Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Minggu, 9 Juli 2017

Seluruh Makhluk Allah Berzikir

Setiap mahluk Allah di alam semesta ini sebenarnya semuanya berzikir bertasbih kepada Allah, dengan cara mereka masing-masing yang tidak dimengerti oleh kebanyakan manusia. Hal ini diungkapkan Allah swt melalui firmanNya dalam al-Quran.

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ
لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS 17:44)

Langit, bumi, gunung-gunung, burung dan seluruh hewan, semuanya bertasbih memuji Allah dengan cara mereka masing-masing. Lalu, mengapa zikir mereka adalah bertasbih? Menurut penjelasan guru kita, hal ini dikarenakan seluruh makhluk Allah tersebut tadi tidak memiliki dosa, mereka semua taat dan patuh kepada setiap Kehendak dan Perintah Allah swt. Dengan tidak adanya dosa, maka zikir makhluk-makhluk Allah tersebut adalah bertasbih memuji Allah swt.

Demikian juga dengan para malaikat Allah, maka zikir mereka adalah juga bertasbih dan memuji Allah swt karena mereka pun termasuk dari makhluk Allah yang tidak memiliki dosa.

Hanya manusia, anak cucu keturunan Adam as, yang memiliki dosa. Hal ini disebabkan karena peran dari iblis dan bala tentaranya untuk menyesatkan manusia dari jalan yang lurus. Sebagai perwujudan dari sumpah iblis di hadapan Allah dahulu kala untuk menyesatkan anak cucu keturunan Adam dari jalan yang lurus. Oleh karena bujuk rayu dan tipu daya iblis itulah maka manusia melakukan perbuatan dosa. Nah, karena memiliki dosa, maka kemudian bentuk zikir dari manusia harus berisi permohonan ampun kepada Allah swt, beristighfar. Sehingga dengan demikian maka zikir manusia itu berbeda dengan makhluk-makhluk Allah lainnya yang tidak memiliki dosa.

Permisalan makhluk-makhluk Allah ketika mereka sedang berzikir adalah seperti perumpamaan pada cerita berikut ini.

Bayangkan, ketika kita sedang duduk sendiri tengah berzikir di malam hari yang sunyi, dengan khusyu dan mata terpejam. Maka di suasana keheningan malam seperti itu, maka yang terdengar hanyalah suara hembusan nafas kita saja. Orang yang kebetulan melihat kita saat itu, maka yang terlihat hanyalah denyutan-denyutan halus dari anggota badan kita ketika kita sedang bernafas. Padahal kita tahu, bahwa saat itu di dalam hati kita sedang khusyu berzikir memohon ampunan Allah swt, beristighfar.

Suara hati kita yang kita panjatkan di dalam bathin kita itu tidak terdengar suaranya. Orang-orang yang kebetulan ada di sekitar kita tidak dapat mendengarnya. Hanya orang-orang yang mungkin memiliki kemampuan untuk mendengar suara ruh berbicara saja yang dapat mendengar zikir kita itu.

Demikian juga halnya dengan makhluk-makhluk Allah lainnya seperti tumbuhan, hewan, gunung atau bumi. Ketika kita memperhatikan tumbuhan, dia membawa air dan mineral yang diserap dari akar-akarnya menuju dahan. Kemudian di dahan, sinar matahari melakukan fotosintesis sehingga air dan mineral tanah tadi diubah menjadi amilum, yaitu bahan untuk membentuk sel-sel tumbuhan dan melepaskan oksigen ke udara. Dari dahan kemudian zat amilum tadi disalurkan ke seluruh bagian-bagian tumbuhan. Dan begitu seterusnya proses yang terjadi selama siang hari. Orang-orang yang ada di sekitar tumbuhan saat itu hanya melihat proses penyaluran air dan mineral, fotosintesis dan kemudian distribusi zat amilum. Itu saja. Padahal sebenarnya yang terjadi adalah tumbuhan tersebut tengah melakukan zikir sebagaimana yang kita lakukan di malam yang sunyi tadi. Hanya orang-orang yang bisa mendengar suara ruh tumbuhan saja yang dapat mendengar bagaimana tumbuhan tersebut sebenarnya tengah berzikir.

Ketika kita memperhatikan hewan seperti kerbau yang sedang berdiam diri tidak melakukan kegiatan apa-apa di malam hari, kita menyangkanya bahwa mereka hanya sedang beristirahat sambil mulutnya memamah biak. Padahal kalau kita bisa mendengar bagaimana ruh kerbau tersebut berbicara kita akan mendengar bahwa sebenarnya mereka sedang berzikir memuji Allah swt dengan cara dan bahasa ruh mereka.

Burung yang terengah-engah nafasnya setelah sehabis terbang, maka boleh jadi saat itu sebenarnya di dalam hati burung dia tengah berzikir bertasbih dan memuji Allah swt. Kebanyakan kita yang tidak bisa mendengar suara ruh burung hanya mengira burung tersebut tengah beristirahat mengambil nafas saja. Padahal, di dalam hatinya burung tersebut tengah berzikir bertasbih memuji Allah swt.

Demikianlah mudah-mudahan tulisan ini menyadarkan kita semua, bahwa berzikir memuji Allah adalah suatu ibadah universal. Seluruh makhluk Allah swt melakukan ibadah ini. Seluruh makhluk Allah berzikir. Bahkan iblis sekali pun juga berzikir kepada Allah. Semuanya.

Guru kita pernah menginformasikan kepada kita, bahwa iblis sekali pun bisa ikut berzikir seperti zikir ‘Laa ilahaa illallah’. Oleh karena itulah maka guru kita mengajarkan kita untuk berzikir Syahadat, Istighfar dan Shalawat, bukan sekedar ‘Laa ilaha illallah’ saja, agar supaya jelas bedanya antara manusia dengan iblis.

Mudah-mudahan kita menyadari kedudukan diri kita sebagai makhluk Allah swt. Tahu diri, bahwa sebagai makhluk maka ibadahnya adalah berzikir. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 22.34