Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 19 Agustus 2017

Kenali Dulu Dirimu Baru Mengenal Allah

Begitulah kalimat yang sering kali diucapkan oleh guru kita kepada murid-muridnya, kenalilah dirimu sendiri terlebih dahulu baru kita bisa mengenal Allah. Kemudian pertanyaannya adalah pengenalan diri yang seperti apa sehingga kemudian akan menjadikan kita bisa mengenal Allah swt?

Tulisan ini hanyalah salah satu bahan masukan dan bahan renungan dalam rangka mengenal diri kita sendiri. Karena selama ini tulisan dan pendapat beberapa orang dalam hal mengenal diri sendiri ternyata justru tidak dapat menghantarkan kita kepada pengenalan kepada Allah swt.

Sehingga akibatnya ialah saat ini banyak sekali umat Islam yang sebenarnya tidak mengenal Allah swt. Mereka masih mencari-cari kebenaran sejati, dengan cara membolak-balik dalil dari Kitab al-Quran dan Hadits, kemudian menafsirkannya, mentelaah dan mendiskusikannya. Saudaraku, ketahuilah bahwa dengan metode seperti ini maka kita tidak akan sampai kepada tujuan kita, yakni mengenal Allah.

Kebanyakan umat Islam apabila dia ditanya: dimanakah Allah swt bersemayam? Maka dia akan mengangkat telunjuknya keatas dan mengira bahwa Allah swt ada di atas sana. Berikut ini adalah salah satu ayat dalam al-Quran yang mengungkap rahasia keberadaan Allah swt.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS 50:16)

Tidak ada mahluk yang dapat mendengar bisikan hati manusia yang paling dalam, tidak bagi syaithan maupun bagi malaikat sekali pun. Hanya Allah saja yang dapat mendengar bisikan hati yang paling dalam. Bagaimana mungkin Allah swt bisa mendengar bisikan hati manusia? Sedekat apakah Allah swt dengan hati manusia sehingga Dia bisa mendengarnya?

Kebanyakan manusia hanya menerima saja dengan taklid ayat tersebut di atas, mereka tidak mampu menafsirkan lebih jauh lagi bagaimana mungkin Allah swt bisa lebih dekat dibandingkan dengan urat leher manusia? Nah, itulah yang akan dibahas dalam tulisan ini, dalam rangka untuk mengenal diri sendiri.

Saudaraku, manusia itu terdiri dari jasmani dan rohani, terdiri dari materi fisik dan juga non-fisik. Jadi manusia itu sebenarnya bukan saja mahluk kasar semata, akan tetapi juga sebenarnya manusia adalah mahluk gaib. Tulisan berikut ini akan menjelaskan aspek non-fisik atau aspek gaib dari seorang manusia.

Pertama kali kita harus membebaskan diri dari prasangka dan pengetahuan yang selama ini kita miliki, yang ternyata prasangka dan pengetahuan tersebut adalah keliru. Kita mengira bahwa kita ini hidup. Padahal itu adalah sesuatu kekeliruan yang fatal. Tidak kita tidak hidup, karena sejatinya yang hidup itu ialah Allah swt (al-Hayyul al-Qayyum) dan kita manusia hanyalah meminjam sifat hidup dari Allah swt. Jadi tanpa Allah Yang Hidup maka kita dan semua mahluk itu sebenarnya adalah mati. Nah, kalau begitu coba sekarang anda merasakan hidup yang ada di dalam diri anda sendiri? Apakah bisa merasakannya? Ternyata sulit bukan?

Kita hanya bisa merasakan tarikan nafas kita, siklus peredaran darah kita, denyut nadi dan detak jantung kita. Semua itu bukanlah hidup, itu semua hanyalah tanda-tanda dari hidup. Jadi hidupnya itu sendiri ada dimana? Kebanyakan orang berpendapat bahwa hidup itu berasal dari nyawa dan hidup nyawa itu dari ruh. Tidak, tidak demikian. Itu salah. Hidup tubuh, hidup nyawa, jiwa dan ruh manusia itu berasal dari Yang Maha Hidup, Dialah Allah swt. Tanpa meminjam dari Allah Yang Hidup, maka tubuh, nyawa dan ruh manusia serta seluruh mahluk adalah mati. Sehingga dengan demikian, barangsiapa yang sudah bisa menemukan dan merasakan hidup, maka pasti dia akan mengenal Allah swt.

Contoh selanjutnya adalah penglihatan dan pendengaran manusia. Kita mengasumsikan bahwa penglihatan dan pendengaran itu adalah milik kita sendiri, berasal dari panca indera kita, berasal dari mata dan telinga kita. Tidak, tidak demikian. Itu salah. Sebab apabila kita meneliti mata kita dengan seksama, dengan mempergunakan mikroskop yang paling teliti sekalipun, kita tidak bisa menemukan didalam mata dan otak kita apa yang dinamakan dengan penglihatan itu. Demikian juga apabila kita lihat dengan mikroskop dan kita teliti telinga kita, maka tidak akan kita temukan apa yang dinamakan dengan pendengaran itu. Jadi kesimpulannya adalah, penglihatan dan pendengaran itu tidak berada di dalam mata atau telinga, tidak terdapat di dalam tubuh kita.

Pada saat kita tidur dan memejamkan mata, toh kita masih bisa memiliki penglihatan dan pendengaran di dalam mimpi kita. Ruh orang-orang suci yang telah meninggal dunia, jin dan iblis, mereka tidak memiliki mata atau telinga sebagaimana halnya manusia, akan tetapi mereka tetap dapat melihat dan mendengar. Jadi kalau demikian dari mana sebenarnya asalnya penglihatan dan pendengaran tersebut?

Saudaraku, sesungguhnya kita dan seluruh mahluk Allah itu sebenarnya hanyalah meminjam penglihatan dan pendengaran tersebut dari Allah swt. Dia lah zat yang Maha Melihat dan Maha Mendengar, dan kita semuanya hanyalah meminjam penglihatan dan pendengaran tersebut dari Allah swt.

Nah, sekarang coba anda mulai merasakan di dalam diri anda sendiri penglihatan dan pendengaran tersebut? Agak sukar bukan? Anda bisa merasakan mata atau telinga anda, anda dapat melihat atau mendengar, tetapi mana penglihatan dan pendengaran itu sendiri? Ya begitu itulah. Nah, apabila anda sudah menemukan sebenarnya mana penglihatan dan pendengaran tersebut, maka itulah Dia Yang Melihat dan Yang Mendengar. Itulah Dia Allah swt. Barulah kemudian anda bisa mengenal Allah swt.

Jadi sekarang menjadi jelas dan terang bukan? Mana yang lebih dekat antara hidup ataukah urat leher anda? Mana yang lebih dekat antara penglihatan ataukah urat leher anda? Mana yang lebih dekat antara pendengaran ataukah urat leher anda? Ya, sekarang anda menjadi paham dan mengerti.

Barangsiapa yang sudah mampu untuk menemukan hidup, penglihatan atau pun pendengaran, maka dia pasti akan mengenal Allah swt yang memiliki Hidup, Penglihatan dan Pendengaran itu. Begiutlah isi dari petuah guru kita: Kenalilah dirimu sendiri terlebih dahulu, baru kamu bisa mengenal Allah swt. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 21.45