tidak puas untuk menerima bahwa para pendahulu dan pendiri negeri ini telah meletakan dasar bagi negeri ini, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita bukan negara sekuler yang tidak mengakui atau mempercayai peran Tuhan bagi negeri ini. Demikian juga kita bukan negara agama yang memaksakan pemberlakukan hukum Syariat agama secara nasional.

Guru kita menghimbau, agar supaya petunjuk dalam tulisan ini disebarluaskan, agar penduduk negeri ini segera menyadari kekeliruannya. Sangat penting untuk segera menyadari bahwa selama ini kita tengah terjebak dalam langkah-langkah yang dihasut syaithan. Bangsa ini perlu untuk segera keluar dari lingkaran syaithan ini. Meninggalkan dan tidak menuruti langkah-langkah syaithan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِي
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS 2:208)

Mari kembali kepada petunjuk Allah, menjadikan negeri ini negeri bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa. Itu saja rumusnya, sangat sederhana. Semoga negeri ini menjadi negeri yang jaya, penuh dengan berkah dan kemakmuran. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.47