Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 03 Juni 2017

Waktunya Mengingat Allah

Pikiran kita adalah seperti kuda yang liar, apabila tidak ditundukan maka dia akan pergi kemana-mana semaunya. Pada saat kita sholat, sudah sering kita mengalaminya, pikiran kita tanpa kita sadari tiba-tiba melayang-layang memikirkan hal-hal lain. Sehingga sholat kita menjadi tidak khusyu dan jauh dari sholat yang bermakna.

Dan pada saat kita menyadari pikiran kita telah melayang jauh dari tempat kita sholat, maka kemudian kita berusaha menundukan pikiran kita itu. Akan tetapi kali ini kita mengalihkannya untuk memikirkan diri kita sendiri. Kita memperhatikan bacaan sholat kita, pikiran kita memperhatikan arti bacaannya, pikiran kita memperhatikan gerakan sholat kita, dst. Kita mengalihkan pikiran kita kepada diri kita sendiri.

Demikian juga yang terjadi pada ibadah-ibadah lainnya. Pada saat kita membaca al-Quran kita memerintahkan pikiran kita untuk memperhatikan tulisan al-Quran, makhrajnya, tajwidnya dan lantunannya. Kita memerintahkan hati kita untuk mendengarkan keindahan lantunan suara kita, sudah pas kah bacaannya? Sudah merdu kah suaranya? dst. Lagi-lagi kita memerintahkan pikiran dan hati kita kepada diri kita sendiri.

Begitu juga yang terjadi dengan ibadah puasa. Pada saat melaksanakan ibadah puasa, kita memikirkan agar diri kita menjalani ibadah puasa dengan sempurna. Kita memikirkan agar diri kita tidak sampai batal puasanya. Kita memikirkan diri kita pada saat nanti berbuka puasa atau makan sahur akan seperti apa, oleh sebab itu maka kita perlu untuk mempersiapkan hidangan yang banyak untuk itu. Kita, dan kebanyakan dari kita adalah seperti itu. Mahluk yang dalam ibadahnya gemar dan memiliki kecenderungan untuk hanya memikirkan dirinya sendiri.

Kalau demikian halnya, kapankah waktunya kita memikirkan dan mengingat Allah? Kapankan waktunya untuk sejenak kita melupakan diri kita, lalu mengalihkan perhatian dan perasaan jiwa dan raga kita kepada Allah?

Inilah yang diajarkan oleh guru kita. Ibadah yang paling utama itu adalah berzikir kepada Allah, mengingat Allah. Bukan mengingat diri kita sendiri.

Ibadah sholat adalah dalam rangka untuk sejenak melupakan diri kita dan kemudian mengingat Allah saja. Ibadah puasa adalah dalam rangka untuk melupakan diri kita yang ‘doyan’ makan dan minum, kemudian mengingat Allah yang tidak memerlukan makan dan minum. Begitu juga dengan membaca al-Quran adalah dalam rangka untuk mengingat Allah. Seluruh ibadah yang dilakukan adalah dalam rangka untuk mengingat Allah.

Inilah yang diingatkan Allah dalam al-Quran, bahwa ibadah sholat itu bukan untuk memperhatikan gerakan sholat kita, atau bacaan sholat kita, tetapi untuk mengingat Allah.

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS 20:14)

Lebih lanjut guru kita mengajarkan bahwa tanpa berzikir kepada Allah, maka ibadah-ibadah yang kita lakukan itu tidak ada maknanya. Yang paling utama dalam sebuah ibadah adalah aspek zikir kepada Allah, bukan gerakan, bukan bacaan atau bukan keindahan diri kita. Zikir kepada Allah, itu lah ibadah yang paling utama.

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ
وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 29:45)

Inilah yang banyak dilupakan orang. Para ustadz dan penceramah jarang sekali yang mengingatkan hal ini. Sehingga kebanyakan dari umat Islam saat ini, apabila mereka melaksanakan ibadah maka fokus utamanya adalah pada diri mereka sendiri. Sedikit sekali yang mengingat Allah.

Padahal ibadah tanpa berzikir, mengingat Allah, adalah sebuah perbuatan yang tidak bermakna. Seorang budak yang hanya memikirkan dirinya sendiri, tidak pernah memikirkan atau mengingat Tuannya, maka segala hal yang dikerjakannya tidak ada maknanya. Tuannya tidak akan meridhoi dan merasa puas dengan pekerjaan yang dilakukan oleh budak yang seperti itu.

Jadi kapankah kita akan meluangkan waktu sejenak untuk mengingat Allah? Sejenak melupakan hal-hal lainnya, melupakan diri kita sendiri, lalu kemudian fokus menghadapkan pikiran dan perasaan kita kepada Allah swt. Cukup sudah. Sekaranglah waktunya kita mengingat Allah. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 19.56