Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Minggu, 30 Juli 2017

Kewajiban Menjalani Ujian Allah

Dalam suatu pengajian, guru kita mengingatkan kepada murid-muridnya bahwa sudah menjadi suatu kewajiban bagi manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini untuk menghadapi ujian dari Allah swt. Ujian tersebut bisa saja dalam berbagai bentuk, dari yang berupa kenikmatan hidup sampai dengan kesengsaraan hidup. Semua itu adalah dalam rangka untuk menentukan seseorang itu akan masuk menjadi golongan yang mana.

Perumpamaannya mungkin adalah seperti halnya yang terjadi saat ini. Jumlah murid SLTA yang lulus di tahun ini dan akan mendaftar di perguruan tinggi adalah sejumlah 517 ribu siswa. Sedangkan jumlah perguruan tingginya hanya ada sekitar 78 universitas negeri, sehingga tidak mungkin menampung seluruh siswa lulusan SLTA tadi. Nah, untuk bisa menentukan siapa saja yang diterima di perguruan tinggi tadi maka diadakanlah ujian SNMPTN. Dengan sistem ujian tersebut itulah maka kemudian dapat digolongkan siswa-siswa mana saja yang akan lulus dan diterima di perguruan tinggi negeri dan mana yang tidak lulus.

Demikian juga halnya dengan perguruan tinggi yang dinamakan dengan kehidupan dunia. Maka dari setiap manusia-manusia baru yang lahir di dunia ini sekitar 140 juta per tahunnya, mana saja dari mereka yang akan lulus ujian. Sehingga saat ini, dari sekitar 7,2 milyar manusia yang hidup di muka bumi ini harus dapat digolongkan menjadi hanya beberapa golongan saja. Di dalam al-Quran disebutkan bahwa surga kira-kira berjumlah 8 dan neraka berjumlah 8. Jadi dengan demikian untuk bisa membagi 7.2 milyar manusia kedalam 16 golongan, maka diperlukan sebuah ujian di dunia ini. Nah, itulah yang disebut dengan ujian kehidupan dunia.

Siapa sajakah yang diuji Allah swt dalam kehidupan di dunia ini ? Semua manusia akan diuji Allah swt, mulai dari orang-orang kafir, orang munafik, orang mukminin sampai Nabi dan Rasul pun juga turut diuji Allah swt. Sehingga dengan demikian maka nantinya di akhirat akan ada kira-kira 16 golongan saja, yang masing-masing golongan tadi akan berbaris menuju tempat tujuan akhirnya, yaitu menuju ke 8 surga atau kah ke 8 neraka.

Di dalam surat az-Zumar Allah swt berfirman, bahwa Dia menguji seluruh manusia dengan berbagai bentuk bahaya yang menimpa, atau bisa juga dalam bentuk kenikmatan hidup dunia.

فَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِنَّا قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ ۚ
بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: "Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku". Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.” (QS 39:49)

Kemudian apabila seseorang telah menemukan kebenaran dan mengikuti jalan itu, maka dia pun selanjutnya akan diuji Allah, apakah dia termasuk orang-orang yang beriman atau kah bukan.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS 29:2-3)

Bahkan seorang Rasul seperti Nabi Ibrahim as pun tidak luput dari ujian Allah swt, ketika Allah menguji beliau melalui mimpi yang memerintahkan beliau untuk menyembelih anak kandungnya sendiri.

قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ

“sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS 37:105-106)

Demikianlah, bahwa jumlah surga dan neraka yang diciptakan Allah swt tidak tak terbatas. Dalam al-Quran hanya disebutkan sekitar 8 nama-nama surga dan 8 nama-nama neraka. Sedangkan jumlah manusia dan jin yang akan memasukinya banyak sekali, bermilyar-milyar jumlahnya. Maka dalam rangka untuk membagi manusia dan jin menjadi golongan-golongan yang jumlahnya terbatas itu, maka diperlukan suatu sistem ujian seleksi di dalam kehidupan dunia ini. Begitulah hakekat dari ujian hidup itu.

Setiap manusia yang lahir ke dunia ini akan menjalani ujian yang masing-masing orang tidak akan sama. Ada yang diuji degan ujian yang ringan dan ada yang diuji dengan ujian yang lebih berat. Tergantung dari kategori mana yang akan ditempuhnya. Ujian hidup adalah Sunatullah, sesuatu yang bersifat universal dan berlaku secara umum di seluruh alam semesta ini.

Oleh para saintis ujian kehidupan ini disebut sebagai seleksi alam. Berlaku bagi seluruh mahluk hidup, mulai dari protozoa, amuba, tumbuhan, binatang sampai dengan manusia, maka seluruh mahluk tersebut juga mengalami apa yang disebut sebagai seleksi alam. Barang siapa yang paling kuat, yang paling super, yang paling mampu beradaptasi, dan yang paling baik, maka mereka lah yang akan mewarisi kehidupan yang lebih baik di kemudian hari. Sama saja dengan ujian hidup yang sebelumnya kita bahas bukan?

Jadi di dalam kehidupan di dunia ini, semua mahluk Allah swt diharuskan untuk berlomba-lomba dalam hidup ini. Barang siapa yang paling baik, maka mereka itulah yang akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Itulah seleksi alam. Itulah Ujian Allah dalam kehidupan. Dan ini berlaku di seluruh penjuru semesta, berlaku bagi seluruh mahluk Allah swt. Karena memang ujian kehidupan adalah sesuatu yang universal. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 00.51