Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Jumat, 02 Juni 2017

Inilah Profil Rasul Kami

Pada suatu malam pengajian, guru kita pernah mengajarkan kepada murid-muridnya tentang sikap Sabar dalam menjalani hidup. Sabar itu bukanlah sesuatu yang hanya dipelajari secara teori saja, atau mempelajarinya dengan mengupas dan membahas dalil-dalilnya dalam al-Quran dan Hadits semata. Sikap dan sifat Sabar tidak akan dapat diperoleh dengan cara yang seperti itu.

Guru mengajarkan kepada murid-muridnya untuk mempraktekan sikap Sabar itu dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Langsung menghadapinya dalam tantangan hidup yang sesungguhnya. Bukan sekedar teori atau pembahasan dalil dari kitab semata. Inilah yang akan menempa seseorang sehingga lambat laun akan memiliki profil sifat Sabar di dalam dirinya.

Bersabar terhadap segala macam ejekan, hinaan atau pun cemoohan orang lain. Dan kemudian membalas perbuatan orang-orang yang mengejek dan membenci kita dengan berdoa kepada Allah swt agar Dia mengampuni dan menunjuki orang yang menghina kita tadi. Begitulah pengajaran Sabar yang diajarkan oleh guru kita itu. Menjadikan Sabar dan Solat menjadi penolong bagi kita dalam mengarungi cobaan di kehidupan ini.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS 2:153)

Sikap Sabar ini adalah juga telah dicontohkan oleh seorang Nabi dan Rasul Allah swt dahulu. Ketika beliau ditinggal wafat istri dan pamannya, sehingga tidak ada lagi orang yang melindungi beliau dari kekejaman orang-orang Arab Quraisy waktu itu. Kemudian beliau memutuskan untuk mencoba menyampaikan dakwahnya di kota lain, yaitu Thaif yang berjarak sekitar 60 mil dari Mekkah.

Namun apa daya, ternyata penerimaan penduduk kota Thaif terhadap dakwah beliau tidak jauh berbeda dengan para penduduk kota Mekkah. Di kota Thaif itu, beliau dicemooh, diejek, dihina dan dipermalukan dengan dilempari batu sehingga tubuh beliau berlumuran darah karena luka. Demikian juga dengan Zaid yang menemani beliau berdakwah juga dilempari batu sehingga berlumuran darah, bahkan lebih parah lagi lukanya karena rupanya Zaid menggunakan tubuhnya sebagai tameng bagi tubuh Rasul Allah tersebut.

Mendapati penghinaan dan perlakuan kasar seperti itu, lalu bagaimanakah sikap Rasul Allah tersebut? Akankah dia membalas penghinaan dan perlakuan penduduk Thaif tersebut? Apakah beliau balik mengancam dan mengintimidasi penduduk Thaif?

Tidak, beliau sama sekali tidak merasa dendam atau pun marah atas penghinaan dan perlakukan penduduk Thaif. Beliau kukuh tegar dalam kesabarannya. Ketika malaikat Jibril datang untuk menawarkan diri membalas perlakukan penduduk Thaif dengan menimpakan bukit Qubais dan Qoiqon kepada penduduk Thaif, Rasul Allah tersebut menolaknya. Beliau memaafkan penghinaan dan perlakukan kasar penduduk Thaif tersebut, dan bahkan beliau mendoakan mereka: “Ya Allah berikanlah petunjuk kepada kaum hamba, sesungguhnya mereka itu tidak memahami.”

Inilah profil dari Rasul kami, seorang Rasul yang Sabar lagi Pemaaf. Sikap dan sifatnya luhur, dan patut untuk dijadikan suri tauladan bagi seluruh manusia. Oleh sebab itu, maka guru kita mewajibkan kepada seluruh murid-muridnya untuk meneladani sikap Sabar Rasul Allah tersebut.

Jangan mudah terpancing emosi atau tersulut amarah. Apabila ada orang yang mencaci maki atau menghina kita, maka doakan lah orang tersebut sebagaimana Rasul Allah dahulu juga mendoakannya. Jangan menghiraukan keadaan zaman saat ini, apabila ada seorang ulama yang marah apabila dihina, membalas penghinaan dengan balik mengancam atau mengintimidasi, jangan hiraukan yang seperti itu.

Jangan mengikuti sifat-sifat iblis yang pendendam terhadap Adam as. Mengancam manusia, anak cucu Adam.

Kita memiliki Rasul dengan profil yang sangat Sabar dan Pemaaf, maka itulah tauladan kita. Itulah dia yang lebih layak untuk kita tiru dan ikuti. Inilah dia Profil Rasul kami. Apabila saat ini ada orang yang pendendam, gemar mengancam apabila dihina dan dicemooh, maka sesungguhnya siapakah yang sedang mereka tiru dan tauladani itu? (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.54