Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 22 Agustus 2017

Menghadap Kiblat

Dahulu kala, ketika kota Mekkah masih dibawah pengaruh kekuasaan orang-orang kafir Quraisy, Masjidil Haram dipenuhi oleh patung-patung dan berhala. Saat itu Rasulullah saw dan para sahabatnya bermaksud hendak menunaikan ibadah haji ke kota Mekkah, namun dihalangi dan dilarang oleh para pemuka suku Quraisy. Sehingga setelah peristiwa itu maka Allah swt memerintahkan agar Rasulullah saw dan orang-orang Islam menghadap ke arah Masjidil Aqsa sebagai arah kiblat saat menunaikan ibadah sholat.

Pada saat Rasulullah saw dalam perjalanan dari Mekkah ke Madinah, maka saat itu beliau menunaikan ibadah sholat sunnah di atas kendaraan unta yang beliau tunggangi, sehingga kemudian arah kiblat beliau saat menunaikan ibadah sholat itu berubah-ubah mengikuti arah perjalanan unta beliau. Atas kejadian ini, maka kemudian berkenaan dengan arah kiblat Allah swt menurunkan firmanNya di surat al-Baqarah berikut ini.

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS 2:115)

Setelah beberapa waktu lamanya umat Islam mengarahkan kiblatnya ke Masjidil Aqsa, kemudian Allah swt menurunkan firmanNya yang memerintahkan Rasulullah saw dan umat Islam saat itu untuk kembali mengarahkan kiblatnya ke arah Masjidil Haram.

Berdasarkan penggalan kisah-kisah tersebut, maka pada hari ini muncul berbagai macam pertanyaan: apakah suatu kewajiban dalam melaksanakan sholat untuk menghadap ke arah Ka’bah di Masjidil Haram? Dalam hal ini guru kita mengajarkan kepada murid-muridnya agar pada saat sholat jasmani dan raga kita menghadap ke arah Ka’bah di Masjidil Haram. Akan tetapi untuk beberapa kasus dimana hal tersebut tidak memungkinkan, seperti misalnya di atas pesawat atu kereta api, maka diperbolehkan menghadap kedepan sesuai dengan arah kendaraan yang kita tumpangi.

Mengapa kita harus menghadapkan kiblat ke arah Ka’bah? Apakah Allah swt ada bersemayam di dalam Ka’bah? Guru kita menjelaskan bahwa menghadap Ka’bah semata-mata untuk menyatukan arah jasmani umat Islam saja pada saat melaksanakan ibadah sholat. Sedangkan untuk ibadahnya itu sendiri tidak diarahkan ke arah Ka’bah, karena kita bukanlah termasuk penyembah Ka’bah. Arah ibadah kita adalah kepada Allah swt, sesuai dengan ucapan yang kita lakukan di awal sholat.

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS 6:79)

Allah swt tidak bersemayam di dalam Ka’bah, sehingga tidak boleh kita menghadapkan ibadah kita ke arah Ka’bah. Meskipun fisik kita menghadap Ka’bah, akan tetapi ibadah yang kita laksanakan itu harus dihadapkan ke arah Allah Rabbul Alamin. Inilah sesuatu yang sering disalah artikan atau dimasabodohkan oleh sebagian dari umat Islam. Merasa benar kalau sudah menghadapkan arah ibadahnya ke arah Ka’bah, padahal Allah swt tidak bersemayam di dalam Ka’bah. Dan Allah swt juga tidak berada pada arah yang sama dengan arah Ka’bah.

Oleh karena Allah swt tidak bersemayam di dalam Ka’bah, maka kemudian orang-orang menyimpulkan bahwa Allah swt itu berada dimana-mana. Ini juga merupakan suatu kesimpulan yang keliru. Sebab menurut guru kita, kalau Allah swt ada dimana-mana, maka Allah itu jumlahnya banyak, tidak Esa. Ini merupakan sebuah kesimpulan yang banyak dianut oleh umat Islam, akan tetapi sebenarnya keliru.

Jadi kalau begitu dimana Allah? Kemanakah kita harus menghadapkan arah ibadah kita? Dimanakah sejatinya kiblat itu?

Berikut ini adalah penjelasan guru kita. Allah swt itu tidak memerlukan tempat dan tidak memiliki tempat. Di jagat raya ini, tidak ada satu pun tempat yang mampu menampung Allah Yang Maha Besar. Tidak ada satu pun arah yang bisa menampung Allah Yang Maha Besar. Sehingga dengan demikian maka tempat bagi Allah itu adalah Allah itu sendiri. Sehingga dengan demikian maka arah tempat kita menyembah Allah ya di arah kita bisa menemukan Allah itu sendiri.

Bagi orang-orang yang belum mengenal Allah maka pasti dia akan bingung dan kesulitan untuk menemukan Allah swt. Tapi bagi orang-orang yang beriman yang mereka itu hubungannya dekat dengan Allah, maka dia akan mengerti dan memahami dimanakah Allah dapat ditemukan. Arah dimana seseorang dapat mengenal dan menemukan Allah swt, itulah kiblat arah ibadahnya yang sejati. Allah tempat seorang hamba menyembah dan Allah juga yang disembah oleh seorang hamba. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 19.57