Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Kamis, 07 September 2017

Setiap Manusia Memiliki Kedudukan Yang Berbeda

Di dalam pandangan Allah swt, setiap manusia memiliki kedudukan yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Tergantung dari ketakwaan dan kondisi dari tiap-tiap manusia tersebut. Ada yang hubungannya dekat sekali oleh karena ketakwaannya yang tinggi kepada Allah, dan ada pula yang jauh sekali oleh karena pembangkangannya dari jalan ketakwaan.

Demikian juga halnya dalam masalah ibadah, setiap orang memiliki kedudukannya masing-masing yang berbeda dan ibadahnya pun berbeda-beda pula. Tergantung dari kedudukan orang tersebut. Tidak perlu harus sama. Misalnya saja pada kisah masa kecil imam Syafi’i berikut ini. Semenjak kecil imam Syafi’i telah dikenal merupakan anak yang cerdas, beliau telah hafal al-Quran dan beberapa kitab hadits semenjak usia yang masih kecil.

Ketika bulan Ramadhan tiba, beliau kerap diminta oleh penduduk di sekitarnya untuk memberikan ceramah. Dan diantara isi ceramah beliau saat itu adalah kewajiban umat Islam untuk melaksanakan puasa di bulan Ramadhan sebagaimana ayat al-Quran berikut ini.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS 2:183)

Nah, alkisah cerita kemudian setelah memberikan ceramah tentang kewajiban puasa Ramadhan tersebut, beliau pergi ke pasar. Di pasar itulah kemudian beliau membeli makanan dan menyantap makanan di tengah-tengah penduduk muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Mendapati hal ini maka sontak kemudian orang-orang di pasar tersebut terperangah dan bertanya kepada imam Syafi’i mengapa beliau berbuat demikian. Mengapa sehabis memberikan ceramah tentang kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan kemudian justru beliau menyantap makanan di siang hari. Tidak berpuasa.

Kemudian beliau, imam Syafi’i menjawab bahwa usianya saat itu baru delapan tahun. Beliau masih kecil dan belum berusia akil baligh, sehingga bagi beliau berpuasa di bulan Ramadhan adalah belum menjadi kewajiban. Itulah mengapa beliau tidak berpuasa di bulan Ramadhan.

Sekelumit kisah ini menceritakan kepada kita, bahwa setiap manusia memiliki kedudukan dan kondisi yang tidak sama, sehingga dengan demikian maka ibadahnya pun juga tidak perlu harus sama. Kondisi dalam bepergian, kondisi kesehatan, kondisi tubuh , usia seseorang dan sebagainya, akan menentukan apakah seseorang memiliki kewajiban berpuasa atau ibadah tertentu atau kah tidak. Bagi setiap orang tidak perlu harus sama.

Demikianlah, menyadari kenyataan bahwa setiap orang memiliki kedudukan yang berbeda-beda dan ibadah yang berbeda-beda pula, maka kita diwajibkan untuk menjalankan ibadah yang diwajibkan atas diri kita sendiri. Jangan usil menghina ibadahnya orang lain, dan jangan pula meniru atau mengikuti ibadahnya orang lain yang bukan merupakan kewajiban kita.

Bukan saja manusia, bahkan hewan, tumbuhan sampai malaikat sekalipun memiliki kedudukan dan kondisi yang berbeda-beda pula. Setiap mahluk memiliki kewajiban ibadahnya masing-masing yang berbeda satu dengan yang lainnya. (AK/An)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 04.40