Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 27 Mei 2017

Sesuatu Yang Hilang Dari Kaum Muslimin

Pada hari ini ada sesuatu yang hilang dari kebanyakan kaum muslimin di Indonesia, yaitu karakter Jujur, Sabar dan Ikhlas. Sifat-sifat luhur inilah yang sama sekali tidak tampak pada hari ini.

Kebanyakan dari kaum muslimin saat ini lebih mementingkan hal-hal yang bersifat fisik, seperti tata cara syariat. Misalnya adalah bentuk dari kerudung dan jilbab, pemisahan tempat bagi laki-laki dan perempuan, apakah perlu mengenakan cadar atau tidak, apakah gemar memelihara jenggot, mengenakan baju gamis dan kopiah ala Arab, keutamaan berpologami, dsb. Sedangkan hal-hal non-fisik yang sebenarnya jauh lebih bermakna justru dilupakan, seperti misalnya sifat Jujur, Sabar dan Ikhlas.

Padahal dalam beragama itu tidak ada yang lebih baik lagi dibandingkan dengan mencapai hakekat seperti sifat Jujur, Sabar dan Ikhlas. Berikut ini adalah argumentasi dari Allah swt yang menyatakan bahwa mencapai hakekat ikhlas itu adalah sesuatu yang terbaik dalam kehidupan beragama.

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS 4:125)

Akibat dari tidak adanya sifat Jujur, Sabar dan Ikhlas pada kaum muslimin saat ini yang banyak didapati adalah penyakit karakter atau sampah karakter, yang buruk. Tanpa kejujuran maka banyak dari masyarakat kita saat ini yang terjerat kasus korupsi. Kasus korupsi yang diungkap oleh KPK saat ini berjumlah banyak, dan sebenarnya kasus yang tidak terungkap adalah jauh lebih banyak lagi. Sifat Jujur sudah hilang dari masyarakat kita.

Kejujuran hanya dipandang sebelah mata, masyarakat merasa bahwa sifat Jujur bukanlah sesuatu yang lebih penting dibandingkan dengan menjalankan ibadah syariah. Dikiranya asalkan sudah menjalankan ibadah dan hukum syariah seperti sholat, puasa atau ibadah haji sudah cukup itu saja. Sehingga mengira bahwa melakukan perbuatan korupsi atau perbuatan memalsukan vaksin untuk balita tidak masalah, karena toh nantinya setelah menjalankan ibadah syariah Allah akan mengampuninya.

Kesabaran juga menjadi barang yang langka saat ini. Mulai dari ulama sampai dengan ustadz dan masyarakat muslim biasa hampir tidak ada yang memberikan contoh tauladan sifat Sabar. Tidak ada lagi sifat sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw dahulu, ketika beliau berdakwah kepada masyarakat Arab di Thaif, beliau dilempari batu, dianiaya dan dihina, sampai badannya luka-luka dan bercucuran darah. Tetapi beliau sabar. Ketika malaikat Jibril menawarkan diri untuk membalas perlakuan masyarakat Arab saat itu, beliau mencegahnya. Malahan beliau berdoa kepada Allah untuk memaafkan perlakuan masyarakat Thaif. Itulah yang disebut dengan Sunnah Nabi, yaitu bersifat Sabar.

Mendapati perlakuan kasar dan penghinaan dari masyarakat Thaif saat itu, Rasulullah saw tidak kemudian membentuk semacam aksi balasan, seperti misalnya aksi bela Rasul. Tidak ada aksi balasan terhadap masyarakat yang telah menghina Rasul, namun justru Rasulullah saw mendoakan mereka yang telah menghina beliau. Mengapa saat ini tidak ada yang mau mencontoh tauladan ini ya? Bersifat sabar.

Saat ini kaum muslimin lebih memilih untuk memperkarakan di pengadilan orang yang sebenarnya sudah meminta maaf. Karena kebanyakan dari kita adalah orang-orang Islam yang dididik untuk berkarakter militan dan bersikap tegas. Kebanyakan dari kita adalah bukan orang-orang Sabar.

Mungkin kebanyakan dari kita sudah melakukan kesalahan dalam membina masyarakat muslim. Kepada anak-anak kecil yang dididik di taman-taman al-Quran justru kita menanamkan sikap militan dalam beragama Islam. Padahal seharusnya di usia belia tersebut adalah masa-masa yang paling tepat untuk menanamkan sifat-sifat seperti Jujur, Sabar dan Ikhlas.

Terbukti saat ini, menanamkan sifat-sifat seperti Jujur, Sabar dan Ikhlas di usia dewasa sungguh tidak mudah. Guru kita mengajarkan murid-muridnya yang sudah berusia dewasa sifat-sifat Jujur, Sabar dan Ikhlas, ternyata tidak mudah. Diperlukan waktu bertahun-tahun lamanya untuk bisa lulus memiliki sifat-sifat luhur tersebut.

Guru kita melihat bahwa menanamkan sifat Jujur, Sabar dan Ikhlas adalah jauh lebih berharga dibandingkan dengan sekedar mengajarkan ibadah syariah atau menanamkan sikap milatansi dalam beragama. Demikian juga Rasulullah saw dahulu memberikan contoh tauladan kepada umatnya agar memiliki sifat-sifat Jujur, Sabar dan Ikhlas. Inilah sesuatu yang hilang dari masyarakat kita pada hari ini. Terbengkalai dan ditinggalkan orang. Mengira bahwa sifat-sifat luhur tersebut bukan bagian dari Sunah Nabi yang paling utama. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 12.29