Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Minggu, 28 Mei 2017

Kesombongan Manusia

Sombong adalah penyakit dari mahluk apabila dirinya merasa sudah memiliki suatu kelebihan dibandingkan dengan orang lain, sehingga kemudian dia merasa memiliki hak dan kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang seharusnya.

Dalam sejarah umat manusia tercatat beberapa kisah dari kesombongan manusia, antara lain adalah kisah Raja Namrudz (Nebukadnezar) yang membangun menara Babel dengan maksud ingin menantang Tuhan, atau Firaun yang memiliki kekuasaan absolut sehingga merasa dirinya sebagai tuhan, atau kisah tentang Qarun yang merasa kekayaannya adalah hasil dari jerih payah dan usahanya sendiri. Di zaman modern barangkali kisah tenggelamnya kapal Titanic adalah salah satu contoh dari kisah kesombongan manusia yang merasa tidak ada yang mampu menenggelamkan kapal terbesar yang pernah dibuat manusia di zaman itu.

Bentuk kesombongan lainnya adalah tatkala seseorang merasa memiliki banyak sekali pengikut dan pendukung, sehingga merasa menjadi pemimpin umat mayoritas yang kemudian merasa dirinya memiliki legitimasi untuk melakukan apa saja sesuai dengan keinginannya tanpa mengindahkan etika dan hukum yang berlaku. Ketika dahulu Rasulullah saw melakukan hijrah dari kota Mekah menuju Madinah, pengikutnya saat itu tidak lebih dari 1500 orang. Dan ketika beliau wafat, jumlah umat Islam yang menjadi pengikutnya diperkirakan hanya sekitar 114 ribu saja. Nah, saat ini dengan jumlah pendukung sekitar 7 juta orang, maka seseorang bisa saja kemudian merasa telah menjadi pemimpin dari umat mayoritas dan menjadikannya sombong dan lupa diri.

Bentuk lainnya dari kesombongan manusia saat ini contohnya adalah dari segi etika dan bahasa tatkala berkomunikasi dengan Tuhan. Dua kalimat Syahadat diartikan menjadi: ‘Aku bersaksi bahwasanya tiada tuhan selain Allah, dan Aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad adalah utusan Allah’. Coba diperhatikan kalimat di atas barusan itu, kita mempergunakan kata ‘Aku’ dalam membuat pernyataan kesaksian di hadapan Allah swt. Ini adalah sebuah bentuk dari kesombongan dalam berbahasa.

Demikian juga tatkala beberapa ulama memimpin doa, maka sering kali kita mendengar bahwa mereka menyebutkan kata ‘Engkau’ untuk merujuk kepada Allah swt. Misalnya saja dalam kalimat doa: ‘Ya Allah, Janganlah Engkau jadikan kami ini penghuni neraka’. Maka kata Engkau tersebut untuk memanggil Allah juga merupakan panggilan yang tidak beretika. Bayangkan apabila anda mempergunakan kata ‘Engkau’ kepada Bapak Presiden misalnya, apakah itu sopan?

Itulah yang kemudian banyak dicontoh dan dilakukan oleh umat Islam saat ini. Mempergunakan kalimat-kalimat yang sombong dan tidak tepat. Bagaimana mungkin seorang hamba, seorang budak, kemudian bisa mengeluarkan kata-kata seperti ‘Aku’ dan ‘Engkau’ di hadapan Tuannya? Hal ini koq mirip sekali dengan cara iblis ya... Ketika dia berkata: “Ya Robb, karena Engkau telah melaknat Aku, maka akan Aku sesatkan anak cucu Adam dari jalan yang lurus”.

Padahal Allah swt memerintahkan umat manusia untuk menyeru Allah dengan suara yang lemah lembut dan merendahkan diri dalam rasa takut.

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS 7:205)

Lantas kenapa sekarang banyak sekali penceramah yang justru bersuara lantang dan keras saat berdoa? Seakan-akan hendak mendikte Allah agar supaya mengabulkan doanya.

Hal inilah yang kemudian dikoreksi oleh guru kita. Kesombongan adalah pakaian Tuhan, tidak pantas seorang hamba atau budak untuk mengenakan pakaian sombong. Dalam catatan sejarah dunia, tidak satu pun kesombongan manusia itu melainkan akan hancur pada akhirnya. Tidak satu pun kecuali akan hancur.

Allah sendiri yang bersumpah, bahwa setiap kali ada kesombongan maka Dia akan mendatangkan azab siksa yang menyengsarakan. Sebagaimana yang telah ditimpakan kepada umat-umat sebelum ini.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.” (QS 6:42)

Sombong adalah sifat dari iblis, merasa bahwa dirinya itu lebih sempurna, merasa dirinya sudah yang paling benar, lebih dekat dan taat kepada Allah karena telah beribadah ribuan tahun lamanya, sehingga dengan demikian merasa bahwa dengan itu dia berhak untuk menentang perintah Allah.

Jangan sampai kita ini merasa sombong, sudah merasa yang paling benar, sudah merasa yang paling dekat dengan Allah, sudah merasa memiliki surga. Sebagaimana sombongnya iblis. Sehingga kemudian kita merasa berhak untuk menentang perintah Allah, yaitu perintah Allah untuk berbuat adil kepada manusia. Karena kebencian kita terhadap suatu kaum, bisa membuat kita berbuat tidak adil. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 02.30