Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 04 September 2017

Khusyu Dalam Sholat

Di tengah-tengah pengaruh yang kuat dari pemikiran para sarjana timur tengah, bahwa dikatakan oleh mereka keutamaan sholat itu hanyalah di awal waktu, lurus dan rapat dalam barisan shaf sholatnya. Itulah hal yang paling diperhatikan dan paling diutamakan menurut pendapat mereka.

Padahal dalam al-Quran jelas sekali disebutkan bahwa yang paling utama dalam sholat itu adalah khusyu, sebagaimana ayat al-Quran berikut ini.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam sholatnya.” (QS 23:1-2)

Jadi salah satu sifat dan karakter orang yang beriman adalah mereka itu khusyu dalam sholatnya. Sebagaimana yang pernah diceritakan dalam kitab shirah para sahabat Rasulullah saw dahulu, bahwa ketika Ali bin Abi Thalib ra terkena panah di kakinya, maka untuk mencabut sisa anak panah yang tertinggal dan harus mengakibatkan luka pada daging dan tulang beliau, dilakukan lah hal ini pada saat beliau tengah khusyu dalam sholatnya.

Beberapa orang sarjana muslim kemudian meragukan cerita kisah ini, dikarenakan mereka tidak pernah mendapati sholat yang khusyu sedemikian rupa sehingga mampu mengalahkan rasa sakit akibat dicabutnya sisa anak panah dari dalam tubuh sayidina Ali bin Abi Thalib ra. Menurut mereka khusyu adalah sesuatu yang biasa-biasa saja.

Cerita dan kisah tentang ini juga pernah dibicarakan dan dibahas oleh guru kita di suatu malam pengajian. Memang kebanyakan dari pendapat orang-orang sekarang menyatakan bahwa khusyu dalam sholat adalah sesuatu yang biasa-biasa saja, tidak perlu sampai kepada level menghilangkan rasa sakit sebagaimana saat dicabutnya sisa anak panah dari tubuh sayidina Ali bin Abi Thalib ra tadi. Khusyu adalah sesuatu yang dianggapnya sebagai hal yang ringan dan wajar-wajar saja.

Padahal khusyu adalah sesuatu yang sangat penting sekali. Pada saat sholat, pada saat berzikir, pada saat mengingat Allah swt, maka pada saat itu kita harus mampu untuk sejenak melupakan diri kita sendiri. Fokus dan memusatkan hati serta fikiran hanya tertuju kepada Allah swt saja. Nah, apabila sudah mampu untuk melepaskan diri dari ikatan jasmani, mengalihkan perhatian hanya kepada Allah swt saja, maka apa saja yang terjadi pada badan kita akan hilang sirna. Rasa dan perhatian kita atas badan jasmani akan hilang. Itulah yang dinamakan fana.

Dalam keadaan khusyu tersebut itulah, maka apa saja yang terjadi pada badan akan tidak terasa. Bahkan apabila penglihatan bathin kita mencapai Nur dari Allah swt, maka mata akan mengeluarkan air mata dengan sendirinya. Tidak dibuat-buat dan bukan karena sedih atau dibuat seperti orang sedih atau ketakutan.

Nanti di saat-saat sakaratul maut, ketika nyawa dicabut dari badan jasmani, maka seluruh rasa jasmani akan ditarik keluar. Rasanya akan sakit bukan kepalang. Bagi orang-orang yang lalai dalam sholatnya, maka mereka akan merasakan sakit yang luar biasa.

Akan tetapi sebaliknya, bagi orang-orang beriman yang mereka itu telah terlatih dan terbiasa khusyu dalam sholatnya. Hal yang demikian menjadi mudah baginya. Mereka sudah terbiasa untuk mampu melupakan badan dan raga mereka, menghilangkan rasa jasmani mereka. Sehingga menjadi mudah dan tidak terasa apa-apa ketika nyawa dicabut dari badannya. Mulus sebagaimana rambut yang dicabut dari adonan nasi. Dengan muka berseri dan bibir yang tersenyum, begitulah kiranya seorang yang beriman akan pergi meninggalkan dunia selama-lamanya.

Jadi menjadi jelas kiranya. Mengapa saat sakaratul maut kita mendapati ada orang yang melotot matanya dan menjerit-jerit kesakitan serta kepayahan. Namun di lain pihak ada juga orang yang justru terseyum bahagia dan berseri-seri raut muka mereka saat menjelang ajalnya. Begitulah kiranya maka dengan demikian menjadi jelas penjelasannya. Jadi ternyata tidak ada yang ajaib dan sim sala bim di dalam hal bergama. Semuanya serba jelas dan bisa diterima oleh akal.

Hanya orang-orang beriman saja, orang-orang yang kerap mengingat Allah swt yang mampu mencapai khusyu dalam sholatnya. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 19.44