Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 29 Juli 2017

Menggugat Para Ahli Kitab

Sesungguhnya jargon yang mengajak umat Islam untuk kembali kepada al-Quran dan Hadits adalah sesuatu yang keliru dan tidak tepat. Karena hal ini sama saja dengan mengajak umat Islam untuk kembali mentaati para ahli kitab, yaitu ahli kitab al-Quran dan ahli kitab Hadits. Apa saja yang dikatakan dan ditafsirkan oleh para ahli tersebut harus diikuti oleh umat.

Ironisnya, seseorang bisa menjadi teroris adalah karena yang bersangkutan merasa telah mengikuti ajaran dari al-Quran dan Hadits. Guru atau Murobinya telah mengajarkan hujah dan ajarannya berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan Hadits, menurut versi dan penafsiran serta pemikirannya sendiri. Akibatnya adalah seseorang bisa menjadi teroris dan menurutnya itu sesuai dengan al-Quran dan Hadits, padahal itu adalah sebuah kekeliruan dan kesesatan pemahaman.

Demikian juga halnya yang terjadi pada beberapa aliran sempalan yang ‘nyeleneh’ dan sesat. Mereka diajarkan oleh gurunya dengan berdasarkan penafsiran ‘nyeleneh’ gurunya itu terhadap al-Quran dan Hadits, sehingga kemudian para pengikut dan murid-muridnya mengikuti ajaran sesat tersebut dan merasa bahwa mereka telah melaksanakan ajaran menurut al-Quran dan Hadits.

Jadi dengan jargon ajakan untuk kembali kepada al-Quran dan Hadits adalah sama saja dengan mengajak umat agar taat dan mengikuti ajaran penafsiran dan pemahaman para ahli kitab al-Quran dan Hadits. Sedangkan penafsiran dan pemahaman para ahli tersebut belum tentu benar dan sesuai dengan maksud sebenarnya dari ayat al-Quran dan Hadits tadi.

Guru kita mengajarkan kepada murid-muridnya, seharusnya yang benar itu adalah kembali kepada petunjuk Allah. Karena hanya dengan petunjuk Allah itulah maka manusia akan dibimbing untuk dapat memahami dan menafsirkan al-Quran dengan benar dan tidak akan tersesat selama-lamanya. Sebagaimana amanat Allah kepada Adam dan Hawa sebelum mereka diusir dari surga.

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ
“Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS 20:123)

Saat ini banyak dari umat Islam yang tidak meyakini bahwa setelah seluruh ayat dalam al-Quran diturunkan dan setelah agama Islam ini sempurna, Allah masih menurunkan petunjukNya. Orang-orang ini meyakini bahwa cukup sudah petunjuk Allah itu semuanya sudah tertuang di dalam al-Quran dan Hadits.

Akan tetapi kenyataannya tidak lah demikian. Pemahaman dan penafsiran kita terhadap al-Quran dan Hadits tidak lah sempurna, bahkan terkesan masih jauh sekali dari maksud yang sebenarnya. Pada hari ini kita sama-sama masih menyaksikan bahwa dengan menafsirkan dan memahami al-Quran dan Hadits secara tidak benar, maka seseorang bisa saja mengikuti jalan yang sesat. Ada yang rela menjadi teroris dengan melakukan bom bunuh diri, ada yang membunuh dan merampok demi untuk mengumpulkan dana jihad, ada yang menculik dan meminta tebusan guna untuk membiayai dana peperangan, dan sebagainya. Semuanya itu adalah pekerjaan munkar dan sesat, yang dilakukan atas dalih mengikuti ajaran al-Quran dan Hadits.

Begitulah maka kemudian guru kita mengajarkan bahwa yang benar itu adalah kembali kepada petunjuk Allah, karena barang siapa yang mengikuti petunjuk Allah maka dijamin pasti tidak akan tersesat. Lalu pertanyaannya, apakah di zaman sekarang ini Allah masih akan menurunkan petunjukNya? Jawabannya adalah Ya. Barangsiapa yang benar-benar beriman dan dekat kepada Allah, maka niscaya Allah akan menurunkan petunjukNya melalui hatinya.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS 64:11)

Bagaimana caranya untuk mendapatkan petunjuk Allah? Caranya adalah dengan beriman seyakin-yakinnya kepada Allah serta berzikir mengingat Allah setiap saat, maka niscaya Allah akan menurunkan petunjukNya kedalam mata hati kita.

Tanpa petunjuk Allah, maka tidak peduli sehebat apapun ilmu seseorang terhadap kitab al-Quran dan Hadits, maka dia bisa saja salah dalam memahami dan menafsirkan ajaran kitab tersebut. Jadi petunjuk Allah itulah yang mutlak diperlukan dan merupakan hal yang lebih esensial dan lebih penting. Kalau begitu, mari kita kembali kepada menggapai petunjuk Allah swt. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.25