Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 30 Mei 2017

Jalan Pengampunan Dosa

Di dalam ajaran agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah saw dahulu, tidak dikenal istilah pengampunan dosa melalui pembayaran denda, sebagaimana yang pernah dipraktekan di gereja-gereja katolik. Pembayaran fidyah atau pun denda hanya lah demi untuk menjalankan hukum syariat semata, sama sekali bukan merupakan jaminan bahwa sesuatu dosa akan mendapat ampunan.

Mengenai pengampunan dosa ini, guru kita pernah menceritakan sebuah pelajaran tentang bagaimana Allah swt mengampuni dosa hambaNya. Syaratnya agar sebuah dosa itu diampuni adalah iman dan tauhid kepada Allah swt tanpa mempersekutukan Dia dengan apapun juga. Benar-benar iman dan yakin kepada Allah swt, itulah syarat utamanya. Bahkan seandainya pun seseorang memiliki 99 macam kejahatan dan dosa yang pernah diperbuat, dan ternyata hanya terringgal 1 perbuatan saja sisanya yaitu yakin dan beriman kepada Allah, niscaya Allah tidak menutup pintu pengampunanNya untuk 99 perbuatan dosa yang pernah dilakukan orang tersebut.

Mengapa iman dan tauhid kepada Allah merupakan prasyarat bagi diampuninya dosa? Hal ini karena pada hakekatnya setiap manusia itu berasal dari Allah dan kepadaNya lah kita semua akan dikembalikan.

فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS 36:83)

Jadi Allah adalah titik asal dan juga titik akhir tempat dikembalikannya setiap mahluk. Semua mahluk berasal dari Allh swt, Dialah titik asal mula pertama, kemudian tiap-tiap mahluk tersebut mengembara kemana-mana dalam mengarungi kehidupan ini. Ada yang jauh tersesat dari Allah, ada yang senantiasa dekat dengan Allah. Berupa-rupa macamnya, dan beragam arah perjalanan hidupnya.

Setiap mahluk yang sudah mengembara dalam perjalanan hidupnya, jauh dari titik asal semula yaitu Allah swt, maka suatu hari nanti harus dikembalikan kepada titik asal mulanya. Nah, sekarang coba kita bayangkan perjalanan hidup yang telah kita lakukan. Bayangkan segala lika-liku kehidupan yang telah kita lalui. Betapa sedemikian panjang jalan hidup yang telah kita tempuh. Ada yang merupakan perbuatan baik dan berpahala, ada juga yang merupakan perbuatan dosa.

Nah, dari titik kehidupan kita itu, maka untuk bisa kembali ke titik asal mulanya ada 2 cara. Cara pertama adalah dengan menyusuri kembali jalan yang pernah kita lalui sebelumnya. Kalau dalam perjalanan tersebut kita pernah memukul orang, maka untuk menempuh jalan kembali kita harus dipukul orang. Begitulah seterusnya dengan cara yang sebaliknya. Maka suatu waktu nanti, pasti kita akan kembali ke titik asal mula kita berangkat, yaitu Allah swt.

Segala hal kebaikan yang pernah kita perbuat akan dibalas, demikian juga setiap perbuatan buruk yang pernah kita perbuat di dalam perjalanan hidup kita akan dibalas pula. Berjalan ke arah sebaliknya, hingga kita sampai ke titik dimana kita dahulu memulai perjalanan hidup. Inilah maknanya dari ayat al-Quran berikut ini.

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS 99:7-8)

Demikianlah makna dari ayat di atas, yaitu membalas setiap perbuatan manusia agar dia bisa kembali kepada titik asal mulanya.

Kemudian ada cara alternatif lainnya, yaitu cara kedua untuk bisa kembali ke titik asal semula adalah dengan menarik garis lurus dari posisi kita sekarang ini ke titik asal semula. Inilah yang disebut dengan jalan yang lurus, sirath al-Mustaqiim. Inilah yang disebut sebagai jalan pengampunan Allah swt. Segala macam perbuatan dosa yang pernah diperbuat sebelumnya diampuni Allah, sehingga dia tidak perlu menyusuri kembali lika-liku jalan yang pernah ditempuhnya. Segala macam amal perbuatannya diridhoi, semua dosa-dosanya dihapus. Maka dengan menempuh jalan yang lurus tersebut itulah, maka dia akan kembali ke titik asal semula.

Jarak terdekat dari dua titik adalah garis lurus. Itulah jalan yang paling singkat untuk kembali menuju titik mula kita semua, Allah swt.

Kedua cara di atas tadi akan sama hasilnya, yaitu sama-sama akan mencapai titik awal semula, Allah swt. Meskipun keduanya menempuh perjalanan yang berbeda dan kesulitan yang berbeda, namun hasil akhirnya sama. Yang satu menempuhnya dengan bersusah payah dan penuh dengan suka duka, yang satu lagi menempuhnya dengan suka cita saja. Namun demikian keduanya itu akan mencapai titik tujuan yang sama, yaitu Allah swt.

Nah, sekarang apa jadinya apabila seseorang tidak mempunyai atau tidak mengakui titik awal mulanya? Seseorang yang mempersekutukan Allah atau seseorang yang berbuat syirik, maka dia tidak mengakui titik awal mulanya adalah Allah. Apa jadinya apabila seseorang tidak memiliki atau tidak mengakui titik awal mulanya? Dia pasti tidak bisa kembali. Dia pasti akan tersesat selama-lamanya. Karena dia tidak memiliki titik awal mula.

Itulah sebabnya maka seseorang yang tidak memiliki titik awal mula, maka dia tidak mungkin lagi dapat kembali. Dia tidak mungkin dapat diampuni. Itulah mengapa seorang yang berbuat syirik tidak dapat diampuni.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS 4:116)

Jadi bukan karena Allah swt pilih kasih terhadap perbuatan dosa, bukan karena Allah terlampau kejam, akan tetapi karena secara logika matematika sederhana saja, tidak mungkin kita bisa menarik garis apabila kita tidak mempunyai titik awal mula untuk garis tersebut.

Demikianlah hikmah dan pelajaran rahasia dari jalan pengampunan Allah. Sebuah pelajaran berharga yang tersembunyi yang diajarkan guru kita. Sehingga dengan penjelasan yang sederhana ini, kita bisa memahami bahwa Allah sebenarnya Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia tidak bermaksud ingin menghukum kita manusia, Dia juga tidak bermaksud menzalimi kita manusia. Semua itu semata-mata dimaksudkan agar pada akhirnya semua manusia bisa kembali kepadaNya, kepada Keabadian dan Kebahagiaan Yang Kekal Selama-lamanya. Di dalam pelukan Sang Pencipta Yang Sangat Menyayangi mahlukNya tanpa batas. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 20.22