Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Minggu, 03 September 2017

Merenungkan Hakekat Idul Qurban

Dua hari yang lalu, kita semua melaksanakan Hari Raya Idul Adha, hari raya qurban untuk memperingati hari kemenangan Nabi Ibrahim as dalam menuntaskan ujian dari Allah swt, yaitu perintah untuk menyembelih anaknya sendiri, Ismail as. Setelah mengalami mimpi yang sama berturut-turut dalam beberapa malam, maka semakin yakinlah Nabi Ibrahim as bahwa apa yang dilihatnya di dalam mimpi tersebut merupakan perintah dari Allah swt yang harus dilaksanakannya.

Kemudian Nabi Ibrahim as menceritakan perihal mimpinya itu kepada anaknya Ismail as, dan ternyata anak beliau pun menyetujui rencana ayahnya tersebut dan mempersilahkan ayahnya untuk melaksanakan perintah Allah swt.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (QS 37:102)

Ketika Nabi Ibrahim as hendak melaksanakan perintah Allah swt tersebut, di tengah perjalanan mereka, syaithan mengganggu beliau. Pertama-tama syaithan menghasut bahwa perbuatan meyembelih anak sendiri merupakan sesuatu yang tidak ber-peri kemanusiaan dan bertentangan dengan norma masyarakat bahwa seorang ayah seharusnya mengasihi dan menyayangi anaknya, bukannya malahan menyembelihnya. Akan tetapi Nabi Ibrahim as dan anaknya Ismail as tidak termakan oleh hasutan syaithan tersebut, malahan beliau melempari syaithan tadi dengan batu.

Kemudian syaithan yang terkutuk tadi tidak putus akal. Mereka kemudian kembali menghasut Nabi Ibrahim as dan anaknya Ismail as, dengan mengatakan bahwa apa yang hendak mereka perbuat adalah sesuatu yang melanggar hukum syariat. Hukum syariat Tuhan yang diterapkan semenjak Nabi Adam as adalah melarang anak cucu adam untuk membunuh sesama manusia, sebagai akibat dari perbuatan putra Nabi Adam as yang membunuh saudaranya sendiri. Atas hasutan seperti ini pun Nabi Ibrahim as dan putranya Ismail as tidak tergoda, malahan mereka melempari syathan tadi denga batu. Perintah Allah swt adalah di atas penafsiran terhadap hukum Syariat.

Kira-kira begitulah kisah sekelumit perjalanan sejarah mengenang peristiwa Idul Adha, tanggal 10 Zulhijah, hari dimana Nabi Ibrahim as merayakan kemenangan atas lulusnya beliau dari ujian Allah swt dan dari hasutan serta godaan syaithan yang terkutuk.

Nabi Ibrahim as menyadari bahwa perintah Allah swt adalah di atas segala-galanya. Menyembelih anak adalah perbuatan yang dilarang oleh Syariat, akan tetapi Nabi Ibrahim as tidak ‘bertuhankan’ pada penafsiran terhadap Syariat, pada Kitab atau pada dalil, beliau ‘berTuhankan’ kepada Allah swt. Oleh sebab itu, maka meskipun apa yang akan dilaksanakan beliau merupakan sesuatu yang bertentangan dengan penafsiran hukum Syariat, akan tetapi beliau menyadari sepenuhnya bahwa perintah Allah swt adalah di atas segala-galanya.

Itulah milah dan misi dari ajaran Nabi Ibrahim as, yaitu mengajak manusia untuk berTuhankan kepada Allah Yang Maha Esa, bukan kepada penafsiran manusia terhadap dalil dan penafsiran terhadap hukum Syariat.

Tuhan itulah yang harus ditaati oleh Nabi Ibrahim as, bukan Syariat. Karena Syariat itu pada hakekatnya adalah bertujuan untuk menuntun dan membimbing manusia kepada Allah swt, Tuhan Yang Sebenarnya. Bukan sebaliknya, bukannya Syariat yang kemudian ‘dipertuhankan’ sehingga segala sesuatu yang bertentangan dengan Syariat itu sudah pasti salah. Syariat adalah jalan manusia menuju Tuhan, agar supaya manusia itu dekat dan dapat berhubungan dengan Tuhan, berpedoman pada petunjuk Tuhan. Bukan berpedoman pada penafsiran manusia terhadap hukum Syariat.

Pada hari raya Idul Adha dua hari yang lalu, seorang penceramah bergelar Doktor menyampaikan khutbah kepada jamaah sholat Id agar supaya umat Islam saat ini menegakan Khilafah berdasarkan Syariat di negeri ini.

