Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Minggu, 30 Juli 2017

Ujian Bagi Orang Beriman

Diantara berbagai macam bentuk ujian Allah swt di dalam kehidupan di dunia ini, maka diantaranya yang paling berat adalah ujian bagi orang-orang yang beriman. Karena itu adalah suatu fase untuk menentukan apakah seseorang itu benar-benar beriman kepada Allah atau kah tidak.

Nabi dan Rasul adalah orang-orang yang telah dipilih Allah swt dan mereka itu dikaruniai Allah berupa keimanan yang kuat. Mereka telah menyaksikan sendiri tanda-tanda kekuasaan Allah (ayat-ayat Allah), sehingga wajar apabila iman mereka jauh di atas rata-rata manusia.

Sebaliknya bagi orang-orang kebanyakan, khususnya para muslimin, mereka itu adalah mayoritasnya masih dalam fase menemukan tanda-tanda kebesaran Allah dalam kehidupan mereka dan mereka itu kemudian diuji Allah apakah mereka benar-benar yakin dan beriman kepada Allah atau tidak. Oleh karena itu, maka suatu ujian kecil saja sudah merupakan sesuatu yang dashyat dan mengguncang hati mereka.

Berikut ini adalah contoh kisah dari ujian Allah terhadap kaum muslimin yang terjadi di masa Rasulullah saw dahulu. Ketika itu kaum muslimin di madinah tengah digempur dan diserang oleh hampir seluruh suku di tanah Arab. Mereka semua itu bersatu padu dalam rangka untuk menghancurkan kaum muslimin di Madinah, dan mereka menamakan pasukan mereka itu dengan Sekutu. Maka atas dasar itulah turun firman Allah swt dalam surat yang bernama surat al-Ahzab (Golongan-golongan yang bersekutu).

Pada saat itu seluruh pasukan sekutu menyerbu dan mengepung kota Madinah dari berbagai arah dan penjuru, sehingga tidak mungkin ada penduduk kota yang dapat meloloskan diri dari kepungan musuh saat itu. Jumlah pasukan sekutu banyak sekali, melimpah ruah dan berlipat-lipat jumlahnya dibandingkan dengan kaum muslimin di Madinah saat itu.

Situasi yang sangat genting dan mengkhawatirkan tersebut diperburuk lagi dengan kondisi bahwa orang-orang Yahudi di Madinah dan orang-orang munafik menarik diri dari perjanjian. Mereka mundur ke belakang tidak mau ikut dalam peperangan mempertahankan kota Madinah dari serangan musuh. Sedemikian gawat dan gentingnya suasana saat itu, sehingga hampir seluruh kaum mukminin saat itu hati mereka menjadi sesak dan diliputi dengan ketakutan. Beberapa dari mereka bahkan mempertanyakan: “Mana pertolongan Allah itu?”

Demikianlah kondisi yang sangat gawat di saat itu. Musuh mengepung dari berbagai arah, dan hampir semua orang di kota Madinah sudah memperkirakan bahwa mereka akan kalah. Kehancuran sudah di depan mata. Sehingga kemudian al-Quran mengabadikan situasi saat itu dengan ayat-ayat al-Quran berikut ini.

إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا
“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.” (QS 33:10)

Maka justru pada saat itulah sebenarnya yang disebut dengan ujian Allah itu berada. Ujian yang sangat dashyat yang mengguncangkan hati para mukminin. Ujian untuk mencoba apakah mereka itu benar-benar yakin dan beriman kepada Allah swt atau tidak.

هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا
“Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (QS 33:11)

Maka kemudian dalam keadaan terkepung itulah kaum muslimin membuat parit (khandaq) sebagai strategi perang yang jitu atas usulan salah seorang sahabat Rasul, Salman al-Farisi. Dan kemudian akhirnya Allah mendatangkan bantuan yang tidak pernah disangka-sangka sebelumnya berupa angin topan dan cuaca yang sangat buruk. Sehingga dengan cuaca yang sangat buruk tersebut, pasukan sekutu mundur dan tidak bisa melancarkan serangan ke kota Madinah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا ۚ
وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” (QS 33:9)

Demikianlah kisah perang khandaq yang memberikan kepada kita suatu pelajaran yang sangat berharga. Yaitu bahwa ujian Allah itu justru terjadi di saat-saat dan kondisi keadaan yang tidak ideal, yang serba genting dan darurat. Justru di saat itulah waktu turunnya ujian Allah bagi orang-orang yang beriman.

Ujian Allah tersebut benar-benar mengguncang hati orang-orang yang beriman dengan guncangan yang sangat dashyat.

Dan di saat-saat yang genting seperti itulah, justru Rasulullah saw menunjukan kepemimpinannya yang luhur dan bijaksana, yaitu beliau membuka suatu forum musyawarah diantara para sahabat-sahabatnya untuk menentukan strategi perang apa yang harus dilakukan. Salman al-Farisi, seorang pemuda dari Persia yang baru saja masuk Islam memberikan masukan berupa strategi menggali parit, dan ternyata strategi itulah yang kemudian dipiilih Rasulullah saw untuk dilaksanakan.

Itulah suatu peristiwa penting di masa lalu yang dapat dijadikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua kaum muslimin hari ini. Di saat-saat yang genting dan Allah swt menurunkan ujianNya, maka hal yang harus kita pegang adalah: beriman dengan seyakin-yakinnya kepada Allah ->tidak mundur dari ujian ->Bermusyawarah untuk menentukan strategi ke depan ->Pertolongan Allah pasti datang. Karena memang sudah menjadi takdir dan keputusan Yang Maha Kuasa, bahwa pertolongan Allah pasti datang. Pasti ! (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 01.51