Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 3 Juli 2017

Majelis Zikir

Saat ini berkembang banyak sekali majelis-majelis pengajian Islam dengan jumlah anggota jamaah yang semakin bertambah banyak. Namun dari sekian banyak jumlah majelis pengajian tersebut, maka kebanyakannya adalah merupakan majelis taklim yang membahas tentang keilmuan dan pengetahuan syariat Islam atau masalah kehidupan sehari-hari dan konflik dunia. Hanya segelintir saja yang merupakan majelis zikir, dan jumlahnya kian hari semakin berkurang. Karena majelis zikir ini bukan merupakan mejelis yang populer, jadi tidak terlalu banyak orang yang berminat untuk bergabung.

Majelis zikir merupakan salah satu dari kelompok mejelis yang sebenarnya paling disenangi Allah swt, karena di dalamnya sekelompok manusia bersama-sama berzikir mengingat dan memuji Allah swt. Terlebih lagi apabila di dalam zikirnya tersebut dinyatakan ikrar Syahadat, permohonan ampun dan shalawat. Majelis seperti ini merupakan majelis yang berorientasi kepada hari akhir dan kehidupan akhirat, di tengah maraknya majelis pengajian lainnya yang lebih banyak membahas masalah kehidupan dan konflik dunia saja.

Perintah zikir merupakan perintah Allah yang paling tegas untuk dilaksanakan, akan tetapi sayang kebanyakan manusia menganggap hal ini sebagai sesuatu yang ringan-ringan saja. Tidak terlalu menanggapinya dengan serius.

Dahulu kala pada zaman Rasulullah saw, ibadah haji sudah ada dan merupakan ibadah yang sebenarnya sudah ada semenjak zaman jahiliyah sebelum Islam. Pada waktu itu, ketika selesai melaksanakan ibadah haji, orang-orang Arab kemudian berkumpul di sekitar jumroh, dan mereka itu gemar sekali menyebut-nyebut kebaikan orang tua dan nenek moyang mereka. Dan ketika mereka berdoa, mereka mengharapkan suatu kebaikan, keberkahan dalam kehidupan mereka di dunia ini.

Kemudian Allah swt menyindir kebiasaan orang-orang Arab tersebut dengan menurunkan firmanNya dalam surat al-Baqarah berikut ini.

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS 2:200)

Ayat tersebut di atas sangat relevan dengan kondisi saat ini, dimana tidak banyak orang yang menganjurkan dan melaksanakan zikir sebanyak-banyaknya. Bahkan kebanyakan dari majelis pengajian yang ada saat ini mereka itu disibukan dengan pembahasan seputar masalah kehidupan dan konflik dunia.

Begitu juga dengan orang-orang yang berangkat naik haji atau pun umroh, ditengarai bahwa ternyata masih banyak juga diantara mereka yang sebenarnya memiliki niat untuk berdoa di depan al-Mutazam agar supaya diberikan kehidupan yang lebih baik di dunia ini dan keberkahan di dunia ini. Persis sama dengan yang dilakukan oleh orang-orang Arab zaman dahulu, sehingga kemudian Allah menyindir hal tersebut di akhir ayat di atas, bahwa tiadalah bagi mereka bahagian (yang menyenangkan) di kehidupan akhirat nanti.

Guru mengajarkan kepada kita untuk tidak banyak menyebut-nyebut kebaikan yang pernah kita lakukan atau yang pernah orang tua kita lakukan. Akan tetapi yang seharusnya banyak disebut-sebut adalah nama Allah dalam bentuk berzikir di dalam hati. Karena ternyata Allah adalah Pencemburu Yang Agung. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 22.28