Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 19 Juni 2017

Tuhan Tidak Sedang Bermain Dadu

Tuhan tidak sedang bermain dadu, kalimat ini pertama kali diucapkan oleh Albert Einstein ketika dia mengomentari perilaku partikel sub-atomik dalam mekanika kuantum. Di alam semesta ini tidak mungkin sesuatu terjadi tanpa adanya sebab, dan sesuatu kejadian itu pastilah mengikuti aturan dan hukum tertentu, bukan secara sembarangan dan acak. Sebagaimana permainan dadu.

Ternyata tidak saja Erwin Schrodinger yang merupakan salah seorang pendukung teori mekanika kuantum, umat Islam saat ini pun secara tidak disadari merupakan pendukung teori mekanika kuantum itu. Karena ternyata saat ini banyak umat Islam yang menganggap bahwa malam Lailatul Qadr itu adalah di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, terutamanya pada tanggal-tanggal ganjil, yang turunnya itu tidak pasti dan tidak tetap.

Jadi menurut kebayakan umat Islam saat ini, apabila di tahun ini malam Lailatul Qadr jatuh pada malam ke-25 bulan Ramadhan, maka tahun depan belum tentu di tanggal yang sama. Bisa jadi jatuhnya itu pada malam ke-23 atau malam ke-27. Tidak pasti. Serba bersifat kemungkinan, sebagaimana halnya teori mekanika kuantum tadi. Yang mana hal yang demikian ini sama saja dengan menganggap Tuhan Sedang Bermain Dadu, untuk menentukan pada malam ke berapakah turunnya Lailatul Qadr tersebut.

Hmm... Tuhan sedang bermain dadu? Sungguh ini adalah sebuah pemikiran dan pemahaman yang rancu dan keliru. Seharusnya tidak demikian halnya.

Sebenarnya ada suatu cara yang lebih akurat untuk menentukan jatuhnya malam Lailatul Qadr tersebut, jadi bukan dengan cara menebak-nebak atau mengira-ngira yang sifatnya sangat subyektif. Coba kita kembalikan lagi definisi awal dari malam Lailatul Qadr itu sebagaimana yang dinyatakan Allah swt di dalam al-Quran.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam Lailatul Qadr. Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadr itu? Malam Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS 97:1-5)

Nah, menurut petunjuk Allah swt tersebut, dikatakan bahwa pada malam Lailatul Qadr tersebut tandanya ialah banyak malaikat Allah, termasuk malaikat Jibril, yang turun ke alam dunia. Jadi, mengapa kemudian tidak kita jadikan pertanda ini sebagai landasan untuk menentukan kapankah turunnya malam Lailatul Qadr itu?

Beberapa orang yang hidup di dunia ini tidak sama dengan kebanyakan manusia. Ada beberapa gelintir orang yang diberikan anugerah oleh Allah swt untuk dapat merasakan atau bahkan melihat kehadiran malaikat. Mengapa kah kita tidak memanfaatkan dan bertanya kepada orang tersebut? Sehingga dengan demikian kita akan mengetahui secara pasti kapankah kiranya malam Lailatul Qadr tersebut.

Jangan-jangan ternyata malam Lailatul Qadr yang dicari-cari kebanyakan umat Islam itu adalah bukan di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan? Apabila hal ini benar, maka bisa dibayangkan selama ini, betapa banyaknya umat Islam yang telah tertipu dan terperangkap dalam persangkaan yang keliru. Menyangka bahwa dengan bersandar pada al-Quran dan Hadits kemudian sudah merasa yang paling benar. Padahal ada ayat Allah lainnya yang selama ini tidak pernah dilihat kebanyakan umat, yaitu ayat Allah yang tertulis di alam semesta raya.

Sesuatu paham ataupun penafsiran yang tidak sesuai dengan ayat Allah yang tertulis di alam semesta raya ini, adalah paham dan penafsiran yang keliru. Tidak peduli seperti apa bunyi keterangan Hadits-nya, namun apabila ternyata fakta di alam semesta raya ini, justru pada malam ke-17 Ramadhan itulah malaikat-malaikat Allah turun ke dunia, maka itulah malam Lailatul Qadr.

Guru kita mengajarkan kepada murid-muridnya, untuk tidak berlaku taklid dan membabi buta terhadap anggapan dan pemaham kebanyakan umat Islam saat ini. Allah menurunkan petunjuk-Nya melalui kitab Allah yang tertulis, melalui petunjuk berupa ilham dan wahyu serta melalui hukum dan fakta yang terdapat di alam raya. Jadi kita juga harus memandang fakta sebagai salah satu bagian dari ayat Allah yang tidak tertulis.

Sehingga kita bisa terbebas dari kekeliruan masal. Menyangka bahwa malam Lailatul Qadr jatuh di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, padahal tidak ada bukti dan fakta yang mendukung pemaham tersebut. Tuhan tidak sedang bermain dadu. Tidak ada yang tidak pasti dan serba kebetulan dalam setiap Keputusan dan Ketetapan Allah, termasuk di dalamnya adalah Ketetapan-Nya terhadap malam Lailatul Qadr. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.58