Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 8 Juli 2017

Berzikir Menggapai Nur Allah

Tahu kah anda bahwa sebagian besar umat Islam saat ini sebenarnya masih belum mengenal Allah? Mereka kebanyakan masih meraba-raba, membuka-buka lembaran ayat-ayat al-Quran dan Hadits dalam rangka untuk mengenal Allah. Akan tetapi, kenyataannya dalam kehidupan nyata, kebanyakan umat Islam saat ini belum bisa menemukan Allah.

Bahkan terhadap segala amal ibadah yang dilakukannya sekalipun, kebanyakan umat Islam saat ini tidak pasti apakah amal ibadahnya itu diterima dan diridhoi Allah swt ataukah tidak. Kebanyakan umat Islam saat ini tidak ada yang dapat memastikan apakah ibadah puasa sebulan lamanya di bulan Ramadhan lalu diterima Allah swt atau kah tidak. Begitulah kondisinya, bahwa kebanyakan dari umat Islam saat ini adalah masih mencari-cari dimana kah gerangan Allah swt berada, dan bagaimana kah caranya berdialog dengan Allah swt.

Sebaliknya guru kita mengajarkan kepada murid-muridnya, bahwa dengan mengikuti pengajian selama ini dan mengamalkan amalan zikir sebanyak-banyaknya, maka kita seharusnya sudah bisa mengenal Allah lebih dekat lagi dan sudah bisa membuka pintu komunikasi berupa petunjuk Allah swt.

Tulisan ini adalah sekedar sekelumit pengalaman pribadi penulis dalam melaksanakan ajaran dan perintah guru kita untuk mengamalkan amalan zikir berupa Syahadat, Istighfar dan Shalawat sebanyak-banyaknya.

Guru kita pernah mengajarkan bahwa di dalam diri setiap manusia sebenarnya bisa didapatkan Nur Muhammad dan Nur Allah. Jadi bukan saja Matahari atau Bintang saja yang memancarkan cahaya, akan tetapi sebenarnya Allah itu juga memancarkan Nur atau Cahaya. Akan tetapi Nur Allah tersebut sudah pasti berbeda dengan nur Matahari atau Bintang.

Cahaya Matahari atau Bintang dapat dilihat dengan mata jasmani manusia dan hewan. Akan tetapi Cahaya Allah itu tidak bisa dilihat oleh mata jasmani, melainkan hanya bisa dilihat oleh mata ruhani atau qalbu manusia. Dan itu pun tidak setiap mata ruhani manusia bisa melihat CahayaNya, hanya orang-orang dalam keadaan tertentu saja yang mendapat kesempatan melihat CahayaNya tersebut, dan itu pun tidak setiap saat. Hanya di saat-saat tertentu saja apabila Allah swt menghendaki, Cahaya Allah tersebut bisa terlihat.

Bagi orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah, maka niscaya Allah pasti akan menuntun dan menunjukan jalan dari kegelepan menuju CahayaNya. Sesuatu yang berkebalikan dengan golongan orang-orang yang terbungkus kekufuran, maka pelindung mereka adalah syaithan yang akan membawa mereka dari Cahaya menuju kegelapan.

للَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ
مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada Cahaya. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada Cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS 2:257)

Bagi kebanyakan umat Islam saat ini, mereka mengira bahwa Cahaya dalam ayat tersebut adalah sekedar kata kiasan belaka. Karena kebanyakan dari umat Islam saat ini tidak pernah dan tidak tahu caranya berjumpa dengan Cahaya Allah tersebut. Tetapi berdasarkan informasi dari guru kita, Cahaya Allah tersebut adalah nyata, bukan sekedar kata kiasan belaka.

Pada saat kita tengah khusyu berzikir, dimana suluruh urusan duniawi sudah kita lupakan sejenak, seluruh hiruk pikuk suara di sekitar lingkungan kita sudah kita abaikan sejenak. Dimana suasana hati benar-benar hening. Sejenak tidak memikirkan apa-apa dan tidak merasakan apa-apa, hanya alunan suara zikir yang terdengar di sela-sela nafas kita. Maka di saat-saat seperti itu, apabila kita memejamkan mata, melihat ke dalam mata bathin kita sendiri, kadang-kadang Allah swt memberi kesempatan kepada kita untuk melihat Cahaya Putih bersinar dari dalam diri.

Cahaya tersebut bersinar berpendar dari dalam diri menyinari kita. Cahaya Putih yang redup. Redup karena ternyata hati dan diri kita masih penuh dengan kotoran dan dosa, sehingga sulit untuk dapat melihat Cahaya dengan jernih. Akan tetapi, Cahaya Putih tersebut, itulah yang disebut dengan Nur Allah. Bukan Allah, tetapi itu adalah CahayaNya, BayanganNya.

Apabila di suatu waktu diri kita ini berada dalam kondisi yang sangat bersih dari kotoran hati dan dosa. Apabila pada saat itu perut kita dalam keadaan kosong (paling tidak 8 jam setelah terakhir kali kita makan), maka Cahaya tadi akan tampak lebih terang, sehingga qalbu kita bisa merasakan kehadiran Cahaya Putih tersebut.

Dan apabila perut kita benar-benar dalam keadaan kosong lebih dari 18 jam, dan tubuh kita terasa lemas. Maka di saat itu, tubuh jasmani beserta seluruh organ-organ tubuh akan mengurangi aktivitasnya sampai ke level minimum. Kemudian getaran tubuh jasmani melemah dan memasuki tahapan getaran tubuh yang semakin halus. Maka kadang-kadang ketika berzikir, kita akan melihat Cahaya putih tadi bersinar dengan sangat terang di dalam bathin kita. Sedemikian terangnya, melebihi terangnya sinar matahari. Cahaya yang teramat terang benderang bersinar dari dalam, dan di balik sinarnya tersebut ada sumber sinar lagi, dan begitu seterusnya. Cahaya diatas Cahaya. Sehingga mata hati kita menjadi silau karenaNya. Akan tetapi mata hati berbeda dengan mata jasmani, tidak ada kelopak mata untuk menutupi silaunya Sinar Yang Sangat Terang. Akibatnya adalah hati kita akan terbakar oleh Cahaya tersebut, dan qalbu kita akan bergetar hebat. Sejenak kita bisa melupakan diri kita sendiri, dan setelahnya baru kita sadar, ternyata kita tengah menangis sejadi-jadinya.

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ
الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ
زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ
وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS 24:35)

Demikianlah sekedar berbagi pemahaman akan berzikir dalam rangkan untuk menggapai Cahaya Allah yang apabila Allah menghendaki, dapat dijumpai pada saat-saat kita tengah khusyu berzikir. Asalkan perut dalam keadaan kosong, tubuh dalam keadaan berpuasa dan pikiran serta hati dalam keadaan tenang, maka mudah-mudahan saja di saat tersebut Allah akan menampakan CahayaNya. Cahaya diatas Cahaya. Semua adalah atas Perkenan dan Kehendak Allah. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.58