Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sunday, 23 Jully 2017

False Habbit

Saat ini kita hidup di dunia dengan budaya dan kebiasaan yang serba instan, serba praktis dan cenderung untuk memanjakan kita, sehingga akibatnya adalah kelalaian dan ketidakwaspadaan. Misalnya saja dahulu untuk mendapatkan hidangan seperti nasi, manusia harus bersusah payah mencari kayu bakar untuk bahan bakar memasak. Kemudian beras yang setelah dicuci harus dikukus dahulu sampai setengah matang (karon), baru kemudian setelah itu ditanak sampai matang. Sekarang di zaman modern ini orang memasak nasi cukup dengan menggunakan rice cooker saja, tinggal isi air secukupnya lalu tancapkan kabelnya ke kontak listrik, selesai. Sangat mudah, simpel dan instan.

Nah, kebiasaan instan inilah yang kemudian diterapkan juga pada cara kita beribadah kepada Allah swt. Misalnya saja pada saat kita hendak menikmati hidangan, seperti biasa kita akan berdoa sebelum makan. Lalu setelah itu? Setelah berdoa itu lalu kebanyakan dari kita menjadi lalai dari mengingat Allah, perhatian kita akan sepenuhnya tercurahkan pada kenikmatan hidangan yang kita santap, pada obrolan dengan teman makan kita atau pada pikiran kita yang tengah mengembara kemana saja. Inilah yang kemudian hendak dikoreksi oleh guru kita.

Guru kita mengajarkan bahwa kebiasaan tersebut di atas adalah keliru. Kita terjebak pada anggapan yang salah tentang berdoa sebelum makan, berdoa sebelum tidur, berdoa sebelum masuk kamar kecil, dst. Itu adalah akibat dari budaya instan, yang kemudian menghasilkan suatu pemahaman yang keliru. Seharusnya pemahaman yang benar adalah berdoa selagi makan, berdoa selagi berbaring sampai tertidur, atau berdoa selama di dalam kamar kecil.

Berdoa sebelum makan, dan kemudian setelah berdoa kita menjadi lalai adalah sesuatu kebiasaan yang keliru yang berasal dari pemahaman yang salah. Seharusnya menurut pemahaman yang benar adalah selama kita menyantap hidangan tersebut, hati kita senantiasa berdoa dan mengingat Allah. Begitulah yang diajarkan oleh guru kita.

Demikian juga pada saat kita berbaring sebelum tidur, maka guru kita mengajarkan agar di dalam hati kita senantiasa berzikir menyebut Nama Allah swt hingga akhirnya kita tertidur. Demikian juga pada saat kita di dalam kamar kecil, guru mengajarkan agar jauh di dalam hati, kita senantiasa memohon perlindungan Allah swt dari godaan syaithan, karena ternyata memang syaithan gemar sekali berkumpul di tempat yang kotor semacam kamar kecil.

Senantiasa berzikir mengingat Allah swt adalah sesuatu yang sangat penting dan esensial bagi seorang yang beriman. Di dalam al-Quran Allah swt memerintahkan agar supaya kita berzikir menyebut Nama Allah swt sebanyak-banyaknya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS 33:41)

Zaman dahulu ketika Allah swt mengutus Nabi Musa as dan Harun as untuk menemui Firaun dan pengikutnya memberi peringatan dan mengajak mereka untuk bertakwa kepada Allah swt, maka bekal utama mereka bukanlah tongkat Nabi Musa as, akan tetapi rahasia mereka berdua adalah zikir mengingat Allah swt.

اذْهَبْ أَنْتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي
“Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam berzikir mengingat-Ku.” (QS 20:42)

Demikian juga ketika Allah swt memberi perintah kepada Nabi Zakaria as ketika Dia hendak menganugerahkan keturunan kepada Nabi Zakariya as, maka diantara perintah utamanya adalah untuk tidak lalai dari berzikir menyebut Nama Allah swt sebanyak-banyaknya.

قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِي آيَةً ۖ قَالَ آيَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمْزًا ۗ
وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

“Berkata Zakariya: "Berilah aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung)". Allah berfirman: "Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan berzikirlah menyebut (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari". (QS 3:41)

Bahkan di ayat lainnya Allah menyatakan bahwa sifat yang paling utama dari Ulil Albab yaitu adalah senantiasa berzikir mengingat Allah di waktu berdiri, duduk atau pun berbaring.

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“(yaitu) orang-orang yang berzikir mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS 3:191)

Dari ayat-ayat al-Quran di atas maka jelas sekali bahwa Allah swt menginginkan agar supaya orang-orang yang beriman hendaknya senantiasa dalam keadaan berzikir mengingat atau menyebut Allah dimana saja dan kapan saja, pada saat berdiri, duduk atau pun berbaring. Membaca doa di awal sebelum kita melakukan sesuatu dan kemudian sesudahnya kita bebas untuk lalai adalah pengaruh dari produk budaya instan dan merupakan sesuatu yang keliru.

Seharusnya yang benar adalah senantiasa berdoa atau berzikir mengingat Allah di sepanjang waktu tanpa membiarkan diri kita berada dalam keadaan lalai. Karena dalam keadaan lalai itulah saat bagi iblis untuk masuk kedalam pikiran manusia untuk membisikan godaan dan hasutan yang bertujuan untuk menggelincirkan manusia dari jalan yang lurus. Jadi berdoa sebelum makan adalah sesuatu kebiasaan yang keliru, seharusnya yang benar adalah berdoa selama makan. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 01.15