Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 14 Agustus 2017

Masuk Islam Secara Menyeluruh

Berikut ini adalah sekedar tulisan selingan tentang bab memasuki Islam secara menyeluruh ditinjau dari sisi ibadah makan. Karena ternyata masih ada sudut pandang tentang ibadah makan yang belum banyak kita ketahui sebelumnya.

Sebelumnya, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, bahwa agama Islam yang diridhoi Allah swt ini diturunkan kepada manusia, agar supaya manusia menjadi selamat dalam mengarungi kehidupan di dunia ini yang penuh dengan tipu muslihat menyesatkan dan godaan. Adapun mahluk-mahluk Allah swt lainnya sebenarnya adalah tidak beragama Islam, seperti misalnya iblis, jin atau pun malaikat, karena mahluk-mahluk tersebut tidak ada yang mendapat perintah Allah untuk melaksanakan rukun Islam, seperti misalnya puasa di bulan Ramadhan, membayar zakat ataupun menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah.

Demikian juga halnya dengan mahluk-mahluk Allah lainnya, seperti misalnya tumbuh-tumbuhan, sayur-sayuran, buah-buahan atau pun binatang. Semua mahluk tersebut tidak menerima amanat Allah untuk melaksanakan syariat Islam sebagaimana halnya manusia, sehingga mereka tidak dapat digolongkan menjadi umat Islam. Mereka itu tidak memiliki agama.

Nah, kalau demikian halnya, maka marilah kita meninjau lebih dalam lagi sisi aktivitas menyantap makanan yang selama ini kerap kita lakukan setiap harinya.

Makanan kita biasanya terdiri dari tumbuhan, sayur mayur, buah-buahan dan hewan. Nah, sebelum masuk ke dalam rongga mulut kita, makanan tersebut tadi adalah orang lain. Bukan bagian dari diri kita. Makanan tersebut masih menjadi pihak lain, dan mereka itu belum beragama Islam. Baru setelah kita menyantapnya, maka kemudian makanan tersebut tadi mulai menjadi bagian dari diri kita.

Makanan yang semula adalah orang lain, barulah setelah dimakan akan menjadi diri kita sendiri. Ada yang menjadi daging kita, ada yang menjadi darah kita, ada yang menjadi tulang kita, dan sebagainya. Nah, apabila pada saat menyantap makanan tadi, kita tidak pernah membacakan Syahadat, maka sebagian dari tubuh kita yang dibentuk oleh makanan tadi adalah belum Islam. Karena asalnya adalah dari makanan yang belum beragama. Sehingga hal ini akan mengakibatkan bahwa ada seseorang yang hati dan jiwanya Islam, akan tetapi ternyata tubuhnya sendiri belum Islam. Karena terbentuk dari sari pati makanan yang belum beragama Islam. Sehingga agama Islam orang tadi menjadi tidak menyeluruh.

Padahal Allah swt memerintahkan agar kita semua masuk dalam agama Islam ini secara menyeluruh. Menyeluruh secara jiwa dan raga fisiknya, seluruhnya harus Islam. Nah, disinilah rupanya syaithan dan bala tentaranya berupaya untuk menyesatkan umat Islam, agar supaya jangan sampai tubuhnya juga beragama Islam. Caranya adalah dengan membuat lalai pada saat seseorang sedang menyantap makanannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS 2:208)

Jadi membaca Syahadat di dalam hati pada saat menyantap makanan adalah sesuatu hal yang sangat penting, karena makanan yang kita santap itu belum beragama maka perlu kiranya kita bacakan Syahadat di dalam hati untuk mensahkannya menjadi Islam yang kemudian menjadi bagian dari tubuh kita.

Sebagaimana dahulu sebelum kita lahir ke dunia ini, kedua orang tua kita juga mengucapkan kalimat Syahadat saat menikah, sebagai pernyataan sahnya hubungan suami dan istri. Sebagaimana juga dahulu, ruh kita ber-Syahadat di hadapan Allah swt sebelum ditiupkan kedalam jabang bayi sebagai pernyataan bahwa ruh kita itu siap untuk menjadi orang Islam dalam keadaan yang fitrah.

Begitulah setiap hal yang membentuk kelahiran dan kehidupan harus dimulai dengan kalimat Syahadat, sebagai sesuatu hukum Allah yang bersifat universal. Begitu juga dengan proses menyantap makanan yang kemudian akan melahirkan kehidupan baru. Kehidupan baru dari benda mati menjadi mahluk hidup. Perubahan dari makanan yang merupakan benda mati menjadi tubuh manusia yang merupakan mahluk hidup.

Dengan menyadari keharusan untuk senantiasa mengucapkan Syahadat di dalam hati pada saat menyantap makanan, maka pada hakekatnya kita telah meng-Islamkan benda mati yang tidak beragama. Kebaikannya sama saja dengan kebaikan seseorang yang meng-Islamkan orang yang belum beragama. Sungguh suatu kebaikan yang ternyata bisa kita lakukan setiap harinya. (AK)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 01.38