Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Minggu, 04 Juni 2017

Bekerja Juga Merupakan Ibadah

Bekerja adalah juga merupakan ibadah, itu adalah kalimat pernyataan yang mungkin sudah sering kita dengar sebelumnya. Banyak sudah hal tersebut dibahas dan diuraikan oleh para ustadz dan penceramah di pengajian-pengajian.

Ibadah itu terdiri dari 2 jenis, ibadah mahdhah (ibadah yang khusus) dan ibadah ghairu mahdhah, yaitu ibadah dalam artian yang jauh lebih umum, seperti misalnya bekerja dan mencari rezeki bisa juga termasuk dalam kategori ibadah ghairu mahdhah ini. Menurut pengajian-pengajian yang banyak membahas masalah ini, syaratnya agar sesuatu pekerjaan itu bernilai ibadah adalah niat sebelum melaksanakan pekerjaan, melakukan pekerjaan dengan cara yang baik, dan membelanjakan hasil dari pekerjaan itu untuk tujuan yang baik.

Begitulah pemahaman kebanyakan dari umat Islam saat ini dalam memaknai aktivitas bekerja sebagai sebuah ibadah. Apakah pemahaman yang seperti itu benar? Sudah tepat? Apakah dengan melaksanakan aktivitas bekerja yang seperti itu akan bernilai ibadah?

Jawabannya adalah: Tidak. Sama sekali keliru. Pemahaman tentang bekerja sebagai ibadah yang seperti di atas tadi adalah keliru dan tidak tepat. Ibadah adalah penghambaan seorang mahluk kepada Tuhannya, bukan aktivitas perbuatan seorang mahluk untuk dirinya sendiri. Jadi apabila seorang mahluk melaksanakan aktivitas bekerja, mencari nafkah untuk keperluan dirinya sendiri, maka itu bukan ibadah. Sebuah logika yang sangat sederhana bukan?

Lantas bagaimanakah caranya, agar aktivitas bekerja mencari nafkah bisa bernilai ibadah? Jawaban untuk ini adalah sebagaimana yang pernah dikatakan oleh guru kita sebelumnya. Guru kita memberi pengajaran kepada murid-muridnya untuk senantiasa berzikir, mengingat Allah di dalam hati sebanyak-banyaknya pada saat melaksanakan pekerjaan. Sebisa-bisanya dan seingat-ingatnya kita kepada Allah, maka lakukan lah zikir di dalam hati senantiasa sewaktu kita bekerja. Niscaya pekerjaan yang kita lakukan itu akan memiliki nilai ibadah.

Begitu juga yang diperintahkan Allah di dalam al-Quran. Jadi ternyata tidak ada bedanya antara perbuatan sholat dengan pekerjaan mencari nafkah. Sama-sama senantiasa mengingat Allah. Dengan demikian maka Bekerja Mencari Nafkah = Sholat = ibadah. Sama-sama senantiasa mengingat Allah swt.

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS 62:10)

Dahulu kala, sebelum Allah swt menurunkan perintah sholat, sebelum Allah swt menurunkan 10 perintahNya kepada Nabi Musa as, maka ibadah yang pertama kali diperintahkan Allah kepada Nabi Musa as dan Nabi Harun as adalah senantiasa mengingat Allah, berzikir kepada Allah. Dan jangan sampai lalai dari mengingat Allah swt.

Jadi Berzikir kepada Allah adalah termasuk ibadah yang pertama kali diperintahkan Allah kepada manusia. Tanpa berzikir mengingat Allah maka hati manusia pasti akan lalai.

اذْهَبْ أَنْتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي
“Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku.” (QS 20:42)

Begitulah rahasianya, mengapa di hadapan Firaun Nabi Musa as berani menyampaikan ajaran Tauhid dan tidak gentar menghadapi puluhan ahli-ahli sihir Firaun. Karena beliau, Nabi Musa as senantiasa berzikir, mengingat Allah. Begitulah rahasianya.

Guru mengajarkan ini. Murid-muridnya diperintahkan untuk senantiasa berzikir mengingat Allah di dalam hati. Sehingga dengan demikian maka apapun yang diperbuat dan dikerjakan akan bernilai ibadah. Begitulah intisari ibadah itu, senantiasa mengingat Allah. Dan memang sudah menjadi kewajiban seorang hamba untuk senantiasa mengingat dan memperhatikan Tuannya.

Inilah pelajaran penting yang saat ini dilupakan orang. Hampir tidak ada ustadz dan penceramah yang mengingatkan umat Islam akan hal ini. Sehingga akibatnya adalah, saat ini ada ratusan juta umat Islam di Indonesia, akan tetapi hanya segelintir kecil saja yang hatinya senantiasa berzikir mengingat Allah. Sedangkan, sebagian besar lainnya adalah hati yang lalai, hati yang mudah sekali dihasut oleh syaithan dan iblis. Sungguh sebuah ironi, Muslim tapi hatinya lalai. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 12.30