Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Minggu, 06 Agustus 2017

Kitab Suci Bukanlah Tuhan

Kitab suci itu bukanlah Tuhan, dia hanyalah pedoman untuk menuntun kita agar bisa mencapai Allah swt. Kitab suci itu tidak akan dapat memberi petunjuk apa-apa, tidak dapat membimbing dan menyelamatkan manusia. Allah lah yang dapat memberi Petunjuk dan Menyelamatkan manusia dari azab yang keras.

Akhirnya kita menyadari, bahwa dari sekian milyar manusia, bahwa dari sekian juta umat Islam di dunia saat ini, hanya tersisa sedikit saja jumlahnya orang-orang yang benar-benar beriman dan berTauhid kepada Allah swt. Sedangkan sisanya adalah orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan, orang-orang yang menyembah kahidupan dunia dan orang-orang yang menyembah ahli kitab.

Saat ini banyak dari manusia yang mereka itu bergantung sepenuhnya pada Kitab Suci. Mereka gemar sekali berdalih, dan ketika mereka mengemukakan dalil-dalil dari kitab suci maka mereka sangat bersemangat dan berapi-api. Seakan-akan mereka lebih memahami dan mengerti isi dari Kitab Suci itu dibandingkan dengan Tuhan.

Mereka para ahli kitab tersebut, menilai dan menghakimi orang lain berdasarkan dalil di dalam kitab suci. Setiap orang yang tidak sesuai dengan pemahaman mereka terhadap kitab suci, dinyatakan sebagai kafir, musryikin atau dicap sebagai penganut bid’ah. Tidak peduli bahwa orang-orang yang dicap oleh para ahli kitab itu sebagai penganut bid’ah tersebut adalah wali-wali Allah.

Mereka para ahli kitab tersebut telah menempatkan pemahaman mereka, dalil mereka yang diambil dari kitab suci itu sebagai dasar untuk menghakimi orang lain. Sebagai dasar kebenaran. Padahal pemahaman bersifat relatif dan tidak mutlak pasti benar. Mereka itu telah mempertuhankan kitab suci.

Adapun guru kita mengajarkan kepada kita, tuhan kita itu ialah Allah swt. Dia lah yang sejatinya akan membimbing dan memberi petunjuk kepada kita semua. Kitab suci hanyalah petunjuk jalan untuk dapat menemukan dan mencapai Allah swt. Bukan tujuan dan apalagi sebagai dasar untuk menghakimi orang lain.

Ketika dahulu kala, Nabi Ibrahim as meninggalkan istrinya siti Hajar seorang diri di padang pasir yang kering dan tandus tanpa ada kehidupan. Maka perbuatannya itu sama sekali tidak berdasarkan dalil kitab suci yang ada saat itu. Perbuatannya itu adalah berdasarkan Petunjuk dan Kehendak Allah swt. Dan kemudian ketika anak yang dikandung istrinya itu telah lahir dan tumbuh besar. Allah swt memerintahkan beliau untuk menyembelih anak kesayangannya itu. Menurut anda, apakah seorang bapak yang akan menyembelih anaknya itu bertentangan dengan dalil kitab suci?

Juga ketika Nabi Khidir as merusak perahu dan membuat lubang hingga perahu menjadi bocor, ketika Nabi Khidir as membunuh anak kecil, apakah semua itu menurut anda bertentangan dengan dalil kitab suci?

Mereka semua itu, para Nabi dan Rasul mengajarkan kepada kita untuk tunduk patuh kepada Allah swt dengan sepasrah-pasrahnya dan seikhlas-ikhlasnya. Apa yang mereka contohkan itu kemudian dicatat di dalam kitab suci. Jadi, jangan kemudian kita balik logikanya. Sehingga kitab suci dijadikan dasar untuk menghakimi dan menyalahkan apa-apa yang mereka lakukan. Sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli kitab dan orang-orang yang mempertuhankan kitab suci.

Saat ini, hanya sedikit dari kita, hanya segelintir saja yang tersisa dari umat manusia. Jangan kita ikut-ikutan mereka yang mempertuhankan kitab suci. Kita harus memperTuhankan Allah swt, begitulah pernyataan Syahadat kita. Dasar dari setiap gerak dan langkah hendaklah berdasarkan Petunjuk dan Kehendak Allah swt.

Sedikit kita disini, jangan takut. Tengadah, percaya bahwa Allah bersama kita.

Sebagaimana para Nabi dan para Rasul-rasul terdahulu. Di akhir perjalanan mereka, ternyata yang tersisa hanyalah pengikut yang jumlahnya sedikit saja. Ketika Nabi Nuh as mempersilahkan para pengikutnya untuk memasuki bahtera yang dibangunnya, jumlah pengikut beliau hanya sedikit saja. Bahkan anak beliau pun bukan termasuk dari para pengikutnya. Begitu juga ketika Nabi Luth as meninggalkan negeri Sodom yang diazab Allah swt, bersama beliau adalah pengikutnya yang jumlah mereka hanya sedikit saja. Bahkan istri beliau pun bukan termasuk dari para pengikutnya. Begitu juga dengan Nabi Saleh as ketika meninggalkan negeri Tsamud yang diazab Allah swt, pengikutnya hanya segelintir saja. Begitu juga dengan Nabi Hud as ketika meninggalkan kaum ‘Ad yang diazab Allah swt. Bersama beliau hanyalah segelintir pengikutnya yang sedikit.

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا
مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ ۚ

“Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman". Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (QS 11:40)

Guru kita itu bukanlah seorang Nabi atau pun Rasul. Maka tidak berlebihan apabila pada akhirnya kita mendapati takdir Allah swt bahwa pengikutnya hanyalah segelintir sedikit saja dari orang-orang yang dengan ikhlas dan penuh kesadaran ingin mengikuti jalan Iman dan Tauhid. Hanya sedikit sekali jumlahnya orang-orang yang dengan sadar berTuhankan kepada Allah swt, bukan kepada dalil kitab suci atau pun ahli kitab.

Apabila suatu saat nanti, Allah swt meng-azab negeri ini karena para penduduknya tidak beriman. Maka jangan sedih karena ternyata hanya sedikit saja jumlahnya orang-orang yang tersisa yang mengikuti jalan para Nabi dan para Rasul terdahulu. Begitulah kenyataannya dari dahulu hingga sekarang, bukan sesuatu yang aneh dan baru. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 14.37