Sungguh ironis. Padahal, pada hari itu tanggal 10 Zulhijah, jutaan jamaah haji tengah melemparkan jumroh di tanah suci Mekkah, melempari syaithan yang pernah menghasut Nabi Ibrahim as untuk mengurungkan niatnya melaksanakan perintah Allah swt. Syaithan menyatakan bahwa membunuh anak sendiri adalah pelanggaran terhadap hukum Syariat. Maka di tanah air Indonesia, penulis mendengar khutbah yang justru mengajak umat Islam untuk menegakan khilafah berdasarkan Syariat Islam (baca: penafsiran terhadap Syariat Islam).

Penulis teringat akan nasehat guru kita. Bahwa apa yang telah ditinggalkan oleh para pejuang dan pendiri negeri Indonesia ini sudah merupakan hasil yang paling baik. Bahwa negeri ini memang sudah seharusnya didasarkan kepada Tuhan, bukan kepada Syariat. Itulah yang dimaksud dengan Tauhid.

Mendirikan khilafah berdasarkan syariat adalah berarti Kekuasaan negara diatur berdasarkan sistem yang didasari oleh penafsiran seseorang terhadap hukum Syariat. Mendirikan khilafah berarti menyerahkan kekuasaan negara kepada orang-orang alim yang dianggap paling mengerti dan memahami hukum Syariat. Rakyat jelata dan semuanya harus tunduk kepada orang-orang yang memegang kekuasaan berdasarkan hukum Syariat, mereka itu mengatasnamakan Tuhan padahal apa yang mereka laksanakan itu hanyalah penafsiran mereka terhadap hukum Syariat, bukan atas dasar petunjuk Allah swt itu sendiri. Itu bukanlah Tauhid, itu bukan memper-Tuhankan Allah swt Yang Maha Esa, itu adalah akal-akalan manusia agar mau diperintah oleh orang-orang ahli tafsir dan ahli dalil. Sebagaimana yang hendak didirikan oleh ISIS di negara Syiria dan Irak beberapa waktu yang lalu.

Hal seperti ini jugalah yang pernah diterapkan oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani dahulu, ketika mereka menegakan Syariat agama. Maka kemudian justru orang-orang sebenarnya dipaksa untuk tunduk kepada kekuasaan segelintir kecil ulama dan orang-orang alim mereka, atas dalih dan mengatasnamakan agama. Rakyat dipaksa untuk mematuhi aturan segelintir ulama, rahib dan pendeta mereka, sehingga dengan demikian maka seakan-akan rakyat telah mempertuhankan para ulama, rahib dan pendeta mereka.

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah....” (QS 9:31)

Sedangkan di lain pihak, Nabi Ibrahim as, Nabi Khidir as, dan seluruh Nabi dan Rasul serta orang-orang yang beriman, mereka itu memperjuangkan agar supaya manusia memperTuhankan Allah swt, bukan ulama atau para ahli kitab.

Negara yang berdasarkan Syariat akan menempatkan para ulama, rahib dan para pendeta sebagai penguasa. Sebaliknya negara yang berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa akan menempatkan Tuhan sebagai sumber Pedoman dan Pembimbing dalam penyelenggaraan negara.

Indonesia yang berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, sudah merupakan sebuah negara yang berdasarkan kepada Tuhan. Sebuah negara Tauhid. Negara yang diperjuangkan oleh seluruh Nabi dan Rasul terdahulu. Masyarakat, pejabat dan pemerintahnya harus berdasarkan kepada Bimbingan dan Petunjuk Tuhan. Bukan berdasarkan dalil atau penafsiran seseorang terhadap sesuatu ayat di dalam kitab.

Para pendahulu dan pendiri negeri ini telah berhasil memperjuangkan Indonesia kepada suatu negeri yang aman sentausa. Yang damai dan rakyat hidup rukun penuh rasa persaudaraan dan gotong royong. Mengapa mau dirusak dengan ide sebagaimana ISIS menghancurkan negeri-negeri di Syria dan Irak?

Demikianlah tulisan ini dibuat berdasarkan rasa cinta dan sayang yang dalam terhadap umat Islam di negeri ini. Di sini, di kaki gunung Guntur yang menjulang tinggi di Garut, penulis berpesan agar supaya umat Islam tidak silau dan terpukau terhadap sesuatu yang berasal dari luar. Jangan sia-siakan dan jangan dirusak apa yang sudah dicapai dengan susah payah dan diperjuangkan oleh tetes darah jutaan pejuang dan syuhada di tanah air ini. Kalau ada negeri dengan jumlah Syuhada terbanyak, maka di sinilah negeri itu, di Indonesia. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 09.13