Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 09 September 2017

Istigfar Perjuangan Seumur Hidup

Kebanyakan orang merasa apabila mereka telah memohon ampun kepada Allah swt, maka dengan serta merta mereka mengira bahwa Allah swt sudah mengampuni dosa dan kesalahannya. Kebanyakan manusia menginginkan hal yang instan dan seketika. Asalkan sudah berpuasa di bulan Ramadhan, asalkan sudah melaksanakan ibadah sholat tahajud di malam hari, lalu dia memohon ampunan Allah swt, maka dia kemudian mengira bahwa Allah swt sudah mengampuni dosa-dosanya. Sehingga kemudian dia merasa dirinya sudah menjadi orang yang suci dan bersih dari dosa-dosa. Selanjutnya karena merasa sudah menjadi orang yang suci, maka kemudian dia bebas menilai dan menghakimi orang lain yang dianggapnya masih penuh dengan dosa. Begitulah kebanyakan yang terjadi pada orang-orang pada hari ini.

Akan tetapi tidak, tidak seperti itu sebenarnya. Itu adalah suatu prasangka dan cara berfikir yang keliru dari kebanyakan orang-orang pada hari ini. Dari mana seseorang mengetahui bahwa dosa dan kesalahannya sudah diampuni Allah swt? Apakah dia pernah menerima informasi dari Allah swt bahwa segala dosa-dosanya telah diampuni? Jadi dari mana dia mengetahui bahwa dosa-dosanya sudah diampuni? Hanya berdasarkan olah pikir atau karena berdasarkan dalil semata?

Saudara-sadaraku sekalian, pemahaman seperti di atas tadi itu adalah keliru dan tidak benar. Guru kita tidak mengajarkan yang seperti itu. Istigfar dan bertobat adalah sebuah perjuangan seumur hidup kita. Menggapai ampunan Allah swt adalah perbuatan yang lama dan perbuatan yang harus dilakukan terus menerus sepanjang hidup kita. Bukan perbuatan yang dilakukan sekali atau dua kali saja.

Nabi Adam as, setelah beliau melakukan dosa yaitu melanggar larangan Allah swt ketika beliau menuruti kemauan istrinya atas hasutan iblis untuk memakan buah dari pohon yang dilarang Allah swt, maka kemudian Allah swt mengusir beliau dari kebun surga. Beliau dan istri beliau, siti Hawa, kemudian memohon ampun kepada Allah swt terus menerus seumur hidup mereka.

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Paduka tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS 7:23)

Dikisahkan bahwa umur Nabi Adam as adalah 1000 tahun qomariyah (43 tahun tinggal di kebun surga dan 957 tahun hidup di dunia) dan baru di sekitar akhir hayat beliau itulah Allah swt mengampuni dosa dan kesalahan beliau dan istrinya. Perjuangan bertobat dan memohon ampun adalah perjuangan seumur hidup, sampai akhirnya Allah swt mengampuni dosa dan kesalahan beliau. Jadi bukan sesuatu yang segera dan instan belaka, sebagaimana prasangka kebanyakan orang saat ini.

Setiap manusia memiliki dosa dan kesalahan, oleh sebab itu maka semua manusia wajib untuk memohon ampunan Allah swt. Tidak terkecuali para Nabi dan para Rasul pun melakukan permohonan ampun kepada Allah swt seumur hidup mereka. Karena memang beristigfar itu adalah perjuangan seumur hidup.

Rasulullah SAW bersabda, "Hai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah dan beristighfarlah kepada-Nya, karena aku bertaubat dan beristighfar kepada-Nya SERATUS kali dalam sehari" (HR. Muslim)

Demikianlah ajaran dan perintah guru kita kepada murid-muridnya, untuk senantiasa melaksanakan istigfar setiap harinya, terus menerus sepanjang hidup kita. Karena mencapai ampunan Allah swt adalah sesuatu perjuangan seumur hidup. Menggapai ampunan Allah swt adalah bukan pekerjaan yang instan atau mudah, tetapi juga bukan merupakan sesuatu yang mustahil untuk diraih. Karena Allah swt adalah Maha Pengampun dan Penerima Tobat hambaNya. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 16.38