Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Jumat, 26 Mei 2017

Kembali Kepada Petunjuk Allah

Guru kita adalah seorang ahli Tauhid yang mengajarkan apa arti berTauhid yang sebenarnya itu. BerTauhid itu bukan hanya sekedar mempercayai adanya Allah, mempercayai adanya Rasul-Rasul Allah dan seterusnya, akan tetapi lebih dari itu bahwa arti berTauhid adalah meyakini dengan sebenar-benarnya peran Allah dan mempasrahkan segalanya kepada Allah swt.

Sesuatu kekeliruan yang fatal telah terjadi dalam benak pemikiran sebagian besar umat Islam saat ini, yaitu ajakan dan jargon untuk ‘Kembali kepada Al-Quran dan Hadits’. Ini adalah salah, dan berpotensi untuk menyesatkan.

Seseorang dijadikan teroris dalam pengajian-pengajian yang diadakan oleh haroqah-haroqah Islamiyah garis keras adalah dengan mengacu kepada kitab al-Quran dan Hadits. Para syaikh dan tokoh-tokoh utama gerakan Islam radikal merekrut dan melakukan kaderisasi pengikut-pengikutnya adalah bersandarkan kepada kitab al-Quran dan Hadits. Tentu saja menurut penafsiran dan pemahaman mereka terhadap kitab al-Quran dan Hadits tersebut.

Jadi bukan tanpa dasar, sehingga seseorang bisa menjadi teroris dan mereka rela untuk mengorbankan nyawanya untuk melakukan bom bunuh diri. Mereka melakukan itu berdasarkan kajian dan penafsiran mereka terhadap al-Quran dan Hadits. Yang tentu saja penafsiran dan pemahaman tersebut adalah sesuai dengan penafsiran dan pemahaman para syaikh-syaikhnya.

Nah, kalau demikian halnya, maka jargon untuk ‘Kembali kepada al-Quran dan Hadits’ adalah sesuatu yang keliru. Karena bisa menjadikan seseorang itu menjadi teroris. Tergantung dari cara dan sudut pandang penafsiran dan pemahamannya.

Seharusnya yang benar itu adalah: ‘Kembali kepada petunjuk Allah dan RasulNya’. Itulah Tauhid. Itulah yang diajarkan oleh guru kita. Karena meskipun anda memegang teguh al-Quran dan Hadits, maka tanpa perlindungan dan petunjuk Allah, anda bisa tersesat. Contohnya sudah banyak dan tersaji di hadapan anda saat ini.

Jadi awas, waspada dan bersikap kritislah terhadap setiap ajakan untuk ‘Kembali kepada kitab al-Quran dan Hadits’. Karena kita bukanlah ahli kitab, pengetahuan kita terhadap kitab pun sangat terbatas. Sehingga apabila ada seorang ahli kitab kemudian menyelewengkan pemahaman kita berdasarkan ayat-ayat kitab tersebut, maka kita akan menjadi rentan untuk hanyut dan mengikuti ajaran yang menyeleweng tersebut. Oleh sebab itulah, maka kita memerlukan perlindungan dan petunjuk Allah dan RasulNya dalam menuntun kita. Sehingga kita tidak akan sesat selama-lamanya.

Dahulu kala ketika iblis diusir Allah dari surga karena kesombongannya, iblis bersumpah untuk menyesatkan manusia dari jalan yang lurus. Kemudian Allah berfirman kepada Nabi Adam as sebagai pedoman bagi anak cucunya agar tidak tersesat selama-lamanya dari tipu daya iblis. Berikut ini adalah wasiat dari Allah tersebut kepada Nabi Adam as:

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ
“Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS 20:123)

Jadi yang menjamin seseorang itu tidak akan tersesat adalah apabila dia mengikuti petunjuk Allah. Itu saja. Begitu juga yang diajarkan oleh guru kita. Sudahkah anda mengetahui bagaimana caranya agar hati kita mendapatkan petunjuk Allah?

Sehingga dengan demikian yang benar itu bukan ‘Kembali kepada kitab al-Quran dan Hadits’. Bukan berdasarkan pemikiran, pemahaman atau penafsiran terhadap ayat-ayat, sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli kitab. Tetapi yang benar adalah ‘Kembali kepada petunjuk Allah dan RasulNya’. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 10.31